DANAU COMO terletak di wilayah Lombardy, Italia Utara, dekat perbatasan dengan Swiss. Danau ini berada di kawasan kaki Pegunungan Alpen, sekitar 50 km di utara kota Milan.
Wilayah ini selalu menjadi simbol ketenangan, kemewahan yang hening, dan keindahan abadi. Selama bertahun-tahun, denyut nadi sepak bola di kota itu hanyalah bisikan lembut, tenggelam oleh gemuruh klub-klub raksasa Milano yang hanya berjarak sejam perjalanan.
Namun, musim ini, bisikan itu berubah menjadi raungan. Como 1907, klub dari pinggir danau yang nyaris tenggelam ke jurang amatir, kini berdiri gagah di papan atas Serie A, membuat kagum para pesimis dan menuai decak kagum para pencinta sepak bola.
Ini bukan sekadar kisah dongeng olahraga. Ini adalah studi kasus tentang kebangkitan organisasi yang sistematis. Bagi para pemimpin lembaga, instansi pemerintah, hingga direktur perusahaan, perjalanan Como menyimpan peta jalan berharga, bagaimana sebuah entitas yang terpuruk bisa direstrukturisasi menjadi model keunggulan, dengan tetap memegang erat akar budaya lokalnya.
Baca Juga: Bisnis, Sunnah Rasul yang Terabaikan
Berawal dari Visi Besar
Pada tahun 2019, Como adalah definisi dari klub sepakbola bermasalah. Terlilit utang, terlempar ke Serie D (kasta keempat), dan kehilangan identitas. Usia rata-rata pemain tua, fasilitas memprihatinkan, dan tidak ada strategi jangka panjang.
Kemudian datanglah dua pengusaha asal Indonesia, Robert dan Michael Hartono, melalui Djarum Group. Mereka tidak datang dengan gaya kaya raya yang membeli segalanya. Mereka datang dengan sebuah masterplan.
Kebanyakan lembaga gagal karena ingin gemilang sebelum sehat. Como memulai dengan melunasi seluruh utang, membayar gaji yang tertunggak, dan membangun tata kelola keuangan yang transparan. Dalam korporasi atau birokrasi, ini sama dengan membersihkan audit, membereskan rekomendasi pemeriksaan keuangan, dan memastikan fondasi legal yang kuat. Tanpa fondasi yang bersih, pertumbuhan hanyalah akselerasi menuju kehancuran.
Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan
Ketika kemudian Como naik ke Serie B, Como tidak serta-merta membeli bintang-bintang mahal. Manajemen merekrut dengan filosofi yang tidak biasa, pemain tua yang cerdas dan pemain muda yang lapar. Datanglah pelatih Cesc Fàbregas, eks gelandang Barcelona dan Arsenal, yang saat itu sudah berusia 35 tahun. Banyak yang menertawakan. Tapi manajemen melihat sesuatu yang lain, kecerdasan taktis, kepemimpinan di ruang ganti, dan kemampuan menjadi guru bagi pemain muda.
Dalam manajemen perusahaan, rekrutmen berdasarkan nilai tambah yang bisa mengubah ekosistem internal. Como mengajarkan bahwa kadang satu orang dengan soft skills kepemimpinan kelas dunia lebih berharga daripada sepuluh staf dengan keterampilan teknis biasa-biasa saja.
Fàbregas, yang kemudian menjadi pelatih kepala, adalah bukti bagaimana seorang pemimpin dengan kredibilitas moral bisa meruntuhkan birokrasi dalam organisasi.
Penataan Infrastruktur
Baca Juga: Mushalla di Tempat Wisata: Kunci Kenyamanan Wisata Ramah Muslim
Salah satu lompatan paling berani Como adalah rencana besar untuk Stadio Giuseppe Sinigaglia. Alih-alih hanya mengecat kursi dan memperbaiki rumput, mereka mengajukan renovasi total bernilai puluhan juta euro, dengan tetap mempertahankan nilai bersejarahnya. Ini adalah simbol paradoks sukses, menghormati masa lalu sambil membangun masa depan.
Manajemen Como mengajarkan, jangan pernah berhemat pada infrastruktur proses dan teknologi. Banyak kantor pemerintah yang ruangannya megah tetapi sistem digitalnya amburadul.
Como membalik logika itu. Mereka paham bahwa lingkungan fisik (stadion, ruang ganti, pusat latihan) mencerminkan standar operasional. Jika ruang rapat berantakan dan server sering down, karyawan tidak akan pernah memiliki sense of pride dalam bekerja. Infrastruktur yang baik adalah bentuk penghormatan kepada sumber daya manusia Anda.
Di era sepak bola yang dikuasai uang minyak dan konglomerat negara, Como mengambil jalan berbeda. Mereka tidak mencoba menjadi Juventus atau Inter. Mereka membangun merek sebagai “the smart, stylish club from the lake.” Mereka menggandeng merek fashion kelas dunia seperti Yves Saint Laurent sebagai sponsor baju, menjual image “La Dolce Vita” sepak bola. Ini adalah strategi niche excellence.
Baca Juga: 7 Etos Kerja Seorang Muslim, Jalan Keberkahan Menuju Ridha Allah
Como juga mengajarkan, jangan meniru pesaing secara membabi buta. Sebuah dinas pariwisata kabupaten tidak perlu menjadi seperti DKI Jakarta. Sebuah UMKM tidak perlu menjadi seperti Gojek. Cari blue ocean sendiri.
Narasi untuk Loyalitas
Como mengajarkan bahwa diferensiasi bukan hanya tentang produk, tetapi tentang narasi. Narasi yang kuat menciptakan loyalitas yang tidak bisa dibeli dengan harga pasar.
Langkah paling berani terjadi ketika Como mempromosikan Cesc Fàbregas, tanpa lisensi kepelatihan UEFA Pro lengkap saat itu, sebagai pelatih kepala, meski masih ada nama besar seperti Osian Roberts di belakangnya. Manajemen mengambil risiko besar, mempercayakan kemudi kepada seseorang yang memahami DNA klub, bukan seseorang yang hanya memiliki CV gemilang.
Baca Juga: Syahadat Mengubah Arah: Kisah Muallaf Produktif dari Perbatasan Aceh
Ini adalah pelajaran untuk suksesi kepemimpinan di perusahaan. Seringkali, orang yang paling memahami kultur dan problematik internal adalah mereka yang sudah berdarah-darah di lapangan. Kita terlalu terobsesi mencari jenderal dari luar padahal kapten regu internal sedang duduk di bangku cadangan.
Como mengajarkan bahwa kepercayaan pada internal talent, dipadukan dengan pelatihan intensif, adalah formula regenerasi kepemimpinan yang paling murah dan paling efektif.
Hasil Bukan Kebetulan
Como tidak hanya bertahan di Serie A. Mereka bermain dengan keberanian, mengalahkan raksasa-raksasa di kandang sendiri, dan atmosfer di Sinigaglia kembali bergemuruh. Para pemain muda seperti Nico Paz tumbuh di bawah bayang-bayang Fàbregas. Suporter kembali bangga. Dan dunia mulai memandang Danau Como bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai laboratorium manajemen olahraga modern.
Baca Juga: Melatih Santri Kreatif Melalui Pemanfaatan Kertas Bekas
Semua kesuksesan itu tentu tidak ada yang instan. Kebangkitan Como adalah hasil dari disiplin, kesabaran, dan eksekusi strategi yang konsisten selama lima tahun.
Bagi Perusahaan, lembaga, atau instansi, di tengah tekanan target tahunan, gempuran kepentingan jangka pendek, dan godaan korupsi, perjalanan Como adalah pengingat. Kebangkitan sejati dimulai bukan dari seberapa banyak uang yang dibakar, tetapi dari seberapa jernih visi, seberapa kuat budaya, dan seberapa beraninya mempercayai orang-orang yang benar-benar mencintai rumah itu.
Dari pinggir Danau Como kita banyak belajar tentang kepemimpinan, kesabaran, kreativitas, ketajaman visi, maksimalisasi infrastruktur dan kekompakkan dalam satu tim. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 5 Kunci Sukses Usaha dalam Bidang Apapun
















Mina Indonesia
Mina Arabic