Gaza, MINA – Badai Byron, cuaca ekstrem yang sebelumnya menyebabkan banjir di Yunani dan Pulau Siprus, kini melanda Jalur Gaza dan merendam sejumlah lokasi pengungsian, menempatkan hampir 795.000 warga Palestina yang mengungsi dalam kondisi berisiko tinggi.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Jumat (12/12) menyebutkan, hujan deras telah menggenangi ratusan lokasi pengungsian, di mana bahkan hujan dengan intensitas sedang dapat dengan cepat berubah menjadi situasi berbahaya. Curah hujan diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa jam ke depan.
IOM mencatat, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, warga Palestina yang mengungsi masih tinggal di area padat tanpa perlindungan memadai dari genangan air yang terus meningkat.
Sejak 10 Oktober, IOM telah menyalurkan lebih dari satu juta perlengkapan hunian kepada mitra di Gaza, termasuk tenda tahan air, selimut termal, alas tidur, dan terpal. Namun, lembaga tersebut memperingatkan bahwa bantuan tersebut tidak mampu bertahan menghadapi banjir besar.
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
“Warga Gaza telah terlalu lama hidup dalam kehilangan dan ketakutan,” ujar Direktur Jenderal IOM, Amy Pope.
“Sekarang, setelah badai ini mendarat, keluarga-keluarga berusaha melindungi anak-anak mereka dengan apa pun yang mereka miliki. Mereka layak mendapatkan lebih dari sekadar ketidakpastian ini. Mereka berhak atas keselamatan,” tambahnya.
Ia menambahkan, akses yang segera dan tanpa hambatan sangat penting agar peralatan dan pasokan dapat menjangkau mereka yang berjuang mempertahankan kehidupan di tengah kondisi yang sangat sulit.
IOM juga menyebutkan, perlengkapan dasar seperti peralatan kerja, karung pasir, pompa air, dan material konstruksi masih tertahan akibat pembatasan akses, meskipun sangat dibutuhkan untuk memperkuat tempat tinggal dan mengurangi dampak banjir.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Pemimpin tim darurat dan bantuan Dewan Perumahan Palestina, Haitham Aqel, mengatakan hujan deras telah menyebabkan kerusakan parah karena infrastruktur yang sudah hancur sebelumnya.
“Kami menggunakan karung pasir untuk membuat saluran air, tetapi banyak alas tidur dan kasur warga rusak karena air masuk melalui tenda-tenda yang sudah lapuk,” ujarnya.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic