Oleh Rohmah Sholihah, aktivis Aqsa Working Group (AWG) Jawa Barat
SUASANA Idul Fitri di Pantai Karapyak, Pangandaran, selalu menjadi simfoni yang terus menyeruak. Debur ombak yang menghantam karang, tawa anak-anak yang berkejaran, dan riuhnya musik-musik populer yang bersahutan dari pengeras suara warung-warung pesisir. Bagi para wisatawan yang datang, laut adalah jeda yang syahdu untuk meluruhkan lelah.
Namun, di tengah kenyamanan liburan yang lazim itu, sebuah pertemuan sederhana mengubah cara saya memaknai “kemenangan” Idul Fitri tahun ini. Di tengah kerumunan wisatawan yang sibuk meminta lagu-lagu hits yang sedang viral atau tembang cinta yang mendayu, muncul seorang pengamen dengan penampilan yang memutus arus utama.
Ia tidak datang menawarkan hiburan yang sekadar lewat di telinga. Di atas kaus lusuhnya yang terpanggang matahari, tertera sebuah pesan yang berteriak dalam diam: “Freedom Palestine.”
Baca Juga: Ketua Maemuna Center Indonesia: Palestina Ujian bagi Nurani
Kehadirannya adalah sebuah interupsi nurani. Saat pengamen lain di sepanjang pesisir mungkin lebih memilih mengikuti selera pasar demi lembaran rupiah yang lebih pasti, lelaki ini memilih jalan yang sunyi dan idealis.
Ketika saya memintanya membawakan lagu tentang Palestina, ia sempat terdiam, menatap cakrawala sejenak. Ia mengaku jujur tidak hafal seluruh lirik lagu perjuangan itu, namun ia menawarkan apa yang ia punya: sebuah ketulusan yang murni.
Ia mulai memetik gitarnya. Bukan irama riang yang biasanya diminta para pelancong, melainkan sebuah nada yang membawa beban sejarah. Meskipun liriknya tak utuh, setiap denting gitarnya terasa seperti detak jantung yang sedang berjuang penuh.
Ada frekuensi yang berbeda dalam suaranya, yaitu sebuah vibrasi yang lahir dari empati mendalam. Di tengah keriuhan wisatawan yang berdendang lagu-lagu duniawi, ia justru melantunkan melodi perjuangan yang melintasi batas samudera.
Baca Juga: Sarbini Abdul Murad: Panas di Monas Tak Seberapa Dibanding Gaza
Irama itu mengalun di sela deru ombak pantai Karapyak, seolah ingin mengirimkan pesan ke seberang lautan sana. Mendengarnya, pikiran saya terbang jauh ke tanah para nabi.
Saya membayangkan jika lagu Mawtini himne yang membakar semangat rakyat Palestina dengan bergema di sini. “Mawtini… Mawtini… Al-shababoo lan yakilla, tastaqilla aw yabid,” (Tanah airku… Pemuda kami takkan lelah, sampai kemerdekaan diraih atau kami binasa).
Betapa ironisnya realitas kontras ini.
Di Karapyak, kita menghirup kemerdekaan dengan lega di bawah langit yang tenang. Sementara di Gaza, setiap detik adalah pertaruhan nyawa. Di sini, suara musik adalah hiburan pemanja telinga; di sana, suara dentuman adalah pengingat akan maut yang setiap saat bisa datang menyapa.
Pengamen ini, dengan segala keterbatasannya, menjalankan tugas kemanusiaan yang paling murni: mengingatkan dunia yang sedang bersenang-senang bahwa ada luka yang belum mengering di belahan bumi lain.Pesannya sangat jelas. Di tengah gempuran budaya pop yang sering kali membuat kita abai, ia memilih untuk tetap menjadi “pengingat”.
Baca Juga: Ahmad Shobri Lubis, Ketua PA 212: Gaza Tetap Teguh, Palestina Segera Merdeka
Ia tidak peduli jika lagu-lagu bertema kemerdekaan Palestina mungkin tidak menghasilkan saweran sebanyak lagu-lagu viral. Baginya, gitar itu adalah senjata, dan lagu itu adalah doa. Ada keberanian yang tenang dalam caranya bernyanyi dengan sebuah bentuk solidaritas tanpa batas dari seorang rakyat jelata di pesisir selatan Jawa untuk saudara-saudaranya di tanah terjajah, bumi Palestina.
Dari momen ini, saya kembali disadarkan bahwa kepedulian tidak mengenal kasta. Seorang pengamen pantai mampu menunjukkan integritas moral yang mungkin sering dilupakan oleh mereka yang berada di ruang-ruang ber-AC.
Ia mengajarkan bahwa mengingat perjuangan Palestina bukan hanya tugas diplomat, melainkan tugas setiap manusia yang masih memiliki detak empati di dadanya, untuk senantiasa bersaura, berada di pihak para pejuang yang tak mengenal lelah dan jeda.
Mendukung mereka yang sedang berjuang di tanah yang terjajah adalah ujian iman yang sesungguhnya. Jangan pernah meremehkan hal-hal kecil, karena dari langkah-langkah kecil seperti inilah hati yang besar tumbuh menjadi empati yang menghasilkan aksi nyata.
Baca Juga: Ketua PP Wanita Islam: Dari Monas Kita Ketuk Pintu Langit untuk Kemerdekaan Palestina
Suara pengamen itu, meski sesekali tersamar oleh suara ombak yang menderu, tetap memiliki arti yang dalam. Ia adalah pengingat bahwa di balik ketenangan laut selatan, ada samudera air mata di belahan bumi lain yang masih menanti keadilan.
Matahari mulai tenggelam di ufuk Karapyak, melukis warna jingga di atas air laut. Pengamen itu pun berlalu, berjalan menyusuri garis pantai menuju kerumunan wisatawan lainnya. Ia mungkin akan kembali diabaikan oleh mereka yang hanya ingin “terhibur”. Namun, bagi saya, ia adalah pahlawan tanpa panggung siang itu. Ia telah berhasil menyisipkan sebuah pesan perjuangan di tengah hingar-bingar liburan Lebaran.
Kemanusiaan tidak butuh panggung megah untuk bersuara. Ia hanya butuh hati yang mau mendengar, meski di tengah riuhnya tawa dan debur ombak yang tak pernah usai. Palestina, di tepi Karapyak ini, namamu tetap kami sebut dalam setiap denting nada dan doa.
From the river to the sea, Palestine will be free.
Baca Juga: Orasi Herman Budianto, Alumni Global Sumud Flotilla: Untuk Apa di Sini? Untuk Mendukung Palestina!
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic