Kinshasa, MINA — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus meluas dengan jumlah kasus terkonfirmasi menembus 8.000 orang. Data terbaru otoritas kesehatan setempat mencatat 8.067 kasus dan 3.901 kematian hingga 26 September 2026.
Wabah yang disebabkan virus Ebola jenis Bundibugyo tersebut telah menjangkau 63 zona kesehatan di tujuh dari 26 provinsi Kongo. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hingga 23 September terdapat 7.890 kasus terkonfirmasi dengan 3.799 kematian, menunjukkan peningkatan cepat dalam beberapa hari berikutnya.
WHO menyebut tingginya angka kematian menunjukkan masih adanya tantangan dalam mendeteksi kasus secara cepat dan memastikan pasien memperoleh perawatan sejak dini. Tingkat kematian kasus tercatat sekitar 48 persen berdasarkan data terbaru WHO. Al-Jazeera melaporkan, Selasa (29/9).
Wabah ini kini menjadi yang terbesar dan paling mematikan dalam sejarah Kongo, melampaui wabah Ebola 2018-2020 yang sebelumnya merupakan wabah terbesar di negara tersebut.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Secara global, wabah Kongo saat ini berada di bawah wabah Afrika Barat 2014-2016 yang menyebabkan lebih dari 28.600 kasus dan lebih dari 11.000 kematian.
Upaya penanganan menghadapi berbagai kendala, termasuk kekurangan tenaga kesehatan, gangguan keamanan, perpindahan penduduk, serta penolakan sebagian masyarakat terhadap langkah pengendalian wabah.
WHO juga melaporkan perluasan wilayah terdampak meningkatkan risiko penularan lintas batas, terutama karena terdapat zona kesehatan yang berbatasan dengan negara lain.
Sejumlah wilayah memang mulai menunjukkan penurunan kasus, tetapi penyebaran geografis penyakit masih berlangsung.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
WHO dan otoritas kesehatan Kongo terus memperkuat surveilans, pelacakan kasus, perawatan pasien, serta langkah pencegahan untuk membatasi penyebaran wabah Ebola yang masih menjadi keadaan darurat kesehatan serius di negara tersebut. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic