Smith Alhadar: Iran Harus Perhatikan Rakyatnya

Pengamat Timur Tengah dan Penasehat ISMES Smith Alhadar. (Foto: Smith Alhadar/MINA)

Jakarta, MINA – Pengamat Timur Tengah asal Indonesia Smith Alhadar menilai, langkah yang seharusnya diambil pemerintah Iran sekarang ini adalah memperhatikan rakyatnya sendiri.

Menurutnya, pemerintah Iran kurang perhatian terhadap warganya yang mengalami kondisi ekonomi buruk. Teheran ia anggap lebih mementingkan kebijakan luar negeri yang mengeluarkan biaya besar.

“Itu masalah utama Iran. Pemerintah Iran kurang memperhatikan rakyatnya sendiri dengan  menghambur-hamburkan uang membayar milisi Shiah yang dikirim ke Suriah,” katanya kepada MINA lewat telepon di Jakarta, Jumat (5/1).

Dalam konflik Suriah, selain Rusia, Iran adalah sekutu utama Presiden Bashar Al-Assad. Iran menggaji ribuan milisi asal Afghanistan untuk dikirim berperang ke Suriah mendukung pasukan Assad.

Penasehat di lembaga Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) ini mengungkapkan bahwa ada 10 juta warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara 30 juta lagi hidup miskin secara relatif.

Terkait tudingan kuat adanya campur tangan Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat, agen Mossad Israel dan intelijen Arab Saudi dalam kerusuhan di Iran, Smith mengiyakannya.

“Tapi Iran jangan cuci tangan. Memang benar bahwa mereka ikut bermain. Tapi jika tidak ada masalah, mungkin rakyat Iran tidak mudah diprovokasi,” katanya.

Namun menurutnya, demonstrasi yang terjadi di beberapa kota negara tersebut, tidak akan sampai kepada revolusi. Sebab, tambahnya, rakyat yang pro kepada pemerintah Teheran lebih banyak dibandingkan yang anti.

Sejak Kamis, 28 Desember, sedikitnya sudah 22 orang yang tewas terkait demonstrasi antipemerintah di Iran.

Pada Rabu, 3 Januari 2018, Pemerintah Iran telah mengumumkan berakhirnya demonstrasi di negara tersebut.

“Hari ini kita bisa mengumumkan akhir dari penghasutan tersebut. Sejumlah besar pembuat masalah, yang mendapat pelatihan dari kontrarevolusioner telah ditangkap dan segera mendapat tindakan tegas,” kata Pimpinan Garda Revolusi Iran Jenderal Mohammad Ali Jafar. (L/RI-1/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)