Refleksi Sewindu Rasil: Untuk Islam Yang Satu

Jakarta, MINA – Radio dan TV Silaturahim (Rasil) yang mengudara di frekuensi 720 AM, memasuki usia delapan tahun. Tepatnya mulai 9 September 2009, ketika awal mengudara.

Seiring berjalannya waktu, pada usianya yang belia namun semakin hari terus tumbuh tersebut, radio ini menghadapi alang dan rintang yang menjadi bumbu pelengkap perjalanannya.

Kini radio dakwah beralamat di Jalan Kalimanggis, Cibubur itu memiliki jutaan pendengar dari berbagai penjuru tanah air, hingga ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Hongkong.

Rasil sejak awal didirikan dengan tujuan untuk menegakkan kalimat Allah, keadilan, memperjuangan kebenaran dan menyambung serta merajut tali persaudaraan diantara kaum muslim,  tanpa melihat kelompok, golongan, sekte dan mazhab, dan tidak berprinsip pada kefanatikan.

Radio Silaturahim juga dengan konsisten memegang teguh konsep “Untuk Islam Yang Satu” sebagai model penyebaran dakwah melalui media radio guna mencapai tujuan menjadi radio dakwah yang dapat mempersatukan dan memberdayakan potensi ummat  untuk kejayaan Islam.

“Sewindu Rasil Bersamamu”, begitu kalimat penggugah pada tahun 2017, radio yang kini memiliki pemancar tambahan di beberapa kota di antaranya Sukabumi, Semarang, Batam dan Pontianak.

Untuk lebih jauh mengenal perjalanan Rasil, berikut Dialog Rasil bersama pendiri dan pengelola Rasil, yang ditayangkan pada edisi Sewindu Rasil, 9 September 2017 lalu, yang dilaporkan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency).

Narasumber dialog bersama Para Pendiri Rasil, Habib Husein bin Hamid Alatas (Pengasuh Kajian Al-Quran), Farid Thalib (owner), dan Ichsan Thalib (Direktur Rasil) serta CEO Rasil Herri Nurdi.

Sewindu Rasil seperti apa perjalanannya?

Ichsan Thalib : Awalnya dimulai dari diskusi dalam satu mobil. Kami sekeluarga memang sudah mendengar radio dakwah, saat itu Radio Asy-Syafi’iyah.

Waktu itu tahun 2009, kami langsung ke rumah guru kami Ustadz Habib Husein. Kami ingin memintanya ikut mendirikan radio dakwah.

Kakak kami, Farid Thalib punya teman Krisna, yang lama malang melintang di dunia radio. Kita pun bicara tentang radio dakwah.

Dananya dari mana? Ya yang penting jalan aja dulu. Kita sungguh-sungguh aja, insya Allah dan Alhamdulillah akhirnya berjalan.

Semua ini luar biasa, atas kehendak Allah, akhirnya kita menentukan nama radio ini dan kita memutuskan nama ‘silaturahim’ karena nama jalan di tempat tinggal kami ini namanya jalan Silaturahim.

Akhirnya kami memutuskan Radio Silaturahim, waktu itu tanggal 9 bulan 9 tahun 2009.

Siaran Rasil apa saja waktu itu?

Ichsan Thalib : Awalnya kita hanya murottal Al-Quran saja.

Selanjutnya, kita kenalan dengan jaringan Pesantren Al-Fatah. Ustadz-ustadz pengisi siarannya dari Ponpes Al Fatah Cileungsi, Bogor.

Kini ada sekitar 30-40 narasumber dari berbagai kalangan dan daerah yang berbeda-beda.

Bagaimana renungan untuk manajemen dan pendengar yang turut membesarkan Rasil?

Pengelola Rasil bersama Habib Rizieq (Dok Rasil)

Habib Husein: Kita memulai dari fungsi Agama Islam itu mengajak kita untuk berpegang teguh pada tali agama Allah, bukan fanatisme kelompok atau golongan.

Allah memerintahkan kita untuk menegakkan agama Allah, “Tegakkan agama Allah jangan kalian bercerai berai,” demikian arti ayat dalam Al-Quran mengingatkan kita.

Jelas sekali seruan untuk bersatu, latar belakang dapat berbeda, suku bangsa, organisasi juga berbeda, tapi tetap tujuan kita sama, agama kita satu.

Maka, kemudian lahirlah Rasil, Radio Silaturahim. Sesuai dengan namanya, merajut silaturahim antar umat Islam.

Dalam dakwah melalui Rasil yang genap delapan tahun mudah-mudahan membuka hati umat.

Sekarang mari kita berjuang, bersatu. Termasuk semua yang telah berjuang di Rasil, mulai dari host dan kru sudah melakukan yang terbaik dan insya Allah amalan yang sangat dicintai Allah, semua akan menjadi pahlawan Islam.

Kalau imbalan materi, Rasil tidak bisa menjamin. Tapi kalau kita berjuang dalam agama Allah, Allah akan beri lebih.

Ke depannya, kita bekerja lebih tulus dan ikhlas serta semangat dan istiqamah di jalan Allah.

Mudah-mudahan Allah membantu kita untuk lebih serius dan sungguh-sungguh dalam hal kebaikan ini.

Menurut Bapak bagaimana kesannya?

Farid Thalib: Ya, ketika itu masih ingat ketika awal siaran murottal Quran. Selesai adzan Subuh saya lari ke studio, lalu hidupkan radio, murottal Quran harus dengan artinya. Sekarang sudah cukup banyak radio seperti itu.

Saat itu bertepatan dengan kita masuk ke Gaza, Palestina (untuk membangun Rumah Sakit Indonesia oleh MER-C). Saat itu kita mulai berinteraksi dengan Pesantren Al-Fatah bersama pimpinan Allahuyarham Haji Muhyiddin Hamidy. Waktu itu, Al-Fatah menyiapkan diri untuk berangkat ke Gaza (untuk ikut membangun RS Indonesia).

Pada saat itulah beliau (Haji Muhyiddin Hamidy) mewakafkan da’i nya untuk bergabung dengan kita.

Waktu itu di radio kita Rasil minta selama 6 bulan pertama kerjasama. Dalam perjalanan selanjutnya, setelah itu tanpa kita sadari sudah melewati masa perjanjian.

Selanjutnya, kelanjutan perpanjangan kerjasama, kontrak dengan hati, karena ini merupakan bagian dari dakwah.

Bagaimana menjaga keistiqomahan dalam perjuangan dakwah Rasil ini?

Ustad Husein: Ya, memahami kata istiqamah, dalam Al-Quran dijelaskan istiqamah akan membuka pintu dan rahmat Allah.

Iman dan amal shoaleh masih belum cukup menjamin amalan kita, jika belum dilengkapi dengan hubungan yang baik sesama manusia.

Hidup saling berjamaah dan ikatan yang kuat serta saling mengingatkan, karena syaitan terus berupaya menghasut dan membuat kita lemah serta kelihangan semangat.

Dalam perjuangan dakwah ini, tentu perlu dana yang besar, investasi, pembangunan, gaji kru dan anggaran lainnya yang besar. Kalau berharap pada manusia, mustahil kita bisa berjalan.

Alhamdulillah, Allah saja yang menggerakan orang-orang yang membesarkan Rasil. Ada seseorang, siapa namanya tidak perlu tahu, kita semua percaya, kita tidak saling berjumpa sebelumnya, dia datang tanpa kita kenal menginfakkan hartanya sebesar 500 juta rupiah.

Dan semua terus membawa kita lebih semangat,walau dalam dakwah ini tentu begitu banyak cacian, makian, makin banyak yang menyebarkan fitnah.

Tapi, kita terus berjalan berdakwah untuk Islam yang satu. Tidak ada yang lebih baik dari Islam yang satu.

Ichsan Thalib : Ada lagi, cerita tentang dermawan radio kita. Ada investor kita di Jawa Timur dia menginvestasi alat di sana supaya di sana suaranya lebih baik.

Namun, Habib Husein selalu bilang, kita tidak boleh meminta-minta kepada seseorang, selagi Allah memberi keamanan dengan harta yang ada, maka ayo kita jalan terus.

Kisah lainnya, ada seorang pendengar yang cerita bahwa mertuanya kena kanker. Berbagai obat diupayakan untuk kesembuhan, tapi belum mendapat hasil yang baik.

Kemudian dia mencoba membiasakan mendengarkan tausiyah-tausiyah radio Rasil. Katanya, setelah mendengar ceramah-ceramah di Rasil dia yang sakit mulai optimis dan semangat lagi untuk menjalani kehidupannya.

Dari kisah itu, membuat ia semakin istiqamah. Begitu dahsyatnya radio Rasil ini bagi pendengar. Tentu hal ini semua melalui ikhtiar dan ikhtiar.

Apa harapannya setelah sewindu?

Farid Thalib: Satu hal yang saya merasa bersyukur, Habib Husein awalnya secara dakwah tidak mau ditampilkan, Namun  setelah dibujuk-bujuk, diberi penjelasan, alhamdulillah akhirnya beliau mau.

Begitu juga kita bekerjasama dengan ustadz-ustadz dari Pesntren Al-Fatah yang bekerja tanpa pamrih.

Di samping banyak lagi ustad yang lain, dan inilah salah satu bentuk dakwah kita.

Kemudian, ada teman-teman FPI Habib Rizieq dan lainnya. Beliau ikut mendorong untuk berjuang di dalam menyampaikan kebenaran melalui radio ini.

Cita-cita dan harapan kita gantungkan setinggi-tingginya. Suatu saat kita punya tv beneran tanpa satelit, di samping radio.

Kita terus berprinsip, jangan bergantung sama orang tapi sama Allah, dan ikhtiar jangan berhenti,

Ichsan Thalib : Ya, begitulah hidup ini harus berkembang. Dunia sementara, akhirat selamanya, berimbanglah dengan kehidupan yang abadi.

Dari kanan: Herri Nurdi, Habib Husein, Habib Rizieq dan Krisna Purwana (Dok Compute)

Pengalaman Ustadz selaku CEO Rasil?

Herri Nurdi : Saya pernah sampai di usir dari mimbar masjid. Tapi tetap saya berjuang dalam dakwah ini, dan masih tetap gabung di Rasil?

Mengapa? Karena saya mau berkorban, bergabung dalam dakwah ini ada kenikmatan.

Untuk itu, teman setia perlu dijaga. Harapan saya sebagai CEO, saya sangat berterimakasih kepada seluruh pendengar Rasil.

Saya juga mohon maaf jika Rasil TV masih kadang mengalami kesulitan teknis.

Ada respon pendengar Malaysia yang mengucapkan terima kasih.

Terima kasih kepada seluruh seluruh pendegar yang juga ikut menanggung beban karena fitnah yang luar biasa. Saya juga ucapkan terima kasih kepada seluruh asatidz yang dengan segala kemamapuan dan perjuangannya. Terakhir, terima kasih kepada guru-guru yang ada di Rasil.

Harapan saya Rasil itu turut serta menjaga Indonesia, sama-sama berjuang menjaga kebaikan.

Rasil ini bukan hanya milik silaturahim, Kali Manggis, tapi milik kita semua. Saya pergi ke Johor, malaysia, rupanya ada pendengar Rasil yang begitu antusias pengen banget ke Rasil. Jadi ini juga semoga menjadi silaturahim lintas negara.

Bukan hanya menjaga Indonesia, tetapi juga menjaga Malaysia dan Singapura. Sebab bagaimanapun Indonesia adalah kakak tertua.

Dalam kontek regional ini, saya ingin Rasil turut dalam mengembangkan dakwah yang lebih luas lagi di seluruh mancanegara.

Tolong, jika ada kesalahan dalam penyampaian Rasil, tegur kita.

Habib Husein: Kita selalu berdoa, mudah-mudahan Allah memberkahi perjuangan kita dalam menegakkan kalimat Allah, dan memasukkan kita di bawah naungan Allah. (R/R07/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)