Islamabad, MINA – Pakistan menyelesaikan proses ratifikasi Pakta Pertahanan Makkah yang diteken bersama Turkiye dan Arab Saudi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Sajjad Haider Khan, menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di Islamabad, Jumat (23/10).
Khan menyebut perjanjian tersebut menegaskan komitmen ketiga negara untuk memperkuat pertahanan kolektif dan kerja sama keamanan demi stabilitas kawasan. Ia menekankan bahwa isi pakta bersifat defensif dan sejalan dengan Piagam PBB.
Menurutnya, Arab Saudi lebih dulu merampungkan ratifikasi, sementara tiap negara memiliki prosedur konstitusional masing-masing. Pakistan Today melaporkan.
Pembahasan soal penerapan perjanjian, kata Khan, masih berjalan melalui Komite Strategis, Politik, dan Pertahanan. Komite itu terakhir bertemu pada 5 Oktober 2026.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Dalam pertemuan darurat di Riyadh tersebut, ketiga negara sepakat mengaktifkan langkah penangkalan kolektif dan mengerahkan pasukan ke Arab Saudi menyusul serangan kelompok Houthi asal Yaman.
Pakta ini diteken Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, serta Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman di Makkah pada 7 Agustus 2026.
Perjanjian itu memuat prinsip pertahanan bersama, yakni serangan bersenjata terhadap satu anggota dipandang sebagai serangan terhadap ketiganya, mirip Pasal 5 NATO. Pakta ini juga mencakup latihan militer gabungan dan kerja sama industri pertahanan.
Di Turkiye, pemerintah telah mengajukan rancangan ratifikasi ke parlemen pada Oktober 2026 dan prosesnya masih berjalan. Bagi Pakistan dan Arab Saudi, pakta ini memperluas kesepakatan pertahanan bersama kedua negara yang diteken pada September 2025. []
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic