Dhaka, MINA – Bangladesh mendesak Swedia meningkatkan dukungan bagi pengungsi Rohingya dan membantu menjaga krisis Rohingya tetap menjadi perhatian internasional, dalam pertemuan pejabat kedua negara di Dhaka, Selasa (11/8).
Desakan tersebut disampaikan Menteri Dalam Negeri Bangladesh Salahuddin Ahmed saat menerima Duta Besar Swedia untuk Bangladesh Nicolas Linus Ragnar Weeks di Kementerian Dalam Negeri Bangladesh.
Menguti Rohingya Khobor, dalam pertemuan tersebut, Salahuddin meminta dukungan Swedia yang lebih besar untuk meningkatkan kondisi kehidupan pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh.
Salahuddin juga menyoroti peran Swedia sebagai salah satu ketua bersama Rohingya Donor Group.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Menurutnya, Swedia dapat memainkan peran penting dalam menjaga perhatian internasional terhadap krisis Rohingya yang telah berlangsung lama.
Menteri Dalam Negeri Bangladesh itu menyebut krisis Rohingya sebagai tantangan besar bagi keamanan kawasan.
Ia kembali menegaskan bahwa pemulangan Rohingya secara aman, bermartabat dan berkelanjutan ke Myanmar merupakan solusi jangka panjang.
Duta Besar Swedia menekankan pentingnya repatriasi dan rehabilitasi Rohingya secara aman.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Ia juga menyatakan kesiapan Swedia mendukung pendidikan serta keselamatan dan perlindungan perempuan dan anak-anak Rohingya.
Pembahasan mengenai Rohingya berlangsung ketika respons kemanusiaan terhadap pengungsi menghadapi tekanan akibat menurunnya pendanaan internasional.
Pada saat yang sama, kondisi di Myanmar masih belum memungkinkan dilakukannya pemulangan Rohingya secara sukarela dalam skala besar.
Lebih dari satu juta Rohingya masih berada di Bangladesh, terutama di kamp-kamp pengungsian di Cox’s Bazar.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Konflik yang kembali berkobar di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, juga menyebabkan perpindahan penduduk dalam beberapa tahun terakhir.
Bangladesh berulang kali menyerukan keterlibatan internasional yang lebih kuat untuk menciptakan kondisi di Myanmar yang memungkinkan Rohingya kembali secara sukarela, aman dan bermartabat.
Pemulangan Rohingya yang berkelanjutan membutuhkan jaminan keamanan, kewarganegaraan dan status hukum, kebebasan bergerak, akses terhadap layanan dasar, serta perlindungan dari penganiayaan kembali.
Selain krisis Rohingya, pertemuan Bangladesh dan Swedia juga membahas migrasi ilegal dan perdagangan manusia.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Duta Besar Swedia menyampaikan kekhawatiran mengenai warga Bangladesh yang ingin bermigrasi ke Swedia tetapi menjadi korban jaringan perdagangan manusia melalui tawaran pekerjaan dan peluang palsu di luar negeri.
Salahuddin mengatakan, Bangladesh telah mengambil sejumlah langkah untuk memberantas perdagangan manusia dan migrasi ilegal, termasuk program penyadaran secara nasional yang dilakukan bekerja sama dengan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Kedua pihak juga membahas pendidikan teknis, migrasi tenaga kerja terampil dan perdagangan bilateral.
Salahuddin meminta kerja sama Swedia untuk memodernisasi pendidikan dan pelatihan teknis serta mempersiapkan pekerja Bangladesh menghadapi peluang kerja di Eropa, termasuk meningkatnya kebutuhan tenaga perawat dan pekerja terampil lainnya.
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
Duta Besar Swedia mengatakan, Bangladesh merupakan satu-satunya negara Asia Selatan yang tercakup dalam Strategi Kerja Sama Bilateral Swedia.
Ia juga menyoroti meningkatnya hubungan perdagangan dan investasi kedua negara.
Sekitar 10.000 warga Bangladesh saat ini tinggal di Swedia, sebagian di antaranya merupakan mahasiswa.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Marinir AS Ditangkap, Kemarahan Jepang Kembali Membara di Okinawa
















Mina Indonesia
Mina Arabic