Tadabbur Al-Qur’an Surat Al-Hajj (22) Ayat 78

Oleh: Mustofa Kamal, Pegiat Da’i 1000 Masjid Lampung Tengah

 

وَجَـٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍۢ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَـٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah pada Allah.,”Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

“Dan berjihadlah kamu dengan jihad yang sesungguhnya” dalam tafsir Al-Qurtubi dijelaskan yang dimaksud ialah jihad melawan orang-orang kafir. Dan dikatakan ini mengacu atau isarat pada mematuhi semua yang diperintahkan Allah, dan menahan diri dari semua yang dilarang Allah. Artinya, berjuanglah dirimu sendiri dalam menaati Allah dan menolak dari keinginan (hawa nafsu), dan berjuang melawan setan untuk menolak bisikannya, dan kegelapan untuk menolak penindasan mereka, dan terhadap orang-orang kafir untuk menolak kekafiran mereka.”

Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan yakni berjihad dengan harta benda, lisan, dan jiwa kalian, pengertianya adalah sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ} bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 102). Yakni agar orang-orang mukmin mencapai derajat ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.

Kelanjutan ayat “Dia (Allah) telah memilih kamu”. Bermakna Allah telah memilih Nabi kita Muhammad Shalalahu Alaihi Wasallam dan umat ini (umat Islam) sebagai sebaik-baik umat yang mengemban dakwah universal (Islam rahmatan lil ‘alamin).

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wata’ala dalam Surat Ali-Imran (3) Ayat 110 :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَـٰبِ لَكَانَ خَيْرًۭا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَـٰسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Mereka adalah sebaik-baik umat dan manusia yang paling bermanfaat buat umat manusia. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

{تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ}

Menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (Ali Imran: 110).

Dari umat yang terbaik, masih disaring lagi sehingga menjadi manusia yang terbaik yaitu yang paling pandai membaca Al-Qur’an, yang paling bertaqwa, yang paling gencar melakukan Amar makruf nahil munkar juga paling gemar bersilaturahmi.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Sammak, dari Abdullah ibnu Umairah, dari Durrah binti Abu Lahab yang menceritakan: Seorang lelaki berdiri menunjukkan dirinya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang saat itu berada di atas mimbar, lalu lelaki itu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?” Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Manusia yang terbaik ialah yang paling pandai membaca Al-Qur’an dan paling bertakwa di antara mereka kepada Allah, serta paling gencar dalam melakukan amar makruf dan nahi munkar terhadap mereka, dan paling gemar di antara mereka dalam bersilaturahmi.” (HR. Ahmad)

Selanjutnya ayat, “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” yakni agama Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam, juga dalam syari’at pelaksanaannya tidak memberatkan bagi pemeluknya.

Kelanjutan ayat, “ikutilah agama orang tuamu Ibrahim”. Artinya agama Islam adalah agama para Nabi. Mereka bukan sebapak dan seibu bahkan berbeda masa ketika diutus, namun agama mereka satu sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya [21]: Ayat 25).

Kemudian dalam Surat Ali-Imran (3) Ayat 19

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَـٰمُ ۗ وَمَا ٱخْتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْعِلْمُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Dan mereka para Nabi mendakwahkan dan mengamalkan syariat hidup berjamaah (bersatu padu) sebagaimana dalam ayat Allah Ta’ala:

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّينِ مَا وَصّٰى بِهِۦ نُوحًا وَالَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرٰهِيمَ وَمُوسٰى وَعِيسٰىٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura 42: Ayat 13).

Kelanjutan ayat “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah pada Allah.”Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Karenanya, dirikanlah shalat, tunaikan zakat, lalu amalkan hidup dalam kesatuan umat (hablillah) pasti Allah akan datangkan perlindungan dan pertolongan. (A/B03/P1).

Mi’raj News Agency (MINA).