IMAN bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi harus berbuah manfaat bagi sesama. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa tauhid dan kepedulian sosial adalah dua perkara paling utama, sekaligus penentu kemuliaan seorang hamba di sisi Allah.
عن النبي صلى الله عليه وسلم أَنه قال: «خَصْلَتَانِ عن النبي صلى الله عليه وسلم أَنه قال: «خَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا: الْإِيمَانُ بِاللهِ وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِينَ
Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, telah bersabda: ” Dua perkara yang tidak ada satupun dapat melebihi keutamaan dari keduanya yaitu, iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada kaum muslimin..
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan
مَنْ أَصْبَحَ لَا يَنْوِي الظُّلْمَ عَلَى أَحَدٍ غُفِرَ لَهُ مَا جَنَى، وَمَنْ أَصْبَحَ يَنْوِي نُصْرَةَ الْمَظْلُومِ وَقَضَاءَ حَاجَةِ الْمُسْلِمِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرٍ حَجَّةٍ مَبْرُورَةٍ
“Barangsiapa bangun pagi dengan maksud tidak untuk berbuat dzalim (aniaya) kepada seseorang, maka perbuatan dosa yang telah dilakukannya akan diampuni (oleh Allah). Dan barangsiapa bangun pagi dengan maksud untuk menolong orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan orang muslim, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya haji yang mabrur.”
Dan juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَحَبُّ الْعِبَادِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُ النَّاسِ لِلنَّاسِ، وَأَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى قَلْبِ الْمُؤْمِنِ، يَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كَرْبًا، أَوْ يَقْضِي لَهُ دَيْنًا. وَخَصْلَتَانِ لَا شَيْءٍ أَخْبَثُ (أي أنجس مِنْهُمَا) : الشِّرْكُ بِاللهِ وَالضُّرُّ بِالْمُسْلِمِينَ
Baca Juga: Syukur yang Menyelamatkan, Pergaulan yang Menentukan
“Orang-orang yang paling dicintai oleh Allah. Adalah orang yang paling berguna bagi sesamanya, dan perbuatan yang paling utama adalah membuat hati seorang mukmin menjadi senang dengan menghilangkan rasa lapar, meringankan kesulitan atau melunasi hutangnya. Dan dua perkara yang tidak ada satupun yang dapat melebihi kejahatannya, yaitu menyekutukan Allah dan menyengsarakan kaum muslimin.”
(Hadis-hadis di atas ditulis oleh Imam An Nawawi dalam kitab syarahnya “Nashoihul Ibad” Bab Dua Perkara, halaman 4).
Hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ tersebut menghadirkan satu bangunan ajaran yang utuh: poros vertikal kepada Allah dan poros horizontal kepada manusia.
Di satu sisi, Rasulullah ﷺ menegaskan, “Dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang melebihi keutamaannya: iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada kaum muslimin.”
Baca Juga: Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan
Di sisi lain, beliau mengingatkan bahwa dua perkara paling buruk adalah syirik kepada Allah dan menyakiti kaum muslimin. Seolah-olah Rasulullah ﷺ sedang menggambar dua kutub kehidupan: tauhid dan kemaslahatan, serta syirik dan kezaliman.
Iman kepada Allah adalah fondasi segala kebaikan. Ia bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi keyakinan yang meresap ke dalam hati dan tercermin dalam perilaku.
Iman menumbuhkan rasa diawasi, rasa takut berbuat dosa, sekaligus harapan akan rahmat-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya.
Imanlah yang menjadikan ibadah bermakna. Tanpa iman, amal menjadi hampa; tanpa tauhid, kebaikan kehilangan arah.
Baca Juga: Rahasia Amal Diterima: Hati yang Merasa Amalnya Belum Seberapa
Namun hadis ini tidak berhenti pada iman. Rasulullah ﷺ langsung menyandingkannya dengan “memberi manfaat kepada kaum muslimin.” Ini menunjukkan bahwa iman sejati tidak berhenti di sajadah, tetapi bergerak dalam kehidupan sosial.
Seorang mukmin tidak cukup hanya rajin shalat dan puasa; ia harus hadir sebagai solusi bagi orang lain. Ia menjadi penolong, bukan beban. Ia menjadi cahaya, bukan sumber luka.
Sabda Nabi ﷺ tentang niat di pagi hari sangat menggugah. “Barangsiapa bangun pagi dengan niat tidak menzalimi siapa pun, maka diampuni dosanya.” Betapa sederhana, tetapi dalam.
Islam memulai perubahan dari niat. Ketika seseorang menata hatinya setiap pagi untuk tidak menyakiti orang lain, ia sedang membersihkan jiwanya.
Baca Juga: Tatacara Shalat Gerhana
Tidak menzalimi berarti menahan lisan dari mencaci, menahan tangan dari merugikan, dan menahan hati dari dengki. Ini adalah jihad batin yang berat, tetapi sangat mulia.
Lebih tinggi lagi, Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa yang bangun pagi dengan niat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang muslim, ia mendapat pahala seperti haji mabrur.
Haji mabrur adalah puncak ibadah yang balasannya surga. Dengan kata lain, kepedulian sosial memiliki nilai spiritual yang luar biasa. Menolong bukan sekadar aktivitas kemanusiaan, tetapi ibadah yang mendekatkan ke surga.
Hadis berikutnya semakin memperjelas: “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Ukuran kemuliaan dalam Islam bukan pada jabatan, bukan pada kekayaan, bukan pula pada popularitas, melainkan pada manfaat.
Baca Juga: Gerhana Bulan, Sebuah Tanda Kebesaran Allah
Seorang guru yang mendidik dengan tulus, pedagang yang jujur, pemimpin yang adil, atau tetangga yang ringan tangan, semuanya bisa menjadi hamba paling dicintai Allah jika ia membawa manfaat.
Rasulullah ﷺ juga menyebutkan bentuk-bentuk manfaat itu secara konkret, yaitu menghilangkan lapar, meringankan kesulitan, melunasi utang, memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin.
Ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis. Kebahagiaan bukan sekadar kata-kata motivasi, tetapi tindakan nyata.
Memberi makan yang lapar, membantu biaya pengobatan, atau sekadar hadir mendengarkan keluh kesah adalah amal yang sangat agung.
Baca Juga: Boleh Nadzar Shalat Di Baitul Maqdis, Hadits Keenam 40 Hadits Tentang Al-Aqsa
Sebaliknya, dua perkara paling buruk adalah syirik dan menyengsarakan kaum muslimin.
Syirik merusak hubungan dengan Allah, sementara menyakiti sesama merusak hubungan dengan manusia. Syirik menghancurkan fondasi iman; kezaliman menghancurkan fondasi masyarakat.
Jika tauhid dan manfaat membangun peradaban, maka syirik dan kezaliman meruntuhkannya.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan hadis ini terasa sangat relevan. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi orang beriman.
Baca Juga: Jangan Biarkan Nafsu Memimpin Hidupmu
Tidak hanya membutuhkan profesional yang kompeten, tetapi pribadi yang peduli. Di tengah kompetisi dan individualisme, Rasulullah ﷺ mengajarkan solidaritas. Di tengah hiruk-pikuk kepentingan pribadi, beliau mengajarkan empati.
Iman kepada Allah melahirkan integritas. Orang yang yakin kepada Allah tidak akan mudah korup, tidak akan tega menipu, dan tidak akan ringan menzalimi.
Sementara memberi manfaat melahirkan kepercayaan sosial. Masyarakat yang saling menolong akan kokoh dan harmonis.
Di sinilah kita melihat bahwa hadis ini bukan sekadar nasihat spiritual, melainkan peta jalan peradaban.
Baca Juga: Pembebasan Al-Aqsa Tanggung Jawab Seluruh Umat Islam
Setiap pagi adalah kesempatan baru. Kita bisa memilih menjadi hamba yang hanya sibuk dengan urusan diri sendiri, atau menjadi hamba yang membawa kebaikan bagi orang lain.
Kita bisa menata niat untuk tidak menyakiti, bahkan bertekad menjadi penolong. Dan ketika niat itu tulus karena Allah, maka setiap langkah kecil bernilai besar di sisi-Nya.
Akhirnya, hadis-hadis ini mengajarkan keseimbangan: kuat dalam tauhid, luas dalam manfaat. Tinggi dalam ibadah, lembut dalam akhlak.
Karena iman tanpa kepedulian akan kering, dan kepedulian tanpa iman akan kehilangan arah. Maka jadikanlah iman sebagai akar, dan manfaat sebagai buah.
Baca Juga: Dari Budak Menjadi Raja: Ketika Sabar Mengalahkan Syahwat
Dari akar tauhid yang kokoh, tumbuhlah pohon kebaikan yang rindang, yang menaungi banyak jiwa dan menghadirkan rahmat bagi semesta.
Terlebih pada bulan suci Ramadhan ini, rahasia dicintai Allah dengan iman dan manfaat bagi sesama akan terasa lebih ringan dikerjakan, mengingat berkahnya Ramadhan. Allahu a’lam. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic