Wawancara: Pembangunan RSI di Myanmar Capai 86 Persen

Pintu gerbang Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myanmar. (dok. MINA)

Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) terus berupaya menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Rakhine State, Myanmar. Hingga hari ini, Jumat (19/3), pembangunan RSI yang dimulai sejak dua tahun lalu itu sudah mencapai 86 persen.

Pembangunan RSI di Rakhine State ini adalah salah satu cara diplomasi damai yang dilakukan MER-C dalam bidang kesehatan untuk merajut kembali asa dan harapan membangun kehidupan sosial masyarakat di sana yang terkoyak akibat kerusuhan pada 2012 lalu.

Pada kesempatan kali ini, Wartawan Kantor Berita MINA Rendi Setiawan melakukan bincang-bincang ringan dengan salah satu relawan pembangunan RSI di Rakhine State Bapak Karidi yang saat ini sedang berada di Jakarta untuk menelusuri lika-liku, hambatan hingga gambaran situasi yang terjadi di Myanmar.

MINA: Bisa diceritakan progres pembangunan RSI di Myanmar?

Karidi: Alhamdulillah sampai saat ini sudah pada tahap pengerjaan platform, pemasangan keramik juga instalasi listrik. Selain itu, pemasangan jendela di rumah sakit ini juga sudah mulai. Jadi total pembangunan kurang lebih sudah mencapai 86 persen. Jadi kira-kira kurangnya 14 persen lagi akan segera kita selesaikan.

MINA: Kapan RSI ini ditargetkan rampung pengerjaannya?

Karidi: Kita sebetulnya target itu selesai pada November tahun lalu. Ini sebetulnya sudah mundur dari jadwal dikarekan beberapa hal seperti masalah material dan masalah keamanan. Selain itu, iklim yang tidak menentu juga menjadi faktor lain keterlambatan ini.

Sebagai contoh ketika terjadi musim hujan kemarin, atap dari RSI ini belum dipasang, jadi cukup mengganggu sekali dalam proses pengerjaannya. Proses sampai 86 persen ini insya Allah kita sudah bekerja secara maksimal.

MINA: Bagaimana dengan dukungan Pemerintah Myanmar selama pembangunan?

Karidi: Selama ini, komunikasi dengan pemerintah berjalan lancar. Beberapa kali mereka melakukan kunjungan untuk melihat langsung progress pembangunan.

Memang untuk masalah keamanan, pemerintah Myanmar sangat ketat dalam hal ini. Tapi hal itu tidak masalah bagi kami karena memang kami di sana dalam misi membangun rumah sakit dan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat di sana, baik yang Muslim maupun Budha.

Selama kami berada di sana untuk misi kemanusiaan, menolong yang membutuhkan, membantu orang yang memerlukan, maka kami yakin semua akan mendukung, termasuk pemerintah Myanmar, apalagi pemerintah Indonesia.

MINA: Bisa dijelaskan lebih rinci mengenai masalah material dan keamanan?

Karidi: Soal material, pembangunan RSI ini kan di wilayah yang terpencil, jadi beberapa peralatan seperti listrik, besi, baja dan beberapa peralatan lain yang kita butuhkan cukup sulit mendapatkan di wilayah itu, sehingga mau tidak mau kita harus mengambil dari luar wilayah. Dan ini selain sulit ditransportasi, juga membutuhkan waktu yang lama.

Dari sisi keamanan, di sana itu kondisinya tidak bisa diprediksikan aman atau tidak. Sampai saat ini saja masih ada peraturan darurat militer. Aturan ini salah satunya membatasi jam kerja para pekerja maupun relawan di sana. Pada 2018 lalu, pemerintah di sana memberi kita waktu bekerja sampai jam 5 sore. Sementara sekarang kita hanya diberi waktu hingga jam 4 sore.

Pembatasan waktu ini berdampak pada waktu pengiriman material-material, kita tidak bisa melakukannya semaunya. Pengiriman material ini hanya bisa dilakukan pada siang hari. Dengan situasi seperti ini, untuk sekali pengiriman saja bisa sampai tiga hari lamanya.

MINA: Selain pengiriman material dan keamanan, apa kendala lainnya?

Karidi: Ketika kita hendak masuk ke Rakhine State, kita harus mengurus tiga surat wajib. Yang pertama visa, ini sudah pasti. Yang kedua kita harus memiliki surat izin masuk ke Rakhine State. Untuk memiliki surat ini, setidaknya kita membutuhkan waktu hingga kurang lebihnya 10 hari. Dan yang ketiga kita harus memiliki surat izin tinggal di sana.

Khusus untuk surat izin tinggal ini, kalau kita sudah keluar dari Rakhine State dan ingin kembali datang, kita harus mengurus suratnya lagi. Untuk mengurus surat ini dibutuhkan waktu kira-kira sampai tujuh pekan. Kita sadari memang di wilayah itu tidak terlalu kondusif sehingga pemerintah di sana sangat berhati-hati.

Namun, kami sangat bersyukur mendapat kemudahan untuk memiliki tiga surat wajib tersebut. Kami ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Dubes RI untuk Myanmar, Iza Fadri yang telah memberikan dukungan kepada kita dalam membangun rumah sakit ini.

MINA: Setelah mundur dari jadwal, lalu bagaimana target selanjutnya?

Karidi: Untuk rencana selanjutnya mudah-mudahan satu bulan ke depan semuanya sudah selesai. Setelah rumah sakit ini jadi memang ada pekerjaan lagi. Kita ingin membangun area parkir, pengerjaan ground tank (penampungan air) menampung air hujan untuk keperluan kegiatan di rumah sakit dan juga pembangunan jembatan ke area rumah sakit. Itu diperkirakan membutuhkan waktu dua bulan.

MINA: Pesan untuk masyarakat Indonesia?

Karidi: Saya mewakili seluruh relawan ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia karena telah bahu membahu ikut berpartisipasi pada pembangunan rumah sakit ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. (W/R06/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)