Paris, MINA – Presiden AS Donald Trump menyalahkan Islam dan imigrasi massal atas gelombang protes pelajar yang melanda Prancis, dengan mengklaim bahwa kerusuhan tersebut didorong oleh umat Islam yang ingin “mengambil alih” negara itu.
“Apa yang terjadi di Prancis tak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali. Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulunya hebat!” tulis Trump di Truth Social.
Trump tidak memberikan bukti apa pun atas klaimnya, sementara tuntutan para pengunjuk rasa berfokus pada infrastruktur sekolah yang memburuk, kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, dan pendanaan pendidikan.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menanggapi komentar Trump dengan memperingatkan agar tidak membiarkan negara lain mendefinisikan kerusuhan di Prancis.
Baca Juga: Trump Sebut Paris Segera Jadi Kota Muslim, Desak Macron Tutup Perbatasan
“Jika kita tidak menulis kisah kita sendiri, orang lain yang akan menulisnya untuk kita,” kata Barrot, menurut saluran penyiaran Prancis BFMTV, seraya memperingatkan agar Prancis tidak dipaksa “menanggung kisah orang lain”.
Dalam pernyataan terpisah di hadapan komite parlemen, Barrot mengatakan: “Anda akan mendengar versi Iran, mungkin versi dari sebagian orang Israel, mungkin versi dari sebagian orang Amerika.”
Ia mengatakan misi diplomatik Prancis sedang berupaya menyajikan versi Prancis mengenai protes tersebut “agar kita memiliki narasi sendiri untuk disebarluaskan, alih-alih harus menerima narasi pihak lain”.
Tidak ditemukan kaitan antara gerakan pelajar tersebut dengan tuntutan yang berbasis agama atau identitas; bahkan partai sayap kanan jauh National Rally pimpinan Marine Le Pen pun tidak secara terbuka mengaitkan kerusuhan itu dengan imigrasi.
Baca Juga: Macron Kecam Kerusuhan Demo Biaya Hidup di Prancis, Hampir 2.400 Orang Ditangkap
Demonstrasi melanda seluruh Prancis pada Selasa. Para guru dan orang tua bergabung dengan siswa sekolah menengah dalam aksi yang disebut oleh Perdana Menteri Sebastien Lecornu sebagai demonstrasi pelajar paling keras di negara itu dalam beberapa dekade terakhir.
Aksi protes ini bermula pada bulan September di kawasan pinggiran kota Paris yang kurang mampu, sebelum kemudian meluas ke seluruh penjuru negeri.
Para siswa mengeluhkan kurangnya pendanaan yang kronis serta kondisi sekolah yang buruk, termasuk ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, dan masalah pemeliharaan dasar, mulai dari kebocoran air hingga serangan hama tikus.
Demonstrasi ini berlangsung beberapa bulan menjelang pemilihan presiden Prancis, di tengah ketegangan politik dan ekonomi yang lebih luas terkait belanja publik serta biaya hidup.[]
Baca Juga: Wapres AS Akui Kesalahan dalam Perang Iran
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic