Shadaqah Sembunyi-Sembunyi atau Terang-Terangan?

shadaqahOleh: Ali Farkhan Tsani, Penulis Redaktur MINA (Mi’raj Islamic News Agency), Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jabar

Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 274, Allah berfirman :

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٲلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرًّ۬ا وَعَلَانِيَةً۬ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Artinya : “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al Baqarah [2]: 274).

Pada ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa bershadaqah mungkin saja diketahui orang lain, atau bisa saja tidak diketahui atau tersembunyi. Kedua-duanya sama-sama mendapat pahala dari Allah, selama niatnya tetap memang untuk mendapat ridha Allah.

Namun, shadaqah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, itu sangat utama karena lebih medekati ikhlas dan selamat dari sifat pamer kepada orang lain.

Maka, pada ayat lain Allah menyebutkan :

إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَـٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ‌ۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۚ وَيُكَفِّرُ عَنڪُم مِّن سَيِّـَٔاتِڪُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ۬

Artinya : “Jika kamu menampakkan shadaqahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 271).

Pada ayat tersebut, yang perlu kita perhatikan adalah bahwa yang utama untuk disembunyikan terbatas pada shadaqah kepada fakir miskin secara khusus. Hal ini dikarenakan ada banyak jenis shadaqah yang mau tidak mau harus tampak, seperti membangun masjid, madrasah atau sekolah, membangun fasilitas umum seperti jalan, membantu perbekalan orang-orang yang akan berjuang di jalan Allah, dan sebagainya.

Adapun di antara hikmah menyembunyikan shadaqah kepada fakir miskin adalah untuk menutup aib  yang miskin tersebut. Di samping menjaga hati dari pamer, riya, kepada orang lain. Sehingga si miskin tersebut tidak merasa malu, serta tidak merasa bahwa tangannya berada di bawah, bahwa dia orang yang tak punya sesuatu apa pun.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memuji shadaqah secara sembunyi-sembunyi ini, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk dalam salah satu di antara tujuh golongan yang dinaungi Allah nanti pada hari Kiamat. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ اِلاَّظِلُّهُ: (1) اِمَامٌ عَادِلٌ (2) وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ اللهِ (3) وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ اِذَاخَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ اِلَيْهِ  (4)وَرَجُلاَنِ تَحَاباَّ فِى اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَافْتَرَقَا عَلَيْهِ  (5)وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ فِى خَلْوَةٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ (6) وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتَ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ اِلَى نَفْسِهَا فَقَالَ اِنِّى أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ  (7) وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

Artinya : “Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah : (1) Imaam yang adil, (2) Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, (3) Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, yaitu keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, (5) Seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi lalu kedua matanya meneteskan air mata, (6) Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan yang tinggi lagi cantik untuk menggaulinya tubuhnya, maka ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam, (7) Seseorang yang bershadaqah dengan suatu shadaqah lalu ia merahasiakannya, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Pada kelompok ketujuh disebutkan, bagaimana seseorang yang bershadaqah dengan suatu shadaqah secara rahasia, dengan tangan kanannya. Hingga tangan kirinya tidak mengetahuinya, apalagi orang lain. Sampai-sampai ada sahabat Nabi yang mengartikan, ketika ia akan memberikan shadaqah dengan tangan kanannya. Maka, tangan kirinya disembunyikan di belakang badannya, agar tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Sampai-sampai tangan kirinya sendiri tiak boleh tahu, apalagi orang lain.

Para sahabat dan orang-orang shalih sangat mengharapkan, dengan bershadaqah, apalagi secara sembunyi-sembunyi, akan dapat meredam kemurkaan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ عَنْ مَيْتَةَ السُّوْءِ

Artinya: Sesungguhnya shadaqah benar-benar memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari kematian buruk.(H.R. At-Tirmidzi).

  1. Shadaqah secara Terang-Terangan

Menjalankan salah satu rukun Islam, yakni menunaikan zakat mesti dilakukan secara terang-terangan kepada Panitia atau orang yang mengurusi zakat (‘amil). Berapa uang dikeluarkan dan untuk zakat apa? Panitia zakat pun mendoakan orang yang menunaikan zakat tadi (muzakki) dengan doa, semoga Allah memberikan keselamatan dan kesejahteraan atas diri dan harta mereka.

Di dalam Al-Quran disebutkan :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka”. (Q.S. At-Taubah [9]: 103).

Demikian pula ketika seseorang memberikan hewan qurban kepada Panitia Qurban, alu Panitia mencantumkan atau mengumumkan nama-nama pemberi qurban kepada masyarakat. Insya Allah itupun tidak menjadi masalah, selama tidak ada unsur ria atau pamer pada diri si pemberi. Justru shadaqah dengan terang-terangan, diumumkan, hal itu diharapkan dapat menjadi contoh bagi yang lain, sehingga akan demikian banyak orang yang mengikuti mengeluarkan zakatnya atau shadaqahnya.

Akan tetapi jika pembagian itu dirahasiakan atau disembunyikan yang tidak nampak bagi masyarakat ramai, atau dalam shadaqah jariyah bangunan atau bencana misalnya sering kita dengar atau baca : “dari hamba Allah”,  maka itupun baik pula, untuk menjaga keikhlasan dalam amalnya. Itulah perniagaan yang tidak akan merugi, seperti pernyataan Allah :

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَـٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ سِرًّ۬ا وَعَلَانِيَةً۬ يَرۡجُونَ تِجَـٰرَةً۬ لَّن تَبُورَ ( ) لِيُوَفِّيَهُمۡ أُجُورَهُمۡ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۚۦۤ إِنَّهُ ۥ غَفُورٌ۬ شَڪُورٌ۬ ( )

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (QS Fathir [35]: 29-30).

Begitulah memang, kehidupan manusia di dunia ibarat orang yang sedang berbisnis. Pelakunya bisa menderita kerugian, dapat pula memperoleh keuntungan. Kerugian dan keuntungan yang hakiki akan diterima di akhirat. Sementara di dunia, kendati sudah ada yang dapat dirasakan, namun hanya sebagian kecil saja. Itu anggaplah baru ‘uang muka’ saja.

Ayat ini memberikan petunjuk, tentang beberapa amal yang dapat memberikan keuntungan berlipat bagi pelakunya. Beberapa amalan itu adalah : mereka gemar membaca Al-Quran dalam rangka untuk beribadah secara terus-menerus (kontinyu). Selanjutnya, mereka menjaga dan mendirikan shalat, sesuai dengan wak-tunya dan terpenuhi syarat, rukun, dan dan dzikirnya. Serta mereka gemar mengeluarkan harta mereka untuk bershadaqah baik dengan diam-diam ataupun secara terang-terangan.

Sungguh pada ayat ini mengandung beberapa hikmah yang besar lua biasa. Bagaimana Allah dengan begitu indahnya menyebut membaca kitab Allah sebagai amalan lisan, mendirikan shalat sebagai amalan fisik dan jiwa, dan menafkahkan sebahagian dari rezeki dengan diam-diam dan terang-terangan sebagai amalan harta dan keikhlasan hati.

Mereka mengerjakan semua amal itu bukan karena riya, supaya disebut sebagai orang yang baik, dermawan, dan sebagainya. Namun mereka mengerjakan benar-benar dilandasi motivasi untuk mendapatkan balasan-Nya, ridha dan ampunan-Nya. Maka mereka itu mendapatkan perniagaan yang tidak akan merugi. Ini artinya, lisan yang diucapkan, shalat yang didirikan, harta shadaqah yang dikeluarkan di jalan Allah, adalah modal yang dikeluarkan untuk mendapatkan keuntungan dari Allah. Sedangkan keuntungan yang didapat adalah pahala, surga, dan ridha-Nya.

Dibandingkan dengan modal amal yang dikerjakan, tentulah keuntungan dari Allah itu sangatlah besar. Apa yang lebih besar, lebih mulia dan lebih berharga dari surga dan ridha-Nya? Itulah, maka Allah menyebutnya dengan perniagaan itu pun disebut tijaratan lan tabuur, perniagaan yang tidak akan merugikan, tidak akan lenyap.

Begitulah, semua modal hamba-hamba-Nya berupa iman dan amal shalih selama hidup di dunia, tidak akan lenyap dan sia-sia di sisi Allah. Ini memberikan penegasan bahwa harapan hamba-hamba-Nya itu tidaklah hampa. Mereka pasti akan mendapatkan apa yang diharapkan itu. Hal itu karena telah menjadi ketetapan dan janji Allah bahwa semua perbuatan manusia akan mendapatkan balasan dari-Nya. Sebagaimana balasan siksa neraka atas perbuatan munkar dan maksiat, perbuatan kebaikan dan thaat pun akan diganjar dengan pahala.

Senada dengan hal itu, pada ayat lain Allah menyampaikan :

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Artinya : “Dan adapun orang yang beriman dan melakukan kebajikan, maka Dia akan memberikan pahala kepada mereka dengan sempurna. Dan Allah tidak menyukai orang dzalim”. (Q.S. Ali Imran [3]: 57).

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦ‌ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسۡتَنكَفُواْ وَٱسۡتَكۡبَرُواْ فَيُعَذِّبُهُمۡ عَذَابًا أَلِيمً۬ا وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّ۬ا وَلَا نَصِيرً۬ا

Artinya : “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari karunia-Nya. Sedangkan orang-orang yang enggan (menyembah Allah) dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah”. (QS An-Nisa [4]: 173).

Begitulah, bahkan Allah bukan hanya memberikan balasan sepadan dengan perbuatan yang dikerjakan. Namun masih ditambah pula dengan keuntungan berlipat ganda, yaitu Allah akan melipatgandakan pahala bagi pelakunya, mulai sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Sementara di akhirat kelak, mereka akan melihat wajah Allah dengan penuh keridhoan, dan dapat memberikan syafaat bagi orang lain.

Itulah tambahan dari Allah, sebagaimana Allah sebutkan pada ayat lain :

لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ۬‌ۖ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٌ۬ وَلَا ذِلَّةٌ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

Artinya : “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik [surga] dan tambahannya [1]. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak [pula] kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya”. (Q.S. Yunus [10]: 26).

Hidup di dunia ini amatlah singkat. Itu pun hanya sekali. Maka marilah jangan sampai kita salah pilih jalan dan merugi. Kita harus mengambil perniagaan dengan Allah, yang mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Masihkah kita belum tertarik dengan tawaran yang menggiurkan dari Allah itu? Wallahu a’lam bish shawwab. (P4/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)