Cox’s Bazar, MINA – Anak-anak pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh, menghadapi krisis kesehatan yang semakin parah akibat keterlambatan penanganan medis dan menyusutnya layanan kesehatan di kamp-kamp pengungsian.
Organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) melaporkan pada Senin (31/8), anak-anak Rohingya kini tiba di fasilitas kesehatan dalam kondisi lebih sakit dengan berbagai masalah kesehatan fisik dan psikologis yang saling berkaitan.
Situasi tersebut semakin berat karena kapasitas layanan kesehatan primer, jalur rujukan, dan layanan lainnya terus menyusut akibat pemotongan pendanaan kemanusiaan dari Amerika Serikat dan sejumlah donor lainnya.
Di Rumah Sakit Kutupalong milik MSF, tim medis menangani semakin banyak pasien anak dan bayi baru lahir dalam kondisi kritis.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Rumah sakit tersebut bahkan harus menangani kebutuhan kesehatan yang berada di luar fungsi awalnya sebagai fasilitas kesehatan sekunder.
Untuk merespons kebutuhan mendesak, MSF telah memperluas kapasitas perawatan anak dan neonatal.
Namun, langkah tersebut dinilai tidak dapat menjadi solusi berkelanjutan tanpa penguatan sistem kesehatan secara menyeluruh dan penyelesaian politik yang aman terhadap krisis Rohingya.
Sembilan tahun setelah melarikan diri dari kekerasan ekstrem di Myanmar, anak-anak kini mencakup lebih dari separuh dari sekitar 1,3 juta pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Mereka hidup dalam kondisi penampungan yang tidak memiliki kepastian masa depan, sementara pendanaan internasional untuk kebutuhan dasar terus berkurang dan tidak stabil.
Kondisi tersebut membuat keluarga Rohingya semakin kesulitan memperoleh makanan, layanan kesehatan, dan pendidikan, sehingga keselamatan anak-anak terus berada dalam ancaman.
Selain persoalan fisik, anak-anak Rohingya dan keluarga mereka juga menghadapi tekanan psikologis akibat kehidupan yang tidak menentu dan ketidakjelasan masa depan.
MSF mengatakan Rumah Sakit Kutupalong, yang merupakan rumah sakit terbesar dan pusat rujukan utama bagi pengungsi di kamp-kamp tersebut, kini menyaksikan dampak krisis yang semakin serius.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Rumah sakit yang sebelumnya menangani penyakit rutin dan musiman itu kini berubah menjadi fasilitas darurat yang merawat anak-anak dengan kondisi mengancam jiwa.
Menyusutnya layanan kesehatan primer akibat pemotongan pendanaan internasional membuat fasilitas rujukan seperti Rumah Sakit Kutupalong harus menanggung kebutuhan yang jauh melampaui kapasitas awalnya.
Penyakit berat, malnutrisi kronis, dan tekanan psikologis akut kini terjadi secara bersamaan pada anak-anak Rohingya, sehingga kondisi mereka semakin kompleks dan sulit ditangani.
MSF menilai penguatan sistem kesehatan secara menyeluruh serta solusi politik yang menjamin keamanan dan martabat warga Rohingya diperlukan untuk menghentikan krisis yang terus berlangsung.[]
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic