Riaydh, MINA – Arab Saudi menegaskan sikap tegasnya menolak penggunaan wilayah udara dan darat untuk aksi militer apa pun terhadap Republik Islam Iran.
Pernyataan ini disampaikan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di tengah meningkatnya ketegangan regional. SPA melaporkan, Rabu (28/1).
Bin Salman menyatakan Riyadh menghormati kedaulatan Iran dan tidak akan membuka wilayahnya untuk serangan militer dari pihak mana pun.
Langkah Saudi ini sejalan dengan sikap negara-negara Teluk lainnya yang sebelumnya juga menolak keterlibatan wilayah mereka dalam potensi konflik militer.
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Sebelumnya Uni Emirat Arab (UEA) lebih dulu menegaskan tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udara, laut, maupun darat untuk operasi militer terhadap Iran, menggarisbawahi pendekatan diplomasi dan stabilitas sebagai solusi bagi krisis regional.
Sikap tegas Arab Saudi dan UEA muncul kala Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran menyusul tuduhan AS terhadap program nuklir Teheran.
Penolakan penggunaan wilayah oleh negara-negara Teluk dipandang sebagai pembatas bagi strategi militer yang mengandalkan dukungan logistik dari basis dan jalur udara di kawasan.
Sementara itu di luar isu militer, inisiatif Presiden AS Donald Trump membentuk “Board of Peace” menarik reaksi beragam dari komunitas internasional. Sejumlah negara maju di Eropa, termasuk Prancis, Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, Norwegia, dan Kanada, memilih menolak bergabung dalam lembaga tersebut.
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
Penolakan tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa Dewan Perdamaian dapat menyaingi peran PBB dan mengaburkan mandat diplomasi multilateral.
Sebaliknya, beberapa negara lainnya telah menyatakan kesiapan bergabung dalam Board of Peace, termasuk Amerika Serikat sendiri, Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Qatar, Pakistan, dan Uni Emirat Arab.
Keputusan beberapa negara menolak keanggotaan dan menolakkan penggunaan wilayahnya untuk aksi militer mencerminkan dinamika kompleks geopolitik global saat ini.
Ketegangan antara kekuatan besar mempengaruhi pilihan strategis setiap negara, baik dalam konteks keamanan maupun diplomasi internasional, di tengah upaya mencari solusi damai dan mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat tajam pada awal 2026 setelah ancaman serangan militer terhadap fasilitas nuklir dan posisi strategis Iran. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Arab Saudi akan Regularkan Status Tinggal Warga Negara Ilegal Yaman
















Mina Indonesia
Mina Arabic