Syafi’i Antonio: Piramida Terbalik Penguasa Asset Nasional

Pakar Keuangan Syari’ah, M Syafi’i Antonio. (Foto: Risma MINA)

Jakarta, 22 Rabiul Awwal 1438/22 Desember 2016 (MINA) – Pakar Keuangan Syari’ah, M Syafi’i Antonio mengatakan Indonesia tumbuh tetapi tumbuhnya tanpa pemerataan yang baik. Dimana-mana tumbuh tetapi kemiskinan sangat banyak, pengangguran tambah banyak, kemudian secara keseluruhan kemiskinan juga tidak signifikan berkurangnya.

“Yang lebih berbahaya sesungguhnya bukan hanya itu saja, tetapi adalah piramida terbalik dari komposisi penguasaan aset nasional. Ini yang harus di address secara serius, jika tidak ini akan menjadi satu bahaya laten lebih bahaya dari PKI yang sekarang mulai bangkit,” katanya dalam acara Outlook DKI Jakarta 2017: Membangun Jakarta yang Bermartabat dan Berbudaya, di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Kamis (22/11).

Kenapa bahaya, tambahnya, karena suatu kesalahan yang sangat besar adalah jika anda menganggap diri anda tidak salah. “Indonesia dengan PKI itu dianggap tidak berbahaya, padahal ini yang bisa menjadi bahaya yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Piramida penduduk Indonesia dari sisi ras dan agama, menunjukkan Muslim sekitar 87% dan yang non-muslim sekitar 13%. “Kenapa harus disebut muslim dan non-muslim, karena ternyata komposisi ini menjadikan ekonomi Indonesia rentan terhadap rasa ketidakadilan, dan rasa ketidaknyamanan,” ucapnya.

Akhirnya, ini sangat mudah untuk tersulut kemudian menjadi satu hal yang bisa membahayakan keamanan, akibat dari ini adalah terjadinya banyak kekacauan seperti di Malaysia dan Indonesia.

“Sesungguhnya apa yang terjadi pada 212 didepannya memang isu tentang penistaan agama, tetapi gunung es di bawahnya adalah rasa ketidakadilan sosial ekonomi,” tuturnya.

Menurutnya, hal diatas akan menjadi snowbolling kalau seandainya tidak di antisipasi dengan baik. “Disini kenapa letak Jakarta sangat penting, karena 60% perputaran keuangan nasionalnya adalah di Jakarta, dan seluruh pasar modal kegiatan terbesarnya tinggal di Jakarta,” tutupnya. (L/Ima/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)