Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sistem Medis Gaza Runtuh, 86% Bahan Uji Laboratorium Habis

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 8 Mei 2026 - 08:10 WIB

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:10 WIB

26 Views ㅤ

Tim Medis di Jalur Gaza. (Jaridah Al-Quds)

Gaza, MINA – Otoritas Kesehatan di Jalur Gaza mengeluarkan peringatan mengerikan tentang keruntuhan sistem medis yang semakin cepat, dengan 86% bahan pengujian laboratorium penting kini sama sekali tidak tersedia.

Kekurangan parah ini telah menyebabkan penghentian hampir total layanan diagnostik vital. Ribuan nyawa orang yang terluka dan sakit kini terancam, seiring blokade Israel yang terus diperketat dan arus pasokan medis melalui penyeberangan yang dihentikan total.

Sumber medis menjelaskan, kekurangan ini memengaruhi pemeriksaan rutin dan darurat yang paling mendasar, seperti tes darah komprehensif, deteksi penyakit menular, dan pemantauan penyakit kronis.

Para dokter mengibaratkan situasi ini seperti berjalan di tengah gelap tanpa lentera. Tanpa hasil laboratorium yang mengklarifikasi kondisi pasien dan respons mereka terhadap obat-obatan yang tersedia, keputusan medis yang akurat mustahil dibuat.

Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur

Di Kompleks Medis Syifa, Kota Gaza, analis medis Rania Al-Helou menegaskan bahwa situasi semakin memburuk setiap hari tanpa tanda-tanda terobosan.

Dia menyatakan bahwa laboratorium saat ini menderita kekurangan total bahan pengujian untuk gas darah, garam (elektrolit)  dan enzim jantung.

Padahal, elemen-elemen ini mutlak diperlukan bagi pasien di ruang perawatan intensif (ICU) atau pasien jantung. Tanpa pemantauan rutin dan ketat, kondisi mereka bisa memburuk dalam hitungan jam.

Pasien Kanker dan Gagal Ginjal Paling Rentan

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Dampak krisis paling parah dirasakan oleh kelompok pasien yang paling rentan, terutama pasien dialisis (cuci darah) dan pasien tumor kanker. Kedua kelompok ini membutuhkan tindak lanjut laboratorium yang cermat dan berkelanjutan.

Menurut staf medis, banyak kasus yang kondisi kesehatannya memburuk dengan cepat. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan rumah sakit melakukan tes yang seharusnya menentukan protokol kemoterapi atau dosis dialisis yang diperlukan.

“Kami kehilangan nyawa pasien karena kami sama sekali tidak dapat menindaklanjuti kondisi klinis mereka. Bahan pengujian laboratorium yang paling dasar pun sudah menipis,” ujar seorang tenaga medis.

Sementara itu, para pasien di Gaza mengungkapkan keputusasaan mereka atas realitas kesehatan yang sulit. Seorang pasien kanker melaporkan bahwa ia tidak dapat menjalani tes laboratorium selama tiga bulan berturut-turut.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Tragedi serupa terulang pada ratusan pasien lain. Mereka datang ke rumah sakit bergantian, hanya untuk menemukan bahwa bahan tes kalium, fosfor, dan darah sama sekali tidak tersedia. Akibatnya, kunjungan mereka ke dokter hampir tidak membawa manfaat.

Rumah Sakit Tempat Penampungan

Laporan lapangan menunjukkan bahwa peluang bertahan hidup bagi pasien di Jalur Gaza semakin kecil setiap jam yang berlalu tanpa masuknya pasokan medis. Rumah sakit-rumah sakit di Gaza kini hanya menjadi tempat penampungan, bukan pusat perawatan yang sesungguhnya.

Krisis kesehatan ini adalah bagian dari dampak perang habis-habisan yang telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Infrastruktur sektor kesehatan menjadi sasaran langsung dan sistematis dari agresi militer Israel. []

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda