Riyadh, MINA – Di tengah dunia yang semakin riuh oleh konflik dan ketegangan, dua negara, Arab Saudi dan Pakistan, duduk bersama dan berkata, “Kita jaga Makkah bersama-sama.”
Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, belum lama ini mengungkapkan bahwa kedua negara menegaskan kembali komitmen mereka untuk melanjutkan upaya bersama menghadapi serangan yang menyasar Makkah Al-Mukarramah, serta fasilitas sipil dan ekonomi di Saudi.
Semua ini dilakukan sesuai Perjanjian Makkah untuk Pertahanan Bersama.
Makkah, Bukan Sekadar Kota
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Bagi umat Islam, Makkah bukanlah sekadar titik kota di peta. Makkah adalah kiblat umat Islam. Setiap hari, miliaran Muslim di seluruh dunia menghadap ke arahnya saat shalat.
Setiap tahun, jutaan jamaah berdesakan di Masjidil Haram, meneteskan air mata di depan Kakbah, berharap bisa pulang dengan hati yang lebih bersih.
Maka ketika ada ancaman, apapun bentuknya, terhadap kota suci ini, rasanya bukan hanya Arab Saudi yang terusik. Seluruh umat Islam di dunia ikut merasakan.
Itulah mengapa kerja sama Saudi-Pakistan ini bukan sekadar urusan militer. Ia adalah pesan spiritual bahwa Tanah Suci bukanlah wilayah yang bisa diganggu begitu saja.
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
Mungkin ada yang bertanya, mengapa Pakistan? Jawabannya sederhana: Pakistan adalah satu-satunya negara Muslim yang memiliki senjata nuklir.
Pakistan juga memiliki militer yang besar, berpengalaman, dan telah lama menjalin hubungan pertahanan dengan Arab Saudi.
Bagi Pakistan, menjaga Makkah bukanlah beban. Ia adalah kehormatan. Bayangkan, menjadi bagian dari pasukan yang menjaga kota paling suci di dunia, kota yang setiap tahun dikunjungi jutaan orang, termasuk ratusan ribu jamaah dari Indonesia.
Bagi Arab Saudi, memiliki Pakistan sebagai mitra pertahanan memberikan lapisan perlindungan tambahan yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga politik dan diplomatik.
Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi
Bagaimana dengan Pakta Makkah?
Perjanjian Makkah untuk Pertahanan Bersama adalah kesepakatan yang menjadi dasar kerja sama ini. Intinya sederhana: jika salah satu pihak diserang, maka pihak lain akan membantu.
Yang menarik, perjanjian ini tidak hanya mencakup serangan terhadap wilayah, tetapi juga terhadap fasilitas sipil dan ekonomi. Ini penting, karena serangan terhadap kilang minyak, misalnya, bukan hanya serangan terhadap Saudi, tapi itu adalah serangan terhadap stabilitas energi global.
Dan seperti yang kita tahu, kelompok Houthi di Yaman belakangan ini gencar melancarkan serangan ke fasilitas Saudi Aramco.
Baca Juga: Arab Saudi akan Regularkan Status Tinggal Warga Negara Ilegal Yaman
Mereka bahkan sempat menyerang gardu listrik yang memasok Masjid Nabawi di Madinah. Ini bukan lagi soal perang Yaman. Ini sudah menyentuh simbol paling sakral dalam Islam.
Apa Artinya bagi Indonesia?
Bagi kita di Indonesia, tentu ini menjadi penting karena beberapa alasan.
Pertama, Makkah dan Madinah adalah destinasi spiritual jutaan warga Indonesia setiap tahun. Keamanan di sana adalah kepentingan langsung umat Islam Indonesia. Setiap jamaah haji dan umrah Indonesia ingin beribadah dengan tenang, tanpa rasa takut.
Baca Juga: Pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah Dimulai Akhir 2026
Kedua, Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Apa yang terjadi di Tanah Suci selalu menggetarkan hati rakyat Indonesia. Berita tentang ancaman terhadap Makkah bukanlah berita internasional biasa, ia adalah berita yang menyentuh identitas keagamaan kita.
Ketiga, kerja sama Saudi-Pakistan menunjukkan bahwa negara-negara Muslim bisa bersatu untuk tujuan mulia. Ini adalah contoh yang baik, bahwa di tengah perbedaan politik dan kepentingan, masih ada hal-hal yang bisa menyatukan kita: Tanah Suci, kiblat, dan umat.
Jaga Makkah, Jaga Persaudaraan
Ketika dua negara berjanji menjaga Makkah, sejatinya mereka sedang menjaga sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Mereka menjaga warisan Nabi Ibrahim, menjaga rumah Allah, menjaga titik pertemuan seluruh umat Islam di dunia.
Baca Juga: Menteri Mansour: Pertumpahan Darah yang Tidak Beralasan Dilarang, Baik Afghanistan Maupun Pakistan
Dan bagi kita di Indonesia, kabar ini adalah pengingat bahwa kita tidak sendiri. Ada saudara-saudara di belahan dunia lain yang juga peduli, juga berjaga, juga berdoa untuk keamanan Tanah Suci.
Walaupun juga patut diperhatikan, bahwa bagaimanapun warga Yaman yang mayoritas Muslim adalah tetangga dekat yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi.
Rakyat yang akan selalu menjado korban atau yang terdampak langsung dari perang atau konflik negaranya.
Maka, kedua belah pihak, Arab Saudi dan Yaman, juga negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim lainnya alangkah baiknya jika mengedepankan musyawarah atau diplomasi mencari jakan Tengah terbaik, daripada dengan senjata.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Kilang Saudi Aramco di Riyadh, Apa Dampaknya bagi Dunia dan Indonesia?
Sebab jika kondisi Timur Tengah kondusif, maka rakyat di sekitarnya akan merasakan kenyamanan juga dalam kehidupannya. Ekonomi meningkat, pertahanan Kawasan semakin solid, dan negeri-negeri Musloim dapat mengkondoslidasikan dirinya untuk maju berkembang menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Semoga Makkah selalu aman. Semoga Madinah selalu tenang. Dan semoga umat Islam di seluruh dunia, termasuk kita di Indonesia, bisa terus menunaikan ibadah dan umrah dengan hati yang lapang. Serta persaudaraan dunia Islam semakin kokoh. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Dua Masjid Suci Punya Aturan Khusus Ruang Udara, Ini Penjelasan Saudi
















Mina Indonesia
Mina Arabic