Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

DR SA’ID SHALAH : RS INDONESIA DI GAZA MENDESAK SEGERA BEROPERASI

Rudi Hendrik - Senin, 14 Juli 2014 - 18:41 WIB

Senin, 14 Juli 2014 - 18:41 WIB

2074 Views

Syeikh Raid Salah, Kepala ngabungan rumah sakit di Gaza Utara dalam wawancara dengan MINA. Foto:MINA
Syeikh Raid Salah, Kepala ngabungan rumah sakit  di <a href=

Gaza Utara dalam wawancara dengan MINA. Foto:MINA" width="300" height="198" /> dr. Sa’id Shalah, Kepala Gabungan Rumah Sakit di Gaza Utara saat diwawancarai wartawan MINA. (Foto : MINA)

Wawancara Eksklusif dengan dr. Sa’id Shalah, Kepala Gabungan Rumah Sakit di Jalur Gaza

Agresi militer Zionis Israel terhadap Jalur Gaza yang dilakukan secara brutal dan membabi buta memberikan efek buruk terhadap warga Gaza, terutama wanita dan anak anak. Kondisi kehidupan di jalur ini berubah menjadi sangat sulit, aktivitas kehidupan benar-benar jatuh dan vakum.

Warga juga mulai merasa khawatir atas keselamatan anak-anaknya karena rumah-rumah mereka beserta para penghuninya berpotensi menjadi korban serangan rudal pesawat tempur Zionis Israel seperti berlangsung selama ini.

Sementara sebagian warga lain diliputi rasa cemas terhadap rencana serangan darat. Sebagian warga ada yang mulai mengungsi ke sekolaha-sekolah milik PBB. Ratusan warga sudah menjadi syuhada, sementara ribuan lainnya terluka. Warga terluka jelas sangat memerlukan pengobatan, penanganan medis dan perawatan segera di Rumah Sakit.

Baca Juga: Wawancara Eksklusif Prof El-Awaisi: Ilmu, Kunci Pembebasan Masjid Al-Aqsa

Untuk mengetahui sejauh mana kondisi di sana, Tim Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) berkesempatan mewawancarai langsung dr. Sa’id Shalah, Kepala Gabungan Rumah Sakit di Gaza Utara, yang berada di bawah Kementerian Kesehatan.

MINA: Bagaimana kondisi rumah sakit di wilayah utara Jalur Gaza setelah agresi Israel terbaru?

dr. Sa’id Shalah : Wilayah Jalur Gaza utara memiliki beberapa rumah sakit di antaranya Rumah Sakit Bait Hanun, Rumah Sakit Pelayanan Masyarakat, Rumah Sakit AlAudah, dan yang terbesar adalah Rumah Sakit Kama ‘Udwan yang berkapasitas 100 tempat tidur.

Selain itu juga terdapat Rumah Sakit Indonesia, yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Rumah Sakit Indonesia dengan Spesial Traumatologi, yang sangat diperlukan bagi warga Jalur Gaza utara. Kami berharap dalam waktu dekat Rumah Sakit Indonesia dapat segera beroperasi.

Baca Juga: Wawancara Ekskusif Prof Abdul Fattah El-Awaisi (3): Kita Butuh Persatuan untuk Bebaskan Baitul Maqdis

dr. Sa'id Shalah, <a href=

Gaza" width="119" height="178" /> dr. Sa’id Shalah, Gaza

MINA: Bagaimana kondisi Rumah Sakit Kamal ‘Udwan selama perang ini?

dr. Sa’id Shalah : Kami sebagai warga Palestina dan sebagian tenaga medis berusaha melakukan tugas kami sesuai kemampuan kami. Kami insya Allah mengerahkan segala hal yang kami miliki dalam melayani warga kami tanpa memandang siapa mereka. Dan sebagaimana yang sudah diketahui secara umum bahwa kami mengalami kekurangan dari segi obat-obatan dan peralatan medis.

Untuk itu, kami meminta kepada masyarakat di kawasan Arab dan dunia untuk membantu kami dari segi ini.

Selain itu, kondisi pintu perbatasan Rafah yang kembali tutup, menambah masalah tersendiri bagi kami. Kami kesulitan kembali menerima barang-barang kebutuhan untuk masuk ke Jalur Gaza, terutama kebutuhan medis. Kami mendesak kepada seluruh kalangan untuk bisa membantu kami agar pintu Rafah dibuka kembali secara normal.

Baca Juga: Wawancara Ekskusif Prof Abdul Fattah El Awaisi (2): Urgensi Rencana Strategis Bebaskan Baitul Maqdis

Selama enam hari agresi ini, secara rutin Rumah Sakit Kamal ‘Udwan menerima pasien antara 60-70 pasien. Dalam waktu sepekan terakhir rumah sakit menerima 16 syuhada dan 350 korban luka, baik luka parah atau ringan. Dalam pemeriksaan ditemukan pasukan Zionis Israel mengarahkan serangannya pada kepala, dada dan perut korban dengan senjata rudal. Sehingga banyak korban meninggal dalam kondisi fisik mengenaskan.

Namun, para pasien yang masih bisa ditangani, kami usahakan semaksial mungkin. Adapun pasien yang tidak dapat kami tangani, segera kami rujuk ke Rumah Sakit utama di Jalur Gaza, yaitu Rumah Sakit Asy-Syifa.

Untuk perawatan inap, rumah sakit belum memungkinkan melakuan rawat inap terlalu lama bagi pasien, karena banyaknya menyusul pasien berikutnya. Sehingga petugas medis harus menangani pasien baru.

Masalah ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Rumah Sakit Kama ‘Udwan. Namun terjadi juga di seluruh rumah sakit di Jalur Gaza, apalagi pada saat-saat perang seperti saat ini.

Baca Juga: Fenomana Gelombang Panas, Ini Pendapat Aktivis Lingkungan Dr. Sharifah Mazlina

MINA : Pesan Anda untuk Indonesia, karena tadi Anda menyebutkan RS Indonesia?

dr. Sa’id Shalah: Warga Indonesia adalah saudara-saudara kami, keluarga kami dan bagian dari kami. Mereka dapat merasakan perih seperti yang kami rasakan. Kami hanya dapat katakan “Jazaakumullaahu khairaa “(Semoga Allah membalas dengan pahala kebaikan).

Kami sangat membutuhkan dukungan moral dan mental, sebagaimana yang selalu mereka lakukan ketika kami dalam kondisi diserang seperti ini. Kami tahu, kaum muslimin di Indonesia selalu keluar dari rumah masng-masing mengadakan demonstrasi turun-turun ke jalan mengecam serangan Zionis Israel. Ini sebuah dukungan moral luar biasa bagi kami.

Terima kasih untuk seluruh masyarakat dunia terutama rakyat Indonesia untuk terus melakukan demo positif itu, dalam rangka

Baca Juga: Wawancara Ekskusif Prof Abdul Fattah El Awaisi (1): Peran Strategis Indonesia dalam Pembebasan Baitul Maqdis

GAZA-300x149.jpg" alt="RS Indonesia di Gaza (Dok MER-C)" width="391" height="194" /> RS Indonesia di Gaza (Dok MER-C)

menunjukkan kepada dunia bahwa seluruh dunia menolak agresi barbar Zionis Israel terhadap warga di Jalur Gaza, Palestina.

Terakhir, khusus untuk RS Indonesia di Gaza Utara, kami harapkan bisa segera beroperasi menangani warga kami yang memerlukan pengobatan. Tentu saja, ini perlu terus didukung secara materi oleh mayarakat di Indonesia. Apa lagi pada saat kondisi seperti saat ini, jika bisa difungsikan RS Indonesia itu, maka akan sangat bermanfaat bagi warga di sini.

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) lembaga kemanusiaan yang mendapat amanah membangun RS Indonesia di Gaza hingga kini terus mengupayakan segera beroperasinya RS tersebut, untuk dapat membantu merawat korban serangan Zionis Israel.

Prioritas utama tahap pembangunan saat ini agar segera beroperasi adalah melengkapi alat kesehatan (alkes) di ruang gawat darurat agar dapat segera digunakan untuk merawat korban yang berjatuhan. Untuk alat kesehatan dianggarkan sekitar 65 miliar rupiah, donasi dari masyarakat Indonesia.

Baca Juga: HNW: Amanat Konstitusi! Indonesia Sejak Awal Menolak Kehadiran Penjajah Israel

RS Indonesia bertipe traumatologi dan rehabilitasi, berstatus wakaf dari Pemerintah Palestina seluas 16.261 meter persegi dengan kapasitas 100 tempat tidur, juga memiliki dua lantai serta satu lantai basement.

Selain itu, RS Indonesia juga memiliki IGD, empat buah kamar operasi, intensive care unit (ICU), laboratorium, instalasi radiologi, poliklinik, rehabilitasi medis seperti farmasi, dapur rumah sakit, laundry dan ketel uap. (L/K01/K02/K03/P03/R2/R1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Baca Juga: Basarnas: Gempa, Jangan Panik, Berikut Langkah Antisipasinya

Rekomendasi untuk Anda