Moskow, MINA – Ketegangan militer yang kian meruncing antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah secara tidak langsung memberikan suntikan finansial raksasa bagi pundi-pundi Rusia. Eskalasi di kawasan tersebut memicu lonjakan harga komoditas energi global, yang membuat Moskow meraup pendapatan tambahan hingga Rp12,8 triliun per hari.
Kenaikan drastis ini menjadi penyokong utama bagi ketahanan ekonomi Rusia di tengah sanksi Barat yang masih membelenggu. RTworld melaporkan, Sabtu (28/3).
Lonjakan harga minyak mentah dunia ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir menjadi motor utama pendapatan ini. Sebagai salah satu produsen energi terbesar, Rusia memanfaatkan volatilitas pasar yang terjadi akibat ancaman gangguan jalur logistik di Selat Hormuz.
Situasi ini membuat permintaan terhadap pasokan energi alternatif dari luar Timur Tengah meningkat tajam, memposisikan energi Rusia sebagai komoditas yang paling dicari meski di bawah tekanan geopoliti
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
“Keuntungan perang” ini memperpanjang nafas finansial Moskow dalam membiayai operasional domestik dan militernya.
Sementara negara-negara Barat berupaya meredam inflasi energi di dalam negeri, Rusia justru menikmati surplus perdagangan yang signifikan. Hal ini menunjukkan betapa saling terhubungnya krisis keamanan di satu kawasan dengan pergeseran kekuatan ekonomi di belahan dunia lain.
Data dari organisasi negara pengekspor minyak (OPEC+) menunjukkan bahwa ketidakpastian politik di Teluk telah menurunkan kapasitas produksi global secara psikologis.
Rusia, yang memiliki jalur pipa darat ke Asia dan Eropa Timur, relatif lebih aman dari ancaman blokade maritim dibandingkan produsen di Timur Tengah. Keunggulan logistik ini membuat harga jual minyak Rusia di pasar gelap maupun resmi tetap memiliki daya tawar yang sangat kuat.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Di sisi lain, ketergantungan dunia pada energi fosil di masa krisis ini menjadi peringatan bagi stabilitas ekonomi negara-negara berkembang. Kenaikan biaya energi yang menguntungkan Rusia justru membebani sektor transportasi dan manufaktur di negara-negara importir neto minyak.
Jika tensi Iran-AS-Israel terus berlanjut tanpa de-eskalasi, jurang ketimpangan ekonomi global diprediksi akan semakin lebar akibat redistribusi kekayaan ke negara-negara produsen energi.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pendinginan suasana di Timur Tengah, yang berarti aliran dana segar ke Moskow diprediksi tetap stabil dalam jangka pendek.
Moskow sendiri terus mempererat kerja sama strategis dengan mitra-mitra di Asia untuk memastikan jalur distribusi energi tetap terbuka. Fenomena ini membuktikan bahwa dalam setiap kiamat diplomasi di satu wilayah, selalu ada aktor global yang berhasil memetik keuntungan ekonomi dari balik layar. []
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic