Sejarah Khalifah: Sultan Abdul Hamid II, Singa Terakhir Utsmani

“Aku (Sultan Abdul Hamid II) tidak menyalahkan siapapun (kemunduran Utsmani). Akan tetapi kami mengetahui bahwa Inggris, Perancis dan Rusia hingga Jerman dan Swiss, maksudnya negara-negara besar Eropa, memperoleh kepentingan dengan membagi-bagi wilayah pemerintahan Utsmani dan mencerai-beraikannya.”

Abdul Hamid II adalah salah satu nama sultan besar yang pernah dimiliki Kesultanan Utsmani. Jika di masa awal kejayaan Utsmani ada nama-nama seperti Sultan Muhammad Al-Fatih dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni, maka di akhir kemunduran Kesultanan Utsmani, Abdul Hamid II menjadi sultan besar terakhir. Sebab, setelahnya tak ada lagi sultan yang disegani.

Abdul Hamid II lahir pada tanggal 21 September 1842 masehi,  putra dari Sultan Abdul Majid. Sejak kecil, ia mendapat pendidikan regular di istana, di bawah bimbingan orang-orang yang sangat terkenal di zamannya, baik secara ilmu maupun akhlak. Ia belajar bahasa Arab dan Persia, Sejarah, Sastra dan ilmu-ilmu Tasawuf. Ia juga piawai menulis syair dalam bahasa Turki.

Selain mempelajari ilmu-ilmu alamiah dan sosial, ia juga belajar secara serius bagaimana menggunakan senjata, sangat mahir memainkan pedang, juga menembak dengan pistol. Ia tak pernah melewatkan hari-harinya tanpa berolahraga.

Demikian pula ia sangat peduli dengan gejolak politik internasional, selalu mengikuti berita tentang posisi negerinya dari kabar-kabar tersebut dan memfokuskan perhatian secara teliti dan seksama.

Menurut situs Wikipedia, Abdul Hamid II menjadi sultan ke-34 Kesultanan Utsmani menggantikan saudaranya Sultan Murad V. Ia menjabat sebagai Sultan Utsmani pada tahun 1876 masehi, bertepatan dengan ketamakan negara-negara Barat untuk menguasai Kesultanan Utsmani yang sudah sampai pada titik puncak ketinggiannya.

Ketika Inggris mulai memperlihatkan keinginannya untuk menjadikan Syarif Hussein, Walikota Mekkah saat itu sebagai khalifah umat Islam, Sultan Abdul Hamid II dalam catatan hariannya yang ditulis ulang oleh Sejarawan Muhammad Harb mengatakan,

“Aku tidak mempunyai kekuatan atau potensi untuk menghadapi ketamakan negara-negara Eropa. Akan tetapi negara-negara itu masih takut menghadapi senjata kekhalifahan. Ketakutan mereka terhadap kekuatan kekhalifahan mendorong mereka bersekongkol untuk mengakhiri pemerintahan Utsmani.”

Sebagai orang yang bertanggung jawab memimpin dan melindungi wilayahnya, ia merasa berkewajiban menghadapi ketamakan-ketamakan tersebut serta mencari solusi yang paling tepat untuk menyelesaikannya. Karena itu, ia berupaya menjalin hubungan dengan kekuatan-kekuatan dunia yang muncul ketika itu, di mana dalam hal ini, Kesultanan Utsmani beberapa kali terlibat perang di antara mereka.

Dalam catatan hariannya, Sultan Abdul Hamid II juga mengatakan, perang secara langsung akan mengurangi kekuatan negara-negara imperialis dan menciptakan keseimbangan kekuatan dalam peta kekuatan dunia. Di sisi lain, ia berupaya mempersatukan kekuatan Islam yang tercerai-berai di berbagai belahan dunia dalam menghadapi ketamakan-ketamakan negara-negara Barat. Ia berpendapat bahwa Perang Salib akan terus berkobar meskipun dalam bentuk rahasia.

Melalui Islam sebagai agama, Sultan Abdul Hamid II berupaya mempersatukan berbagai elemen dan unsur yang beragam dalam pemerintahan ini, baik dari Turki, Arab, Kurdi dan lainnya dalam sebuah kekuatan agar mampu menghadapi serangan serangan pasukan Salib Barat itu. Ia berpendapat, umat Islam dalam lingkup Utsmani saja tidak cukup untuk menghadapinya. Utsmani harus melebarkan sayap dan pengaruh persatuan Islam terhadap seluruh umat Islam baik di Asia maupun lainnya.

Dalam hal ini, Sultan Abdul Hamid II mengatakan, “Tidak adanya saling pengertian dengan Iran merupakan sesuatu yang mengecewakan. Jika kita ingin mengambil jarak dan kesempatan bersama Inggris dan Rusia maka kita melihat adanya manfaat dan dampak positif bagi pendekatan Islam dalam masalah ini.”

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid II dalam mempersatukan dunia Islam adalah dengan mengagendakan pembangunan rel kereta api. Jalur rel kereta api itu menghubungkan Damaskus dengan Hijaz (Arab Saudi, sekarang) sebagai piranti untuk menggulirkan pemikirannya mengenai persekutuan dan persatuan dunia Islam.

Pada tahun 1908, jalur kereta api yang menghubungkan Damaskus dengan Hijaz mulai dioperasikan. Rencananya, jalur ini akan dihubungkan sampai Mekkah dan Jeddah. Namun karena keterbatasan dana dan sering adanya gangguan dari para pemuka suku setempat, jalur ini hanya dihubungkan sampai dengan Madinah.

Keberadaan jalur ini sangat mempermudah kelancaran perjalanan jamaah haji dengan sarana transportasi modern saat itu. Berbeda dengan jalur di Timur Tengah lainnya seperti halnya jalur kereta api Baghdad, jalur kereta api Hijaz ini dibangun tanpa bantuan dari luar negeri khususnya dari kekaisaran Jerman yang menjadi sekutu Kesultanan Utsmani.

Dengan tercapainya proyek ini, Sultan Abdul Hamid II berharap, hubungan persaudaraan umat Islam semakin kuat. Di samping itu, hubungan dan persatuan umat Islam ini -setelah diperkuat dengan proyek ini- akan mampu menembus padang pasir yang tandus dan menghancurkan berhala-berhala pengkhianatan dan tipu muslihat Inggris.

Tegas terhadap Yahudi

Sultan Abdul Hamid II adalah sultan yang terkenal tegas terhadap orang-orang Yahudi. Ia pernah mengeluarkan instruksi untuk mengembalikan orang-orang Yahudi yang masuk ke wilayah Utsmani. Pada tahun 1901, ia berani mengusir salah satu dedengkot paling dikagumi dunia Yahudi, Theodore Hertzl dan seorang Rabbi Agung Yahudi saat berkunjung ke Islambul (Istanbul, sekarang) untuk meminta izin mendirikan permukiman di wilayah Al-Quds, Palestina.

Kisah itu kemudian diabadikan oleh seorang Kolonel Turki bernama Hisammuddin Arturk dalam Khafaya Ahdain yang terbit di Istanbul tahun 1957 masehi. Hingga sekarang kisah tersebut menjadi sangat masyhur dan selalu ada pada penulisan-penulisan artikel maupun seminar mengenai Sultan Abdul Hamid II.

“Theodore Hertzl dan Rabbi Agung Yahudi menghadap langsung kepada Sultan Abdul Hamid II untuk meminta izin pendirian Permukiman Yahudi secara terpisah di distrik Al-Quds. Tiada yang dilakukan Abdul Hamid II kecuali mengusir keduanya.”

Salah soerang sejarawan Turki, Nizhamuddin Tepe Denali mengomentari permasalahan ini. Menurut Denali, sikap tegas yang ditunjukkan Sultan Abdul Hamid II kala itu mendorong Theodore Hertzl dan bangsa Yahudi untuk mendukung orang-orang yang melawan sultan. Benar saja, setelah itu muncul gerakan-gerakan yang memfitnah Sultan Abdul Hamid II dengan sebutan Hamidian Absolutism, Freedom.

Sultan Abdul Hamid II terpaksa melepas baju kekhalifahannya dan sebagai pemimpin tertinggi Kesultanan Utsmani kepada saudaranya, Sultan Muhammad Rasyad atau dikenal dengan Sultan Muhammad V pada tanggal 27 April tahun 1909 masehi. Dengan keputusannya ini, ia beserta keluarganya harus menaiki kereta menuju tempat pengasingannya di Selonika, sebuah kota kecil di Yunani yang sebagian besar penduduknya adalah Yahudi.

Di tempat pengasingan di kota yang berkarakter Yahudi ini, Sultan Abdul Hamid II ditempatkan di sebuah istana yang dimiliki oleh seorang Yahudi bernama Alatini. Maksudnya adalah untuk semakin menghinakannya.

Pada tanggal 10 Februari tahun 1918 masehi Sultan Abdul Hamid bin Sultan Abdul Majid wafat dalam usia 76 tahun. Pemakaman  jenazahnya diiringi oleh hampir seluruh rakyat Istanbul. (A/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)