Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rudal Iran Hantam Kapal Minyak di Qatar, Ketegangan Teluk Makin Memanas

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 1 April 2026 - 16:03 WIB

Rabu, 1 April 2026 - 16:03 WIB

91 Views ㅤ

Rudal Iran. (Foto: Iran 24)

Doha, MINA – Sebuah kapal tanker minyak yang disewa perusahaan energi milik negara Qatar dilaporkan terkena serangan rudal jelajah yang diduga diluncurkan Iran, di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk, Rabu (1/4).

Kapal tanker tersebut diketahui disewa oleh perusahaan energi nasional Qatar dan tengah beroperasi di jalur strategis pengiriman energi global saat dihantam sedikitnya tiga rudal jelajah. Serangan ini menambah daftar insiden terhadap kapal-kapal komersial di wilayah yang kini menjadi zona konflik berisiko tinggi.

Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun serangan terhadap kapal energi ini memicu kekhawatiran serius terhadap keamanan jalur distribusi minyak dunia, khususnya di kawasan Teluk yang menjadi urat nadi pasokan energi global. Al-Jazeera melaporkan.

Serangan tersebut terjadi dalam konteks eskalasi konflik yang lebih luas antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Sejak akhir Februari 2026, kawasan Selat Hormuz menjadi titik panas setelah serangkaian serangan militer memicu aksi balasan dari Iran terhadap berbagai target, termasuk kapal-kapal di laut.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berdampak langsung terhadap lonjakan harga energi global serta mengganggu rantai pasok internasional, termasuk bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk.

Serangan terhadap kapal tanker Qatar ini menunjukkan perluasan target Iran dari instalasi militer ke aset ekonomi, yang berpotensi memperluas konflik menjadi krisis energi global.

Sementara itu, komunitas internasional terus mendesak deeskalasi guna mencegah gangguan lebih lanjut terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi dunia. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Rekomendasi untuk Anda