Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Budak Menjadi Raja: Ketika Sabar Mengalahkan Syahwat

Zaenal Muttaqin Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 27 Februari 2026 - 17:32 WIB

Jumat, 27 Februari 2026 - 17:32 WIB

103 Views ㅤ

Ilustrasi (Foto: Dibuat oleh AI)

ADA satu hal yang sering tak disadari manusia modern: yang menjatuhkan seseorang bukan selalu kekurangan, melainkan kelebihan yang tak terkendali.

Kekuasaan, kecantikan, jabatan, bahkan kecerdasan, semuanya bisa berubah menjadi jerat ketika syahwat memegang kendali.

Di sinilah hikmah tajam dalam kitab syarah Nashoihul Ibad yang ditulis oleh Imam An Nawawi, menemukan relevansinya:

إِنَّ الشَّهْوَةَ تُصَيِّرُ الْمُلُوكَ عَبِيْدًا وَالصَّبْرُ يُصَيِّرُ الْعَبِيدَ مُلُوكًا أَلَا تَرَى إِلَى قِصَّةِ يُوْسُفَ وَزُلَيْخَا

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

“Sesungguhnya syahwat itu dapat menjadikan para raja sebagai budak, dan kesabaran dapat menjadikan para budak sebagai raja. Tidakkah engkau melihat kisah Yusuf dan Zulaikha?”

Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan analisis tentang struktur batin manusia.

Syahwat dalam pengertian para ulama bukan hanya dorongan biologis. Ia mencakup seluruh hawa nafsu: ambisi berlebihan, cinta kekuasaan, ketamakan, keinginan dipuji, dan segala hasrat yang melampaui batas. Ketika syahwat menguasai, seseorang kehilangan kemerdekaan batinnya.

Secara lahiriah ia mungkin seorang raja, punya jabatan, pengaruh dan kuasa. Namun jika ia tak mampu berkata “tidak” pada dirinya sendiri, sejatinya ia hanyalah budak. Budak dari keinginannya sendiri.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Inilah paradoksnya, yang terlihat kuat bisa saja paling lemah. Karena ukuran kekuatan sejati bukan pada seberapa banyak yang kita kuasai, tetapi pada seberapa kuat kita menguasai diri.

Sebaliknya, sabar bukan sekadar menahan penderitaan. Sabar adalah kemampuan menjaga prinsip di tengah godaan. Ia adalah bentuk tertinggi dari pengendalian diri.

Sabar membuat seseorang tetap tegak meski sendirian. Ia mungkin tak memiliki posisi, tetapi ia memiliki kompas moral. Dan kompas itulah yang pada akhirnya mengantarkannya pada kemuliaan.

Hikmah ini menemukan wujud konkretnya dalam kisah Yusuf dan Zulaikha. Nabi Yusuf secara status hanyalah seorang budak di negeri asing. Tidak punya kekuasaan, tidak punya pelindung.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Namun ketika diuji dengan rayuan dan tekanan, ia memilih menjaga kehormatan. Ia lebih memilih penjara daripada tunduk pada syahwat.

Di sisi lain, Zulaikha memiliki kedudukan dan otoritas. Namun hasrat yang tak terkendali menjadikannya rapuh. Ia memiliki kuasa atas ruang, tetapi tidak atas dirinya sendiri.

Sejarah kemudian membalik keadaan. Yusuf yang sabar diangkat menjadi penguasa Mesir. Bukan karena ambisi, melainkan karena integritas. Bukan karena intrik, melainkan karena keteguhan hati.

Hikmah ini terasa semakin penting di zaman yang memuja kecepatan dan kepuasan instan. Budaya hari ini sering mendorong manusia untuk mengikuti keinginan tanpa jeda, mengukur keberhasilan dari pencapaian luar, dan menganggap pengendalian diri sebagai kelemahan. Padahal justru di situlah letak kemuliaan.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Syahwat menjanjikan kenikmatan sesaat, tetapi sering meninggalkan penyesalan panjang. Sabar mungkin terasa berat di awal, tetapi berbuah kehormatan yang tak lekang oleh waktu.

Pada akhirnya, pertanyaan dari hikmah itu bukan hanya tentang Yusuf dan Zulaikha. Pertanyaannya adalah tentang kita.

Apakah kita sedang memimpin diri sendiri, atau sedang dipimpin oleh keinginan yang tak pernah puas? Apakah kita benar-benar merdeka, atau hanya tampak berkuasa di permukaan?

Karena bisa jadi, di balik pakaian kebesaran dan jabatan tinggi, seseorang hanyalah budak dari syahwatnya.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Dan bisa jadi, di balik kesederhanaan dan keterbatasan, tersembunyi jiwa seorang raja yang telah menaklukkan dirinya sendiri. Di situlah kemuliaan sejati bermula. []

Mi’raj News Agency (MINA) 

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Hikmah
Tausiyah
Artikel