Tel Aviv, MINA – Menteri Keuangan Israel dari sayap kanan, Bezalel Smotrich, memaparkan rencana untuk mendatangkan satu juta imigran Yahudi dari Amerika Utara dan Eropa ke Israel dalam satu dekade mendatang, di tengah upaya percepatan perluasan permukiman dan aneksasi atas wilayah Palestina yang diduduki.
Usulan ini muncul di saat semakin banyak warga Israel yang meninggalkan negara itu, menyusul perang, gejolak politik, dan perpecahan yang kian mendalam selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, The New Arab melaporkan.
Dalam wawancara dengan surat kabar Israel The Jerusalem Post, Smotrich menyatakan keinginannya untuk membuat undang-undang yang memungkinkan komunitas Yahudi di luar negeri mendapatkan alokasi lahan dan perumahan, tanpa harus melalui proses tender dan perencanaan standar Israel.
Smotrich mengatakan ia telah mempresentasikan rencana tersebut kepada Netanyahu sekitar enam pekan yang lalu. Ia mengklaim isu imigrasi sempat “diabaikan” sementara pemerintah lebih berfokus pada apa yang ia sebut sebagai revolusi di bidang keamanan dan permukiman.
Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera
Kebijakan permukiman tersebut mencakup pendirian dan perluasan permukiman di wilayah Palestina yang diduduki, legalisasi pos-pos terdepan yang sebelumnya tidak sah, serta upaya yang semakin gencar untuk memberlakukan kedaulatan Israel atas Tepi Barat yang diduduki.
Langkah ini juga diambil saat Israel menghadapi masalah emigrasi yang kian meningkat. Sebuah laporan terbaru Knesset menunjukkan bahwa jumlah warga Israel yang kembali ke tanah air mereka turun sebesar 53%, dari sekitar 8.000 orang pada tahun 2020 menjadi hanya 3.800 orang pada tahun 2024.
Israel mencatat saldo migrasi negatif di kalangan warganya antara tahun 2022 dan 2024, dengan pengurangan sekitar 140.000 orang dari saldo migrasi negara tersebut selama periode tiga tahun itu.
“Kita kini harus menangani masalah imigrasi dengan tingkat perhatian, momentum, dan investasi yang sama seperti saat kita menangani masalah keamanan dan permukiman,” ujar Smotrich.
Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa
Meskipun mendapat tentangan dari para pejabat profesional di Kementerian Keuangan, Smotrich tetap menginginkan adanya pembangunan infrastruktur publik berskala besar untuk mengakomodasi lonjakan kedatangan yang diusulkannya tersebut.
Pembangunan tersebut akan mencakup sekolah, sinagoge, dan berbagai fasilitas komunitas lainnya, serta direncanakan melalui koordinasi dengan komunitas itu sendiri dan pihak pengembang.
Smotrich juga memaparkan usulan imigrasi massal ini sebagai sebuah proyek ekonomi, dengan menyatakan: “Ini bukan pengeluaran, melainkan investasi.”
Namun, upaya untuk mendatangkan satu juta imigran Yahudi baru ini dilakukan di tengah kesulitan Israel dalam meyakinkan warga Israel yang sudah tinggal di luar negeri untuk kembali ke tanah air.
Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza
Menurut laporan Knesset, jumlah warga yang kembali dari Amerika Serikat turun dari sekitar 3.700 orang pada tahun 2020 menjadi sekitar 1.500 orang pada tahun 2024.
Laporan tersebut menyebutkan masalah ekonomi dan birokrasi, serta situasi keamanan dan sosial di Israel, sebagai faktor-faktor yang menghambat warga Israel untuk kembali.
Kendati demikian, Smotrich menegaskan “tidak ada masa depan jangka panjang bagi komunitas Yahudi di luar Israel,” seraya menyoroti dugaan adanya antisemitisme dan kondisi yang tidak aman di luar negeri. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
















Mina Indonesia
Mina Arabic