Sejarah Khalifah: Muawiyah bin Abu Sufyan, Pendiri Daulah Umayyah

Muawiyah bin Abu Sufyan adalah salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW). Ia lahir empat tahun sebelum Muhammad menerima misi dakwah di Kota Makkah. Pendapat lain menyebutkan bahwa ia lahir dua tahun sebelum diutusnya Muhammad menjadi nabi.

Nama lengkapnya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Ia berasal dari bani Umayyah. Ia memiliki kun-yah atau julukan Abu Abdurrahman dan Al-Quraisyi Al-Umawi Al-Makki.

Ayahnya adalah Abu Sufyan bin Harb, seorang pembenci Nabi Muhammad SAW yang akhirnya masuk Islam diikuti juga dengan istrinya Hindun binti Utbah yang dulu pernah memakan jantung Paman Nabi Muhammad SAW Abu Thalib pada Perang Badar karena saking bencinya dengan Islam.

Muawiyah memeluk Islam bersama ayahnya, Abu Sufyan bin Harb dan ibunya Hindun binti Utbah tatkala terjadi pembebasan Kota Makkah atau dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Muawiyah masuk Islam pada peristiwa Umrah Qadha’ tetapi menyembunyikan keislamannya sampai peritistiwa Fathu Makkah.

“Aku masuk Islam dalam peristiwa Umrah Qadha tahun 7 hijriah, tetapi aku menyembunyikannya dari bapakku,” kata Muawiyah sebagaimana dikutip oleh Ash-Shallabi dalam bukunya ketika mengisahkan awal mula keislaman Muawiyah.

Hal itu dapat dimengerti karena situasi saat itu belum kondusif. Selain itu posisi Muawiyah cukup sulit, mengingat Abu Sufyan pada waktu itu masih kafir, bahkan Abu Sufyan adalah pemimpin Quraisy dalam melawan Nabi Muhammad SAW.

Sejawaran Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam karyanya berjudul ‘Muawiyah bin Abu Sufyan’ menggambarkan perawakan Muawiyah. Ia adalah adalah laki-laki yang badan tegap dan tinggi, berkulit putih, tampan, dan penuh wibawa.

Umar bin Khattab pernah mengatakan Muawiyah suka makan-makanan yang lezat dan bergaya seperti raja. Umar berkata begitu bukan bermaksud menjelekkan Muawiyah tapi hanya menginformasikan ciri khas Muawiyah. Bisa dimengerti mengapa Muawiyah melakukan hal itu karena ia memang berasal dari kabilah terpandang di masyarakat.

Sejak zaman Kenabian, Muawiyah sudah memiliki peran yang cukup strategis. Selain menjadi pencatat wahyu, Muawiyah juga sempat turun di beberapa pertempuran, salah satunya Perang Hunain pada 8 hijriah yang cukup terkenal itu.

Peran Muawiyah di zaman Abu Bakar tidak mengendur. Zaman Abu Bakar mulai muncul benih kemurtadan. Abu Bakar bertindak tegas dengan memerangi mereka. Muawiyah ikut salah satu pertempuran itu, yakni Perang Yamamah, perang di mana umat Islam melawan Musailamah yang digelari Al-Kadzab (si pembohong) karena mengaku sebagai nabi baru.

Pada zaman Umar, Muawiyah ditugaskan untuk membebaskan Qaisariyah, sebuah kota kecil di wilayah Palestina. Namun, ternyata Qaisariyah memilliki benteng pertahanan dan pasukan yang sangat kuat. Setelah Qaisariyah dikepung dalam waktu cukup lama, Muawiyah pun berhasil menerobos kota tersebut. Dikatakan prajurit Qaisariyah yang tewas mencapai 100 ribu orang.

Pada 18 hijriah, Gubernur Damaskus saat itu, Yazid bin Abu Sufyan yang juga saudara kandung Muawiyah, meninggal karena terserang wabah penyakit. Beberapa ulama meyakini Yazid terserang wabah tha’un. Untuk mengisi kekosongan, Umar bin Khattab menugaskan Muawiyah untuk menggantikan posisi saudaranya memimpin Damaskus.

Sebagaimana Umar, Utsman tidak memakzulkan Muawiyah. Bahkan, Utsman terus memberi Muawiyah kekuasaan sehingga Muawiyah menjadi gubernur di Syam. Ia menguasai daerah yang sangat luas dan menjadi salah satu gubernur era Utsman yang paling berpengaruh.

Di akhir pemerintahan Utsman, muncul beragam fitnah yang tiada henti. Utsman dituduh macam-macam oleh sebagian umat Islam, mulai dari tuduhan menggelapkan harta, boros, mengangkat keluarganya sendiri untuk menduduki jabatan penting dan sebagainya. Pada masa-masa ini, Muawiyah terus membantu Utsman hingga sang khalifah dibunuh secara keji di rumahnya.

Wafatnya Utsman menimbulkan silang pendapat di tengah para sahabat, utamanya antara Ali dan Muawiyah. Ali yang saat itu menggantikan posisi Utsman sebagai khalifah umat Islam, punya cara sendiri dalam membalas para pembunuh Utsman. Sementara Muawiyah kekeh meminta Ali untuk menyerahkan para pembunuh Utsman.

Inti dari permasalahan Ali-Muawiyah adalah perbedaan cara qisas ini. Muawiyah sendiri tidak mengklaim bahwa dirinya khalifah umat Islam dan tidak berniat merebut kekhalifahan. Hanya saja ia dan penduduk Syam tidak mau baiat (sumpah setia) kepada Ali karena permasalahan terbunuhnya Utsman tersebut.

Ash-Shallabi berpendapat bahwa melihat kondisi zaman Ali lewat kaca mata abad modern, seseorang bisa dengan mudah menilai, tetapi bagi orang yang hidup di zaman itu, situasi pada saat tersebut sangat pelik. Menurut mayoritas ulama, dalam persoalan rumit itu yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat Ali karena bagaimanapun juga perdamaian lebih diutamakan.

Suatu ketika, Muawiyah pernah ditanya, “Apakah kau penentang Ali?”

Muawiyah menjawab, “Tidak Demi Allah. Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa dia lebih utama dariku dan lebih berhak memegang khilafah dariku. Akan tetapi, sebagaimana yang kalian ketahui bahwa Utsman dibunuh dalam keadaan teraniaya dan aku, sepupu Utsman, akan menuntut darahnya. Datanglah kepada Ali dan katakan, ‘serahkan para pembunuh Utsman kepadaku dan aku akan tunduk kepadanya”.

Orang-orang segera menemui Ali dan mengutarakan permintaan Muawiyah, tetapi Ali tidak mengabulkannya.

Menurut mayoritas ulama, sikap Kaum Muslimin dalam menyikapi konflik Ali-Muawiyah adalah meyakini bahwa mereka semua sedang berijtihad merespon situasi yang sangat pelik pada masa itu. Di antara mereka ada yang benar dan mendapat dua pahala, tetapi di antara mereka ada yang salah dan mendapat satu pahala, tidak boleh membicarakan sahabat Nabi dengan perasaan benci.

Setelah Ali wafat, estafet kepemimpinan umat Islam berlanjut kepada Hasan bin Ali. Hasan menjadi khalifah bukan karena dia putra Ali, tetapi para sahabat dan umat Islam saat itu melihat Hasan sebagai orang yang pantas memimpin umat Islam. Namun, usia kepemimpinan Hasan tidak berlangsung lama, hanya sekitar enam bulan.

Sekitar tahun 41 hijriah, Hasan mundur dari khalifah umat Islam dan Muawiyah menggantikan posisinya. Sejak saat itulah masa Khulafaur Rasyidin berakhir digantikan dengan zaman Mulkan Adlan, diawali dari Muawiyah yang mendirikan Daulah Umayyah dan resmi menjadi sultan pertama dalam Islam. Tahun ini dikenal pula sebagai aamul jamaah atau tahun persatuan.

Di masa kepemimpinan Muawiyah, banyak sekali kemajuan-kemajuan, khususnya di bidang administrasi seperti mendirikan Departemen Pencatatan (Diwanul Khatam), mendirikan Pelayanan Pos (Diwanul Barid), mendirikan Kantor Percetakan Mata Uang dan sebagainya.

Selain di bidang administrasi, kebudayaan Islam di zaman itu juga berkembang pesat. Di antara kebudayaan yang mengalami perkembangan antara lain seni sastra, seni rupa, seni seni suara, seni bangunan, seni ukir dan sebagainya. Pada masa ini telah banyak bangunan hasil rekayasa umat Islam dengan mengambil pola Romawi, Persia dan Arab.

Setelah berkuasa selama 20 tahun, Muawiyah wafat pada tahun 60 hijriah. Posisinya digantikan oleh putranya Yazid bin Muawiyah. (A/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)