Gaza, MINA – Gerakan perlawanan rakyat palestina Hamas mengecam ancaman Menteri Pertahanan Israel Israel Katz untuk membunuh kepala biro politiknya, Khalil al-Hayya, dan menyebut hal itu sebagai “terorisme negara terorganisir”.
Dalam pernyataan yang diterima Quds Press pada Ahad (11/10), Hamas mengatakan ancaman tersebut tidak akan mengubah posisi politiknya atau komitmennya terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai perlawanan sampai hak-hak Palestina dipulihkan, khususnya berakhirnya pendudukan Israel.
Hamas mengatakan ancaman seperti itu hanya akan memperkuat tekad kepemimpinannya untuk mempertahankan posisi yang ada.
Hamas meminta para mediator untuk mengambil sikap tegas terhadap pernyataan Katz dan mengutuknya secara terbuka. Mereka juga mendesak para mediator untuk menekan pemerintah Israel agar memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata dan peta jalan yang disponsori oleh Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Gerakan itu menegaskan kembali komitmennya terhadap perjanjian gencatan senjata dan menyerukan diakhirinya operasi militer Israel dan pencabutan blokade di Gaza.
Sebelumnya pada Ahad, Katz menyerukan pembunuhan al-Hayya sambil mengkritik dukungan Turkiye terhadap Hamas.
Menurut laporan media Israel, Katz menuduh Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan terus “menggelar karpet merah” bagi individu yang ia gambarkan sebagai “pembunuh dan agresor Hamas.”[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
















Mina Indonesia
Mina Arabic