Jenewa, MINA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sedikitnya 1.300 orang meninggal dunia akibat gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir.
Lonjakan suhu yang jauh di atas rata-rata musiman memicu krisis kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok lanjut usia, anak-anak, dan mereka yang memiliki penyakit kronis.
Menurut WHO, sebagian besar korban berasal dari negara-negara yang mengalami suhu ekstrem berkepanjangan, termasuk Spanyol, Prancis, Italia, Portugal, dan Jerman. Al-Jazeera melaporkan, Senin (29/6).
Kondisi cuaca yang sangat panas meningkatkan risiko serangan panas (heatstroke), dehidrasi, serta memperburuk penyakit jantung dan gangguan pernapasan yang sudah diderita sebagian masyarakat.
Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon
Selain menimbulkan korban jiwa, gelombang panas juga memicu kebakaran hutan di berbagai wilayah Eropa.
Di Jerman, misalnya, suhu tinggi dan kondisi lahan yang kering menyebabkan kebakaran meluas di sejumlah kawasan hutan, sementara otoritas di beberapa negara lain mengeluarkan peringatan kesehatan dan membatasi aktivitas luar ruangan pada jam-jam tertentu untuk melindungi masyarakat dari paparan panas ekstrem.
WHO mengingatkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas di berbagai belahan dunia.
Organisasi tersebut mendesak pemerintah memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan, serta menyediakan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak suhu ekstrem.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Para ahli iklim menilai fenomena cuaca panas yang terjadi tahun ini merupakan bagian dari tren pemanasan global yang terus berlangsung.
Tanpa langkah mitigasi yang lebih kuat, kejadian serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi dan berdampak lebih luas terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, pasokan air, hingga sektor energi di berbagai negara.
WHO juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di bawah terik matahari pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, menggunakan pakaian yang ringan, serta memperhatikan kondisi anggota keluarga yang rentan terhadap suhu tinggi.
Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan selama gelombang panas masih berlangsung. []
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic