Bangkok, MINA — Militer Thailand dan Kamboja memulai pembicaraan tingkat tinggi pada Rabu (24/12) sebagai langkah mendesak untuk meredakan bentrokan berdarah di perbatasan yang telah menewaskan puluhan orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
Thailand News melaporkan, Kamis (25/12) para diplomat dan militer terlibat dalam diskusi tersebut. Perundingan itu digelar di pos pemeriksaan perbatasan Ban Laem di Provinsi Chanthaburi, Thailand.
Pembicaraan four-day meeting yang difasilitasi oleh Komite Perbatasan Umum (General Border Committee) dipandang sebagai titik awal upaya menghidupkan gencatan senjata setelah eskalasi sengit sejak awal Desember yang menyebabkan paling sedikit 86 korban tewas dari kedua pihak dan ratusan ribu warga sipil mengungsi dari rumah mereka.
Sebelum pembicaraan dimulai, perdana menteri kedua negara sepakat di bawah tekanan diplomatik regional dan internasional untuk membuka dialog guna menuntaskan konflik, termasuk hasil pertemuan di Kuala Lumpur yang dihadiri para menteri luar negeri ASEAN serta pihak ketiga yang mencoba menopang kembali gencatan senjata yang sebelumnya runtuh.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
bukti komitmen nyata dari lawan. Thailand menegaskan bahwa Cambodia harus terlebih dahulu mengumumkan gencatan senjata secara publik dan menjamin pelaksanaan kerja sama operasi pemantauan di lapangan, sementara Kamboja terus menekan agar pembicaraan digelar di lokasi netral dan segera menghentikan segala bentuk permusuhan.
Dalam konflik yang berkepanjangan ini, kedua negara telah saling menyalahkan atas pelanggaran terhadap kesepakatan damai sebelumnya, termasuk tuduhan penggunaan tembakan artileri dan serangan terhadap daerah permukiman serta lokasi sipil di sepanjang garis perbatasan yang panjangnya mencapai sekitar 817 kilometer.
Para analis menilai bahwa perundingan militer ini adalah salah satu peluang terbaik untuk mengakhiri konflik yang menghancurkan kehidupan warga di kedua sisi perbatasan, namun keberhasilan negosiasi akan sangat bergantung pada kesediaan kedua belah pihak untuk benar-benar menghormati komitmen gencatan senjata dan menghentikan aksi militer yang telah berlangsung beberapa pekan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
















Mina Indonesia
Mina Arabic