Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS Gempur Qeshm dan Sirik, Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Kamis, 9 Juli 2026 - 17:29 WIB

Kamis, 9 Juli 2026 - 17:29 WIB

28 Views ㅤ

Salah satu serangan AS ke Iran (foto: X/ IRIB)

Teheran, MINA – Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Iran dengan menyasar Pulau Qeshm dan Kabupaten Sirik di Provinsi Hormozgan, Rabu (8/7).

Serangan yang terjadi di kawasan strategis dekat Selat Hormuz itu memicu rentetan ledakan dan semakin meningkatkan ketegangan setelah gencatan senjata antara kedua negara kembali runtuh. Press TV melaporkan, Kamis (9/7).

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal militer dan kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Washington mengklaim serangan dilakukan secara presisi dengan menargetkan sistem pertahanan udara, instalasi radar, serta puluhan kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Media Iran melaporkan sedikitnya enam ledakan mengguncang Pulau Qeshm, sementara lebih dari delapan ledakan terdengar di Sirik. Selain dua wilayah itu, serangan juga menghantam Bandar Abbas yang merupakan pelabuhan utama Iran di pesisir Teluk Persia.

Hingga kini, otoritas Iran belum merilis jumlah pasti korban jiwa maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut, meski sejumlah laporan menyebut proyektil menghantam kawasan pelabuhan dan fasilitas di pesisir.

Serangan tersebut berlangsung saat Iran tengah menggelar prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sehingga memicu kecaman keras dari Teheran. Markas Besar Khatam al-Anbiya menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran nyata terhadap nota kesepahaman gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua negara.

Militer Iran juga menegaskan akan memberikan “respons yang menghancurkan” terhadap setiap bentuk agresi dan menyatakan seluruh pangkalan militer AS di kawasan dapat menjadi sasaran balasan apabila serangan terus berlanjut.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Pulau Qeshm dan Sirik memiliki posisi strategis karena berada di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Setiap eskalasi militer di kawasan tersebut berpotensi mengganggu distribusi energi global, meningkatkan biaya pengiriman, serta memicu kenaikan harga minyak di pasar internasional. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah perusahaan pelayaran juga dilaporkan menunda pelayaran dan mengubah rute demi menghindari kawasan konflik.

Sejumlah negara, termasuk Tiongkok, kembali menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran menahan diri serta mengedepankan jalur diplomasi untuk mencegah meluasnya konflik di Timur Tengah. Namun hingga Rabu malam, belum terlihat tanda-tanda deeskalasi.

Sebaliknya, aksi saling serang dan ancaman balasan dari kedua pihak terus meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas keamanan kawasan dan keselamatan pelayaran internasional di Selat Hormuz. []

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda