SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

3 Tahun Perang Gaza, Ribuan Wanita Hadapi Kematian, Trauma hingga Keguguran

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:41 WIB

21 Views ㅤ

Seorang wanita Palestina berduka atas kehilangan anggota keluarganya di Kota Gaza (Foto: Omar Ashtawy/APA Images)

Gaza, MINA – Tiga tahun konflik di Gaza membawa dampak berat bagi perempuan dan anak perempuan, mulai dari kehilangan nyawa, trauma psikologis, kekerasan, hingga krisis kesehatan reproduksi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat puluhan ribu perempuan dan anak perempuan tewas, sementara ribuan kehamilan berakhir dengan keguguran di tengah terbatasnya layanan kesehatan.

UN Women melaporkan, Rabu (7/10) lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan telah tewas di Gaza sepanjang Oktober 2023 hingga Desember 2025. Jumlah itu terdiri dari lebih dari 22.000 perempuan dan 16.000 anak perempuan, atau rata-rata sedikitnya 47 perempuan dan anak perempuan meninggal setiap hari selama periode tersebut.

Derita tidak berhenti pada korban jiwa. UNFPA menyebut sekitar 50.000 perempuan hamil masih berada di Gaza dengan kebutuhan layanan persalinan yang sangat besar. Pada enam bulan pertama 2026, hampir 4.000 kehilangan kehamilan dilaporkan, sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan enam bulan sebelumnya.

Baca Juga: Netanyahu Tuding Islam Ekstremis Jadi Dalang Kerusuhan Prancis

Kondisi tersebut berlangsung ketika akses terhadap layanan kesehatan reproduksi masih sangat terbatas. Konflik, perpindahan penduduk, kerusakan fasilitas kesehatan, keterbatasan obat dan alat medis, serta hambatan mobilitas membuat perempuan semakin sulit memperoleh pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan yang aman.

Krisis kesehatan juga berjalan bersamaan dengan tekanan psikologis dan sosial. UNFPA melaporkan meningkatnya risiko kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan seksual, perkawinan paksa dan perkawinan usia dini di tengah kondisi pengungsian, kekurangan tempat tinggal dan terbatasnya akses terhadap layanan dasar.

Selain itu, layanan kesehatan ibu dan bayi di Gaza mengalami tekanan berat. UNFPA menyebut hanya sebagian fasilitas kesehatan yang masih mampu menyediakan layanan obstetri dan neonatal darurat, sementara kebutuhan perempuan hamil terus meningkat. Situasi ini membuat kehamilan dan persalinan menjadi semakin berisiko bagi perempuan Gaza.

PBB dan lembaga kemanusiaan terus menyerukan akses bantuan yang aman, cepat dan berkelanjutan, sekaligus pemulihan layanan kesehatan reproduksi dan dukungan psikososial bagi perempuan serta anak perempuan.

Baca Juga: Serangan Zionis Israel di Gaza Tewaskan Lima Warga Palestina

Bagi ribuan keluarga Gaza, berakhirnya konflik bukan hanya soal keselamatan dari serangan, tetapi juga kesempatan untuk memulihkan kesehatan, keluarga dan masa depan yang telah lama terampas. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Puluhan Pemukim Yahudi Israel Serbu Masjid Al-Aqsa di Bawah Pengawalan Polisi

Rekomendasi untuk Anda