Jakarta, MINA – Kualitas udara di Jakarta kembali memburuk dan menempatkan ibu kota Indonesia sebagai kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia pada Sabtu (11/7) pagi.
Berdasarkan data pemantau kualitas udara IQAir, indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) Jakarta mencapai 174, masuk kategori tidak sehat, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 sebesar 89 mikrogram per meter kubik.
Data tersebut menunjukkan bahwa paparan polusi udara di Jakarta berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
IQAir merekomendasikan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat beraktivitas di luar, serta menutup jendela rumah guna meminimalkan paparan udara tercemar.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk dunia, Jakarta berada di bawah Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, yang mencatat AQI 198. Sementara itu, Kuwait City berada di posisi ketiga dengan AQI 169, disusul Johannesburg (Afrika Selatan) di posisi keempat dan Kampala (Uganda) di peringkat kelima.
Meningkatnya polusi udara di Jakarta terjadi seiring musim kemarau yang mulai berlangsung di sebagian wilayah Indonesia. Kondisi cuaca yang minim hujan, emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, serta pembangkit listrik berbahan bakar fosil menjadi faktor yang berkontribusi terhadap tingginya konsentrasi partikel PM2.5 di atmosfer.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa polusi udara di kawasan perkotaan dipengaruhi oleh kombinasi faktor meteorologi dan aktivitas manusia.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi pencemaran udara selama musim kemarau.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Upaya tersebut antara lain melalui pengawasan emisi kendaraan bermotor, pemantauan emisi industri, peningkatan ruang terbuka hijau, serta koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah penyangga guna menekan sumber pencemar yang berasal dari kawasan Jabodetabek.
Kondisi kualitas udara Jakarta yang dalam beberapa pekan terakhir berulang kali masuk daftar kota paling tercemar di dunia menjadi pengingat bahwa penanganan polusi memerlukan langkah jangka panjang dan kolaborasi lintas sektor.
Pengendalian emisi transportasi, percepatan penggunaan energi bersih, serta peningkatan transportasi publik menjadi strategi penting untuk memperbaiki kualitas udara dan melindungi kesehatan masyarakat di kawasan metropolitan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
















Mina Indonesia
Mina Arabic