Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menulis Melalui Media untuk Pembebasan Al-Aqsa, Kekuatan yang Menggentarkan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:12 WIB

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:12 WIB

52 Views ㅤ

Ilustrasi: Kubah As-Sakhrakh di Kompleks Al-Aqsha, di Kota Al-Quds, Palestina. (Dok MINA)

DI TENGAH deru bom dan dentuman senjata yang mengguncang Gaza, di tengah gemerincing rantai penjajahan yang membelenggu Palestina, ada satu medan perjuangan yang sering kali luput dari perhatian. Medan itu bukanlah medan fisik dengan tank dan rudal, tetapi medan kata-kata. Kata-kata di mana pena berperang melawan kebohongan, dan tulisan membangun benteng kebenaran.

Kita coba kaitkan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Surat Al-Anfal ayat 60:

وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Ayat ini adalah perintah kepada orang-orang beriman untuk mempersiapkan kekuatan maksimal guna melawan musuh-musuh Islam.  Perintah ini bersifat universal, bahwa umat Islam harus mempersiapkan kekuatan di segala bidang untuk menggentarkan musuh.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Menurut Imam Abu Bakar Al-Jassas dalam Ahkam Al-Qur’an, kekuatan yang dimaksud dalam ayat ini bersifat umum, meliputi kekuatan fisik, militer, finansial, dan ekonomi.

Para pakar tafsir kontemporer memperluas maknanya. Seperti disebutkan oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir yang menjelaskan bahwa kekuatan tersebut tidak terbatas pada senjata material saja, tetapi mencakup pula persenjataan pemikiran, media, dan kesadaran yang mampu mengguncang mental dan keyakinan musuh.

Di era modern, ketika propaganda Zionis mendominasi ruang publik dan berita-berita palsu tersebar lebih cepat daripada kebenaran, maka media adalah salah satu bentuk kekuatan paling efektif untuk menggentarkan musuh.

Media Sebagai Benteng Kebenaran

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Jika kita telusuri, musuh kita telah mempersenjatai diri dengan kekuatan media yang luar biasa. Mereka memiliki stasiun televisi global, surat kabar berpengaruh, dan jaringan media sosial yang terintegrasi untuk membentuk opini dunia. Mereka menyebut pejuang sebagai teroris, dan penjajah sebagai pembela diri.

Namun Allah telah memberikan kepada kita kekuatan yang lebih dahsyat, yaitu kebenaran. Dan kebenaran itu harus kita sampaikan melalui media, dengan tulisan, dengan gambar, dengan suara yang menggetarkan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Ini adalah perintah untuk menyebarkan kebenaran, dengan segala kemampuan yang kita miliki. Dan di era digital, menyampaikan kebenaran tentang Masjid Al-Aqsa, Baitul Maqdis dan Palestina melalui tulisan adalah salah satu bentuk paling efektif dari dakwah dan perjuangan.

Pena Kekuatan yang Membebaskan

Kita sering mendengar tentang kehebatan Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai panglima perang yang gagah berani. Namun tahukah kita bahwa di balik kemenangan gemilangnya membebaskan Al-Quds pada tahun 1187 M, terdapat kekuatan yang tidak kasat mata namun sangat menentukan? Kekuatan itu adalah pena.

Ketika Shalahuddin berhasil memasuki wilayah Baitul Maqdis, beliau berkata kepada pasukannya dengan penuh ketawadhu’an:

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

لا تظنوا أني فتحت البلاد بالسيوف، إنما فتحتها بقلم القاضي الفاضل

“Janganlah kalian menyangka bahwa aku membebaskan negeri-negeri ini dengan pedang-pedang kalian. Sesungguhnya aku membebaskannya dengan pena Al-Qadhi Al-Fadhil.”

Al-Qadhi Al-Fadhil adalah seorang faqih dan penulis ulung yang menjadi tangan kanan Panglima Shalahuddin dalam urusan diplomasi dan strategi komunikasi. Surat-surat yang ia tulis membangunkan semangat umat, menyatukan barisan, dan menggentarkan musuh sebelum pedang-pedang dihunuskan.

Inilah bukti bahwa kemenangan hakiki tidak lahir dari kekuatan militer semata, tetapi dari kekuatan ilmu dan strategi pengetahuan. Sungguh, pena Al-Qadhi Al-Fadhil terbukti lebih tajam dari pedang-pedang pasukan Salib!

Liberation of Mind Before Liberation of Land: Kunci Kemenangan

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Warisan pemikiran Shalahuddin tentang kekuatan ilmu dan pena ini terus hidup hingga hari ini, salah satunya melalui Prof. Dr. Abdul Fattah El-Awaisi, seorang akademisi internasional asli Baitul Maqdis yang mendirikan Islamicjerusalem Research Academy (ISRA) di Turki.

Prof. El-Awaisi dengan tegas mengingatkan umat Islam tentang satu prinsip fundamental, “Liberation of mind before liberation of land.”

El-Awisi menegaskan bahwa sebelum merebut kembali fisik tanah suci Baitul Maqdis, umat Islam harus lebih dulu membebaskan diri dari belenggu ketidaktahuan, kepasrahan, dan ketidakpedulian. Pembebasan cara berpikir adalah tahap awal yang harus dilalui sebelum pembebasan tanah. Karena sebagaimana sejarah mencatat, lepasnya Palestina dari tangan kaum Muslim diawali dari bencana pemikiran terlebih dahulu.

Prof El-Awaisi merumuskan bahwa pembebasan harus dimulai dengan pembebasan akal, penguatan ilmu, serta optimisme melalui ibadah. Baginya, perjuangan tidak dimulai dengan kekuatan militer, melainkan dengan membangun ilmu, cara berpikir, dan perencanaan strategis.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan teladan bahwa perubahan besar selalu diawali dengan ilmu, sebagaimana wahyu pertama yang memerintahkan membaca (Iqra’).

Menulis untuk Menggentarkan Musuh

Lalu, bagaimana tulisan bisa menggentarkan musuh sehingga dapat berfungsi sebagai senjata?

Pertama, tulisan membongkar kebohongan. Musuh membangun narasi palsu untuk membenarkan penjajahan mereka. Tulisan yang jujur akan meruntuhkan narasi itu seperti benteng yang runtuh. Setiap artikel yang mengungkap fakta pembantaian Gaza adalah peluru yang menembus perisai propaganda mereka.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Kedua, tulisan menggugah kesadaran umat. Musuh gentar ketika umat Islam sadar akan hak-hak mereka dan mulai bergerak. Tulisan yang membangkitkan kesadaran adalah panggilan perang yang membuat mereka ketakutan.

Ketiga, tulisan menggerakkan solidaritas global. Ketika dunia membaca kebenaran, hati mereka tergerak. Tekanan internasional meningkat, dan musuh merasa terpojok. Inilah bentuk “menggentarkan” yang dimaksud dalam Al-Anfal 60.

Menulis untuk Pembebasan Al-Aqsa

Menulis tentang Palestina adalah jihad dengan pena. Inilah yang dilakukan oleh para aktivis media, mulai dari memproduksi berita, artikel, dan narasi yang membangun kesadaran umat dan membongkar kedzaliman penjajah.

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Setiap kata yang ditulis untuk membela Palestina adalah batu bata benteng pertahanan umat. Setiap artikel yang disebarkan adalah peluru yang ditembakkan ke jantung kebohongan. Setiap analisis yang tajam adalah pedang yang memotong mata rantai propaganda.

Di zaman digital ini, pena menjelma menjadi pena digital, berupa: tulisan, video, dan konten media yang menggugah kesadaran umat.

Mari kita tulis kebenaran tentang Al-Aqsa dan Palestina. Sebarkan berita-berita yang tidak dimuat oleh media mainstream. Lawanlah propaganda Zionis dengan fakta yang kuat. Bongkarlah kedzaliman dengan narasi yang menggugah.

Betul apa yang dikatakan penyair, “Pena lebih tajam daripada pedang.”  Pedang hanya bisa mengenai satu orang dalam satu waktu, tetapi tulisan dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan detik, melalui media digital.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Kita telah belajar dari Shalahuddin bahwa kemenangan Baitul Maqdis tidak dibebaskan dengan pedang semata, tetapi dengan pena Al-Qadhi Al-Fadhil.

Kita juga telah belajar dari Prof. El-Awaisi, “Liberation of mind before liberation of land,” bebaskan pikiran sebelum membebaskan tanah Palestina.

Maka, mari kita persiapkan kekuatan tulisan sebagai senjata kita. Mari kita tulis, kita sebarkan, dan kita suarakan kebenaran untuk Palestina. Karena pembebasan Al-Al-Aqsa bukan hanya melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui kekuatan kata-kata yang menggetarkan hati dan membangunkan kesadaran umat.

Allahu Akbar! Al-Aqsa Haqquna!

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda