Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga Minyak Dunia USD 97,75 per Barel Usai Pemilu Sela AS

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 7 November 2026 - 06:06 WIB

Sabtu, 7 November 2026 - 06:06 WIB

10 Views ㅤ

Ilustrasi minyak dunia (foto: Fpik)

New York, MINA –  Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Jumat (6/11). Penurunan yang sangat tajam karena pelaku pasar menakar dampak hasil pemilu sela Amerika Serikat (AS) terhadap arah perang Iran.

Mengutip Investing, kontrak berjangka Brent pengiriman Januari, yang menjadi acuan harga minyak global, turun 0,6 persen dan ditutup pada USD97,75 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Desember juga susut 0,2 persen ke level USD90,36 per barel.

Brent tercatat anjlok 16,9 persen, sedangkan WTI turun 13,2 persen. Penurunan itu terjadi setelah harga minyak sempat melonjak pada pekan sebelumnya, dan sempat terpangkas sekitar 9 persen pada Rabu (4/11) setelah Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres.

Pasar mencermati kemenangan mutlak Partai Demokrat yang kini menguasai DPR dan Senat AS. Muncul spekulasi bahwa kekuatan baru tersebut akan dipakai untuk mendorong Presiden Donald Trump mencari jalan keluar dari perang Iran.

Baca Juga: Kandidat Presiden Prancis Janji Tangkap Netanyahu Jika Terpilih

Ahli strategi energi Macquarie, Walt Chancellor, menilai hasil pemilu itu meningkatkan konsekuensi politik bagi Trump jika konflik terus berlanjut atau memanas. Meski begitu, ia menegaskan Trump masih memegang kewenangan eksekutif untuk melakukan aksi militer dengan batasan tertentu.

Konflik tersebut bermula dari serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Iran lalu menutup Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Arus pasokan dari kawasan itu kini mulai pulih sebagian berkat pengawalan militer AS.

Meski demikian, risiko belum hilang. Serangan terhadap kapal tanker di Teluk Persia dan Selat Hormuz sempat mengerek harga pada Kamis (5/11), sementara data pusat pemantauan maritim Inggris (UKMTO) menunjukkan serangan terhadap kapal pengangkut minyak masih mendekati rekor tertinggi. Kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah dinilai menjadi penahan agar harga tidak turun lebih dalam. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: AS Tawarkan Hadiah Rp362,6 Miliar untuk Informasi Program Nuklir Iran, Meski Trump Klaim Sudah Dihancurkan

Rekomendasi untuk Anda