TIDAK ada peran yang lebih sunyi namun menentukan selain menjadi seorang ayah. Ia mungkin tidak selalu banyak bicara, tidak selalu terlihat paling dekat, tetapi kehadirannya—atau ketiadaannya—mampu membentuk arah hidup seorang anak. Hari ini, dunia semakin sadar bahwa kualitas ayah bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu masa depan generasi.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional, sosial, bahkan kognitif anak. Studi dalam BMC Psychology tahun 2024 menegaskan bahwa keterlibatan ayah yang tinggi berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi anak yang lebih baik—sebuah fondasi penting untuk kesuksesan hidup jangka panjang . Artinya, ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi pembentuk jiwa.
BMC Psychology adalah jurnal ilmiah internasional di bidang psikologi yang dikelola oleh penerbit besar BioMed Central (bagian dari Springer Nature). Jurnal ini bersifat peer-reviewed, artinya setiap artikel yang terbit telah melalui proses penilaian ketat oleh para ahli sebelum dipublikasikan.
Namun di sinilah garis tipis itu muncul: antara ayah teladan dan ayah toksik.
Baca Juga: Kunjungi Mesir, MUI Bahas Peluang Beasiswa bagi Pelajar Indonesia
Ayah toksik bukan selalu yang kasar secara fisik. Kadang ia hadir, tetapi tidak benar-benar “ada”. Ia berbicara, tetapi melukai. Ia mendidik, tetapi mematahkan. Berikut adalah beberapa ciri ayah toksit.
Pertama, minimnya keterlibatan emosional. Anak mungkin tumbuh, tetapi hatinya kosong. Penelitian lain menunjukkan bahwa interaksi ayah yang buruk, seperti sikap dingin atau depresi, berkorelasi dengan rendahnya perkembangan kognitif anak di usia dini .
Kedua adalah komunikasi yang merendahkan. Kata-kata seperti “kamu bodoh”, “kamu tidak akan bisa” mungkin terdengar sepele bagi orang tua, tetapi bagi anak itu adalah “label kehidupan”. Luka dari ucapan seringkali lebih dalam daripada luka fisik.
Ketiga, ayah toksik cenderung otoriter tanpa empati. Ia menuntut ditaati, tetapi tidak mau memahami. Anak tumbuh dalam ketakutan, bukan penghormatan. Dalam jangka panjang, ini dapat merusak kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan.
Baca Juga: Mengembalikan Jiwa yang Hilang dalam Pola Interaksi Keluarga Era Digital
Keempat, tidak konsisten. Hari ini lembut, besok meledak. Anak kehilangan rasa aman karena tidak tahu bagaimana harus bersikap. Dunia menjadi tempat yang tidak bisa diprediksi.
Kelima, minim teladan. Ia meminta anak jujur, tetapi dirinya mudah berdusta. Ia melarang marah, tetapi dirinya pemarah. Anak belajar bukan dari kata, tetapi dari contoh.
Keenam, abai terhadap waktu bersama. Banyak ayah merasa tugasnya selesai ketika kebutuhan materi terpenuhi. Padahal penelitian menunjukkan bahwa interaksi langsung—bermain, berbicara, hadir—memiliki dampak besar terhadap perkembangan sosial anak .
Ketujuh, tidak menghargai perasaan anak. Ketika anak menangis, ia dianggap lemah. Ketika anak takut, ia dianggap berlebihan. Padahal dari sinilah kemampuan empati dan regulasi emosi dibentuk.
Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI
Kedelapan, mengontrol berlebihan. Semua harus sesuai keinginan ayah. Anak tidak diberi ruang untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri. Ini bisa melahirkan pribadi yang pasif atau justru memberontak.
Kesembilan, tidak mau belajar. Dunia berubah, ilmu parenting berkembang, tetapi ia merasa sudah paling benar. Padahal menjadi ayah adalah proses belajar seumur hidup.
Sebaliknya, ayah teladan adalah mereka yang mungkin tidak sempurna, tetapi terus berusaha hadir, memahami, dan memperbaiki diri. Ia mendengar sebelum menghakimi, membimbing tanpa merendahkan, dan mencintai tanpa syarat. Ia tahu bahwa anak bukan proyek ambisi, tetapi amanah kehidupan.
Penelitian global juga menegaskan bahwa anak dengan ayah yang terlibat aktif cenderung memiliki hubungan sosial lebih baik, perilaku lebih stabil, dan prestasi akademik yang lebih tinggi dibandingkan anak dengan ayah yang tidak terlibat . Bahkan hingga dewasa, kualitas hubungan dengan ayah memengaruhi cara anak membangun hubungan cinta dan keluarga.
Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban
Maka pertanyaannya bukan lagi: “Apakah saya ayah yang baik?” tetapi “Apakah kehadiran saya membangun atau justru melukai?”
Menjadi ayah teladan bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang kesadaran. Tentang memilih untuk hadir meski lelah, memilih untuk lembut meski marah, dan memilih untuk belajar meski merasa sudah tahu.
Karena pada akhirnya, anak tidak membutuhkan ayah yang hebat di mata dunia. Mereka hanya membutuhkan ayah yang benar-benar ada—di hati mereka.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu
















Mina Indonesia
Mina Arabic