Syukurilah Nikmat Waktu Agar Tak Rugi

Oleh: Mustofa Kamal, Pegiat Da’i 1000 Masjid Lampung Tengah 

Sinonim dari kata waktu adalah zaman, kurun, periode, abad, era, kala, ketika, masa, durasi, jangka dan seterusnya. Siapapun orangnya yang dapat mengunakan waktu dengan baik pasti akan beruntung, dan kebalikannya, siapa yang tidak dapat menggunakan waktu dengan baik, maka akan mendapatkan kerugian. Oleh karenanya mensyukuri nikmat waktu adalah sangat penting dalam kehidupan ini.

Allah telah bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur’an surah Al-Asr ayat 1-3. Ini adalah isyarat penting bagi Rasulullah beserta umatNya.

وَٱلۡعَصۡرِ  ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ  ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ  ٣

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Ayat di atas adalah Ayat Makkiyah yang diturunkan pada masa sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, terdiri dari 3 ayat, penamaan surat ini diambil dari ayat pertama Al-Asr yang berarti waktu atau zaman.

Imam Syafi’ie Rahimahullah mengatakan, seandainya manusia merenungkan makna surat ini, niscaya surat ini akan membuat mereka mendapat keluasan.

Adapun menurut Imam Jalalain,

{وَالْعَصْر} الدَّهْر أَوْ مَا بَعْد الزَّوَال إِلَى الْغُرُوب أَوْ صَلَاة الْعَصْر

“(Demi masa) atau zaman atau waktu yang dimulai dari tergelincirnya matahari hingga terbenamnya; maksudnya adalah waktu salat Asar.”

Sedangkan menurut Imam Ibnu katsir,

العصر الزمان الذي يقع فيه حركات بني آدم من خير وشر

“Al-Asr artinya zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan baik dan buruk.”

Ketika manusia tidak bisa mensyukuri nikmat waktu, maka ia akan rugi. Dalam Tafsir Jalalain disebutkan rugi dalam perniagaan. Kebanyakan orang hanya berorientasi pada “Time is money”, waktu adalah uang, padahal seharusnya, “Time is worship”, waktu adalah ibadah.

Berdasar firman Allah Subhanahu Wata’ala, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali ada beberapa faktor yang mengakibatkan Keberuntungan.

Pertama, orang yang Beriman. Menurut para ulama, iman itu ialah keyakinan atau pembenaran dalam hati, diucapakan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan.

Orang yang beriman, hatinya menerima semua ajaran yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘alahi wa sallam. ‘Pengakuan dengan lisan’ artinya mengucapkan dua kalimat syahadat ‘asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’. Sedangkan ‘perbuatan dengan anggota badan’ artinya amal hati yang berupa keyakinan-keyakinan dan beramal dengan anggota badan yang lainnya dengan melakukan ibadah-ibadah sesuai dengan kemampuannya. (Lihat Kitab At Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al ‘Aali, hal. 9).

Kedua, Orang yang beramal shaleh. Amal shaleh adalah perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi sesama, yang dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan contoh Rasul-Nya. Sedang amal yang tidak demikian, dapat disebut dengan amal yang buruk atau amal salah.

Maka amal shaleh inilah yang disebut sebagai ibadah, baik itu mahdah atau ghairu mahdah (ibadah yang telah ditentukan waktunya yakni shalat, puasa, haji dan seterusnya dan ibadah yang tidak di tentukan waktunya seperti berdzikir, wirit dan seterusnya).

Namun amaliyah tersebut di atas menjadi bernilai ibadah apabila ada keiklasan hanya sebagai wujud ketaatan menjalankan perintah Allah dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shalalahu Alaihi Wasallam. Keimanan harus harus disertai dengan amal saleh, sebagai aplikasinya.

Ketiga, menasehati dengan kebenaran. Menasehati dengan kebenaran berarti melaksanakan dan mengajak kepada melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah.

Memotifasi diri dan memotifasi orang lain untuk melakukan kebenaran merupakan perbuatan mulia dan juga sebagai introspeksi diri, sebagai tadabbur (renungan) agar tetap eksis dalam koridor ketaqwaan kepada Allah sebagai bekal hari akhirat.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-Hasyr (59) Ayat 18:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ  ١٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Keempat, menasehati dengan kesabaran. Saling Menasehati dengan kesabaran adalah tetap sabar dan tabah pada jalan kebaikan, tetap sabar dan tabah dalam ketaatan, tetap sabar dan tabah dalam menghadapi musibah, cobaan, gangguan dan malapetaka, serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemungkaran.

Yang itu merupakan manifestasi ketaqwaan yang diajarkan oleh Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam.

Dengan empat faktor yang kita jalankan tersebut, mudah-mudahan kita semua digolongkan oleh Allah sebagai orang-orang yang beruntung, baik ketika hidup di dunia sampai kelak menghadap Allah di Akhirat, Aamiin. (A/Mtf/B03/P1)

Mi’raj  News Agency (MINA).