Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syahadat Mengubah Arah: Kisah Muallaf Produktif dari Perbatasan Aceh

Redaksi Editor : Arif R - Selasa, 16 Juni 2026 - 18:45 WIB

Selasa, 16 Juni 2026 - 18:45 WIB

157 Views ㅤ

Kartika mualaf produktif dengan usaha menjahit yang didampingi FDP (FOTO: For Minanews)

Aceh Singkil, MINA – Di wilayah perbatasan Kabupaten Aceh Singkil, perubahan besar terkadang lahir dari bantuan sederhana yang hadir pada waktu yang tepat. Hal itulah yang kini dirasakan Kartika, seorang muallaf binaan Forum Dakwah Perbatasan (FDP), setelah usaha kecil yang ia jalankan berkembang pesat dan mulai mengubah kondisi ekonomi keluarganya.

Beberapa waktu lalu, tepatnya 20 Mei 2026, Kartika yang tinggal di Napagaloh, Danau Paris, Aceh Singkil hanya memiliki satu mesin jahit sederhana di dalam rumahnya. Aktivitas menjahit yang ia lakukan saat itu masih berskala kecil, sekadar menerima pesanan dari lingkungan sekitar dengan penghasilan yang belum menentu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Keadaan mulai berubah ketika Kartika mendapatkan pendampingan intensif dari tim Forum Dakwah Perbatasan  serta bantuan modal usaha melalui program pemberdayaan ekonomi muallaf yang didukung Baitul Mal Aceh.

Melalui bantuan tersebut, usaha yang kini dikenal dengan nama Kartika Taylor perlahan mengalami perkembangan signifikan. Saat ini, perempuan muallaf tersebut mampu menghasilkan pendapatan rata-rata di atas Rp50 ribu per hari dari aktivitas menjahit yang ia tekuni. Angka yang tidak pernah sebelumnya ia dapat.

Baca Juga: Bisnis, Sunnah Rasul yang Terabaikan

Tidak hanya itu, untuk satu pakaian yang dijahit berdasarkan model tertentu, Kartika kini dapat memperoleh bayaran berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per baju yang ia jahit, angka yang sebelumnya sulit ia bayangkan ketika usahanya masih berjalan secara sederhana.

Menariknya, meskipun kini telah memeluk Islam, Kartika masih tetap menjaga hubungan yang baik dengan lingkungan sosial serta keluarga besarnya yang masih berada dalam keyakinan lamanya. Hubungan harmonis itu terlihat dari kepercayaan yang tetap diberikan oleh relasi-relasi lamanya kepada usaha jahit miliknya.

Momentum akhir tahun justru menjadi musim panen bagi usaha yang dijalankannya. Saat perayaan Natal dan Tahun Baru tiba, pesanan pakaian meningkat drastis karena banyak kawan-kawan lamanya tetap mempercayakan jahitan kepada Kartika.

“Kalau Natal dan Tahun Baru, orderan melimpah. Mesin bantuan ini sangat membantu sekali,” ujar Kartika menceritakan perkembangan usahanya.

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Kepercayaan yang masih diberikan oleh lingkungan sosial sebelumnya menunjukkan bahwa keputusan Kartika menjadi muallaf tidak memutus hubungan baik dengan keluarga besar maupun komunitas lamanya. Sebaliknya, harmoni sosial tetap terjaga di tengah perbedaan

Jika sebelumnya aktivitas menjahit hanya dilakukan di dalam rumah dengan peralatan seadanya, kini Kartika mulai berani mengembangkan usaha dengan membuka tempat jahit yang mengarah ke tepi jalan agar lebih mudah diakses pelanggan.

Perubahan kecil tersebut mulai memperlihatkan perkembangan besar. Usaha yang dahulu berjalan sederhana kini terlihat semakin maju dan berkembang dari waktu ke waktu.

Harapan besar pun mulai tumbuh. Dalam waktu mendatang, Kartika diharapkan mampu mencapai kemandirian ekonomi sepenuhnya, bahkan bertransformasi dari penerima bantuan menjadi pihak yang suatu hari dapat membantu orang lain.

Baca Juga: Mushalla di Tempat Wisata: Kunci Kenyamanan Wisata Ramah Muslim

Tim pendamping FDP menyebut perkembangan usaha Kartika sebagai contoh nyata keberhasilan program dakwah yang dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi. Pendekatan ini dinilai efektif karena membantu muallaf tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mandiri secara finansial.

“Awalnya hanya satu mesin jahit sederhana di rumah. Setelah mendapatkan bantuan modal usaha dan pembinaan, perkembangan usahanya meningkat cukup signifikan. Pemasukannya naik hampir seratus persen dibanding sebelumnya,” kata Teuku Azhar, Manager Program Forum Dakwah Perbatasan (FDP).

Melihat perkembangan tersebut, FDP menaruh harapan besar agar dalam waktu dekat Kartika mampu mencapai kemandirian ekonomi sepenuhnya. Bahkan, bukan tidak mungkin suatu saat ia bertransformasi dari penerima zakat menjadi seorang muzakki, yakni pihak yang justru mampu membantu orang lain melalui zakat.

Selain Kartika, kisah sukses serupa juga terlihat pada usaha milik muallaf binaan lainnya, yakni Warung Asyifa yang berada di Desa Situbuh Tubuh, Kabupaten Aceh Singkil.

Baca Juga: 7 Etos Kerja Seorang Muslim, Jalan Keberkahan Menuju Ridha Allah

Setelah menerima bantuan modal usaha dan pendampingan berkelanjutan dari FDP bersama Baitul Mal Aceh, usaha warung yang sebelumnya berskala kecil kini berkembang lebih pesat.

Tidak hanya memperkuat usaha dagangan kebutuhan harian, pemilik Warung Asyifa juga berhasil memperluas lini usaha dengan membuka layanan doorsmeer atau jasa pencucian kendaraan roda empat, yang kini menjadi sumber tambahan penghasilan keluarga.

Keberhasilan dua muallaf binaan tersebut menjadi bukti bahwa program pembinaan di wilayah perbatasan tidak semata berfokus pada penguatan akidah dan pendampingan keislaman, tetapi juga diarahkan pada pembangunan kemandirian ekonomi agar para muallaf mampu bertahan dan tumbuh secara sosial.

“Kita juga ingin menyampaikan kepada kaum muslimin lain, tidak semua saudara baru itu jadi beban atau menambah angka kemiskinan, namun mereka jika dibina dan diberdayakan dapat sukses menjadi mualaf produktif,” ujar Teuku Azhar.

Baca Juga: Melatih Santri Kreatif Melalui Pemanfaatan Kertas Bekas

Program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan FDP bersama Baitul Mal Aceh dinilai menjadi model dakwah berbasis kesejahteraan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan hidup di kawasan perbatasan, kisah Kartika Taylor dan Warung Asyifa menjadi bukti bahwa ketika dakwah dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi, perubahan nyata benar-benar dapat terjadi. Dari sebuah mesin jahit sederhana di sudut rumah, kini tumbuh harapan besar tentang masa depan yang lebih mandiri, lebih sejahtera, dan penuh keberkahan.

Bagi FDP, menjaga keimanan para muallaf harus berjalan beriringan dengan upaya memperkuat kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Sebab perjalanan seorang muallaf tidak hanya membutuhkan bimbingan spiritual, tetapi juga dukungan nyata agar mampu berdiri mandiri dan bertahan dalam lingkungan yang penuh tantangan.

Karena itu, lembaga ini mengajak seluruh elemen masyarakat, lembaga filantropi, para dermawan, serta umat Islam secara luas untuk bersama-sama bergandengan tangan membersamai para muallaf yang jumlahnya terus bertambah di kawasan perbatasan Aceh.

Baca Juga: 5 Kunci Sukses Usaha dalam Bidang Apapun

Harapannya, mereka tidak hanya menjadi Muslim yang teguh memegang iman, tetapi juga tumbuh menjadi generasi tangguh yang kelak menjadi penjaga akidah di wilayah terluar, sebagai benteng keislaman di ujung Serambi Mekah.

Di sana, di tapal batas Aceh yang sunyi dari sorotan, ikrar syahadat bukan sekadar awal perpindahan keyakinan, melainkan awal lahirnya harapan baru tentang umat yang kuat, mandiri, dan menjaga cahaya Islam tetap menyala di beranda paling barat Indonesia. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Santripreneur Upaya Mengkader Pengusaha yang Amanah, Kreatif dan Bertanggung Jawab

Rekomendasi untuk Anda