Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perundingan Israel-Lebanon Ditunda di Tengah Ketegangan dan Pelanggaran Zionis

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 12 September 2026 - 13:45 WIB

Sabtu, 12 September 2026 - 13:45 WIB

29 Views ㅤ

Perundingan Israel-Lebanon (foto: X)

Roma, MINA – Perundingan antara Israel dan Lebanon yang sedianya digelar di Roma, Italia, pekan depan, ditunda hingga Oktober 2026. Penundaan terjadi ketika ketegangan di perbatasan kedua negara masih berlangsung dan militer Lebanon melaporkan sekitar 7.700 pelanggaran Israel sejak kesepakatan kerangka pada Juni lalu.

Penundaan pertemuan tersebut dilaporkan Al-Mayadeen, Sabtu (12/9) dengan mengutip seorang pejabat Amerika Serikat. Sejumlah agenda, termasuk hari raya Yahudi, konferensi di Paris dan persiapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), disebut membuat para pihak tidak dapat berkumpul di Roma sesuai jadwal.

Meski demikian, jalur diplomatik tetap berjalan, termasuk rencana pertemuan antara duta besar Israel dan Lebanon di Washington.

Perundingan Israel-Lebanon merupakan bagian dari upaya yang dimediasi Amerika Serikat untuk meredakan konflik dan mengatur persoalan keamanan di sepanjang perbatasan kedua negara.

Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang

Putaran sebelumnya berlangsung di Roma pada Juli 2026, dengan pembahasan antara lain mengenai pengaturan keamanan dan keberadaan Hezbollah di wilayah selatan Lebanon.

Penundaan tersebut terjadi setelah Angkatan Darat Lebanon menyatakan telah mencatat sekitar 7.700 pelanggaran Israel sejak kesepakatan kerangka ditandatangani pada 26 Juni.

Pelanggaran yang dilaporkan menjadi salah satu persoalan utama dalam proses diplomasi karena Beirut menilai keberlanjutan operasi militer Israel dapat menghambat pelaksanaan kesepakatan.

Ketegangan di lapangan juga masih terjadi. Pada 10 September, Israel menyatakan telah menghancurkan jaringan bawah tanah Hezbollah di kawasan punggung bukit Ali al-Taher, sekitar 15 kilometer dari perbatasan Israel.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer

Israel mengatakan operasi tersebut bertujuan memperkuat zona keamanan di Lebanon selatan dan menyatakan pasukannya akan tetap berada di kawasan tersebut untuk mencegah Hezbollah membangun kembali kemampuan militernya.

Sebelumnya, serangkaian serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 12 orang di Kfar Rumman pada 7 September, termasuk dua anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Serangan tersebut berlangsung meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Hezbollah telah berlaku sejak Juni. Israel menyatakan serangan ditujukan terhadap aktivitas yang berkaitan dengan Hezbollah.

Lebanon sebelumnya juga mengecam serangan Israel dan meminta Amerika Serikat serta masyarakat internasional mengambil langkah untuk menghentikan apa yang disebut Beirut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid 

Israel sendiri menyatakan operasi militernya diarahkan terhadap fasilitas dan aktivitas Hezbollah, yang oleh Israel dianggap masih menjadi ancaman keamanan.

Penundaan perundingan hingga Oktober membuat proses diplomasi Israel-Lebanon menghadapi tantangan baru. Di satu sisi, kedua pihak masih mempertahankan jalur komunikasi melalui mediasi Amerika Serikat.

Namun di sisi lain aktivitas militer dan tingginya jumlah pelanggaran yang dilaporkan Lebanon menunjukkan bahwa kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. []

 

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda