Wawancara Wakil Direktur LPPOM MUI Osmena Gunawan tentang Produk Halal

Produk-produk halal menjadi hal yang amat digandrungi masyarakat di berbagai negara di dunia dalam beberapa tahun belakangan, tak terkecuali di Indonesia yang memang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menargetkan menjadi pusat halal dunia.

Pada kesempatan ini, Wartawan Kantor Berita MINA Jahrotul Mufidah melakukan bincang-bincang ringan seputar kemungkinan Indonesia, Jakarta khususnya, menjadi pusat halal dunia bersama Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Osmena Gunawan. Berikut petikannya:

MINA: Pandangan Ibu mengenai potensi Jakarta menjadi pusat halal dunia?

Osmena: DKI Jakarta sebetulnya kansnya atau potensinya sangat besar untuk menjadi pusat halal dunia. Pertama, Muslimnya terbesar. Kedua, orang sangat paham akan makanan halal, kenapa? Karena untuk makanan halal itu orang paham tidak hanya untuk Muslim. Hal ini sesuai dengan apa yang ada dalam Surat Al-Baqarah ayat 168. Di situ-kan tidak hanya untuk muslim.

Makanya sekarang Korea, Jepang, dan Thailand-pun menerapkan makanan halal, karena terbukti itu buat mereka adalah healthy. Maka moto LPPOM itu ada yang disebut halal is my life.

MINA: Kenapa harus Jakarta yang menjadi pusat destinasi halal?

Osmena: Kenapa saya sangat ingin DKI menjadi pusat halal dunia? Presentasi saya mengenai ini (pusat halal) sudah beberapa tahun sebelumnya, sekitar 5 tahun sebelumnya saya sudah presentasi kemana-mana untuk menjadikan DKI Jakarta menjadi destinasi halal.

Masalahnya tidak semua orang paham apa yang saya maksud. Saya sudah presentasi di berbagai dinas termasuk ke gubernur. Dulu zamannya Pak Jokowi sudah diterima buktinya saya bisa menelurkan peraturan Pergub. Itu-kan dulu saya yang konsep Pergub, Peraturan Gubernur yang ditandatangani oleh Pak Jokowi pada tahun 2013 bulan Oktober.

Nah setelah Pak Jokowi jadi calon presiden, tahu sendiri kan setelah itu Ahok. Ahok aja bilang ngapain halal-halal, yang penting orang makan nggak mati, dia bilang gitu. Nah setelah itu, terus terang saja akhirnya saya dengan Pemda-kan jadi nggak bisa ini (membahas lebih lanjut Pergub halal), karena memang Pemda tidak mensupport.

Setelah terpilihnya Anies-Sandi, lalu karena saya tau Pak Sandi yang lebih smart tentang konsep itu. Akhirnya saya presentasi di depan Pak Sandi tentang halal destination. Lalu Pak Sandi mendengarkan presentasi saya dan mengakui ini konsep bagus. Kemudian Pak Sandi mengajak ayo kita garap.

Kemudian ditujulah berbagai lini yang terkait dengan itu. Barulah semua mulai dikerjakan. Kemudian Pak Sandi ditunjuk jadi Wapres dan timnya sebagian besar ikut Pak Sandi. Jadi saya sekarang kembali mandek lagi.

MINA: Lalu, langkah apa yang Ibu tempuh?

Osmena: Saya dengar alhamdulillah baru-baru ini Pak Anies mengundang lini terkait membicarakan destinasi halal di DKI Jakarta ini. Nah mudah-mudahan saja ini bisa berkembang konsepnya. Kenapa saya optimis gitu? Karena sekarang DKI Jakarta mensupport untuk membantu UKM menjadikan produk yang bersertikasi halal.

Yang tadinya awalnya cuma 100 – 300, sekarang melonjak drastis menjadi 1000 IKM (Industri Kecil dan Menengah) dibantu atau difasilitasi oleh Pemprov di bawah naungan Dinas Perindustrian dan Energi. Mudah-mudahan bisa serius menjadikan Jakarta ini bisa menjadi pusat destinasi halal.

MINA: Bisa diceritakan seperti apa konsepnya?

Osmena: Sebetulnya simpel, orang pasti berpikirnya begini, selalu berpikir dari mana mulainya. Dari mana mulainya tentu yang pertama dengan komitmen, apa yang dilakukan tentu penyediaan produk halal, sekarang karena fokus salah satu menjadi destinasi artinya orang berkunjung datang itu sebetulnya adalah potensi market. Di Jakarta nggak ada oleh-oleh yang dibeli orang sebagai oleh-oleh khas Jakarta. Sebetulnya banyak tapi tidak jelas di mana, dan sesuatu yang fokus.

Sebenarnya sekarang udah banyak produk bersertifikat halal, itu saja diangkat. Sekarang produk bersertifikat halal-kan sudah ratusan produk, tapi sekarang di mana orang cari? Tidak ada aplikasi dan sebagainya. Orang cari itu maksud saya kalau bisa untuk difasilitasi semacam super market halal khusus produk UMKM. Makanan kita sangat banyak tapi tidak terpromosikan dan tidak terekspos sehingga orang tidak mengerti.

MINA: Untuk penerapannya?

Osmena: Secara riil itu kadang ada yang menganggap masa mengangkat IKM. Aduh-kan nggak ada duitnya. Padahal sama, kalau dibikin kemasan yang bagus, IKM diangkat itu bagus banget.

Nah ini yang saya minta kalau bisa Dinas Perdagangan DKI itu berkonsep seperti itu. Ayo angkat IKM. Siapa lagi yang mau ngangkat kalau bukan pemerintah. Karena IKM-IKM itu tidak punya dana untuk promosi, dana untuk marketing dan sebagainya, kan mereka tidak punya itu. Di situlah sebenarnya perannya dinas.

Produk-produk yang sudah ada tinggal dikemas dengan bagus dan ditempatkan terfokus. Nanti bisa seperti di Malaysia dan Thailand. Kalau di Thailand itu ada makanan yang dari ubi dijadikan kripik tapi dengan kemasan yang sangat bagus terus dijadikan oleh-oleh.

Kami di pihak LPPOM MUI Jakarta tidak menjangkau sampai pada tahap program ya. Tapi karena saya secara pribadi itu care, negara-negara lain kok bisa ya, padahal mayoritas bukan Muslim. Masa DKI Jakarta yang mayoritas Muslim nggak bisa.

MINA: Bagaimana membuat orang tahu ini makanan halal atau tidak?

Osmena: Yang saya selalu berkoar-koar yaitu adanya lokasi atau lapak yang menyediakan produk-produk bersertifikasi halal khas daerah itu sendiri. Sebenarnya kalau ada kemauan dari masing-masing daerah itu memungkinkan karena saya lihat tempat-tempat atau gedung-gedung ada yang bisa dimanfaatkan.

Masalahnya manajemennya yang sekarang harus benar-benar difikirkan seperti apa supaya managemen itu betul-betul berkelanjutan. Tidak sesaat terus selesai. Jadi betul-betul dibikin konsep bisnis yang berkelanjutan dan bisa mengangkat derajat IKM itu sendiri.

Tugas LPPOM itu memberi sertifikasi halal. Tapi setelah mendapatkan sertifikasi halal mau dikemanakan? Maka bagaimana-pun saya selalu bersosialisasi, edukasi ke berbagai pihak karena saling keterkaitan kebutuhan. Kalau misalnya IKM-nya sudah dapat sertifikat halal sedangkan masyarakatnya nggak care akan produk halal maka akan percuma juga gitu. (W/Mufi/R06)

Mi’raj News Agency (MINA)