Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dinamika Kehidupan Rumah Tangga: Bersama, Tapi Tidak Saling Memahami

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 17 April 2026 - 06:50 WIB

Jumat, 17 April 2026 - 06:50 WIB

30 Views ㅤ

MEREKA duduk bersebelahan, tetapi hati mereka berjauhan. Satu meja, satu rumah, satu arah hidup—namun seakan hidup di dunia yang berbeda.(Foto: ig)

MEREKA duduk bersebelahan, tetapi hati mereka berjauhan. Satu meja, satu rumah, satu arah hidup—namun seakan hidup di dunia yang berbeda. Percakapan ada, tapi tak pernah benar-benar sampai. Senyum ada, tapi terasa hampa. Inilah ironi zaman ini: manusia semakin dekat secara fisik, tetapi semakin asing secara batin.

Kita hidup di era di mana kata-kata begitu mudah diucapkan, namun makna semakin sulit dirasakan. Pesan bisa dikirim dalam hitungan detik, tetapi perasaan sering tertinggal tanpa pernah tersampaikan. Banyak yang merasa didengar, padahal tidak dipahami. Banyak yang terlihat bahagia bersama, padahal diam-diam kesepian di dalamnya. Kebersamaan berubah menjadi rutinitas, bukan lagi kehangatan.

Hubungan yang dulu dibangun dengan kesabaran, kini sering diuji oleh ego yang tak terkendali. Kita lebih cepat menyimpulkan daripada memahami, lebih mudah menilai daripada mendengar. Padahal, memahami bukan sekadar mendengar kata, tapi merasakan luka yang tak terucap, menangkap isyarat yang tak terlihat, dan hadir sepenuh hati tanpa tergesa menghakimi.

Di akhir zaman ini, kesibukan menjadi alasan paling umum untuk abai. Kita sibuk mencari dunia, tetapi lupa merawat jiwa orang-orang terdekat. Ironisnya, kita bisa begitu ramah kepada orang luar, tetapi begitu keras kepada mereka yang paling dekat. Kita tahu cara menyenangkan orang lain, tapi lupa cara menjaga hati pasangan, anak, sahabat, bahkan orang tua sendiri.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Ketika pemahaman hilang, yang tersisa hanyalah prasangka. Ketika empati memudar, yang tumbuh adalah jarak. Banyak hubungan tidak hancur karena kebencian, tetapi karena ketidakpedulian yang perlahan membeku. Tidak ada pertengkaran besar, hanya diam yang terlalu lama. Tidak ada perpisahan yang dramatis, hanya hati yang pelan-pelan berhenti merasa.

Padahal, memahami adalah bentuk cinta yang paling dalam. Ia tidak selalu terlihat, tidak selalu terdengar, tapi sangat terasa. Memahami adalah memilih untuk tetap lembut saat ego ingin menang, tetap sabar saat lelah, dan tetap hadir saat dunia terasa berat. Ia adalah keputusan sadar untuk tidak sekadar bersama, tetapi benar-benar membersamai.

Mungkin hari ini kita masih bersama, tapi sudahkah kita saling memahami? Atau jangan-jangan kita hanya berbagi ruang, tanpa pernah benar-benar berbagi jiwa? Jika masih ada waktu, belajarlah kembali memahami. Dengarkan dengan hati, bukan sekadar telinga. Karena pada akhirnya, yang membuat hubungan bertahan bukanlah lamanya kebersamaan, tetapi dalamnya pemahaman.

Namun, Islam sejak awal telah meletakkan fondasi hubungan bukan hanya pada kebersamaan fisik, tetapi pada tafahum (saling memahami) dan tarahum (saling menyayangi). Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21 bahwa di antara tanda kekuasaan-Nya adalah dijadikannya pasangan hidup agar manusia mendapatkan sakinah, lalu ditanamkan mawaddah dan rahmah. Ayat ini bukan sekadar tentang cinta, tetapi tentang ketenangan yang lahir dari saling memahami. Tanpa pemahaman, cinta akan rapuh. Tanpa empati, kasih sayang akan kering.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi dalam hal ini. Beliau tidak hanya mendengar, tetapi memahami. Ketika istrinya berbicara, beliau hadir sepenuh hati. Dalam sebuah riwayat, beliau bahkan bisa mengetahui perasaan Aisyah hanya dari cara ia memanggil nama beliau. Ini bukan sekadar kecerdasan emosional, tetapi buah dari perhatian yang tulus. Betapa jauh kita hari ini—kita mendengar kata, tetapi gagal membaca rasa.

Para ulama pun mengingatkan bahwa inti dari hubungan adalah adab hati. Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah berkata, “Kebaikan akhlak itu bukan hanya menahan gangguan, tetapi juga bersabar atas ketidaktahuan orang lain.” Dalam rumah tangga, dalam persahabatan, dalam perjuangan—akan selalu ada kekurangan. Namun yang memperpanjang umur hubungan bukanlah kesempurnaan, melainkan kelapangan dada dalam memahami.

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله juga memberi pelajaran yang dalam, “Pendapatku benar tapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.” Jika prinsip ini hidup dalam hubungan, maka ego akan luluh. Kita tidak lagi memaksakan diri untuk selalu benar, tetapi belajar membuka ruang untuk memahami. Karena sering kali, konflik bukan karena perbedaan yang besar, tetapi karena hati yang sempit untuk menerima.

Lebih jauh, Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa hati manusia itu seperti bejana—ia akan penuh dengan apa yang sering dimasukkan ke dalamnya. Jika hati dipenuhi prasangka, maka setiap sikap orang lain akan ditafsirkan negatif. Namun jika hati dipenuhi husnuzhan (prasangka baik), maka kekurangan akan dimaklumi, dan kesalahan akan dimaafkan. Di sinilah pentingnya membersihkan hati, agar kita mampu memahami dengan jernih, bukan dengan luka.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Maka, jika hari ini kita merasa hubungan mulai hambar, jangan buru-buru menyalahkan keadaan atau orang lain. Bisa jadi yang hilang bukan cinta, tetapi pemahaman yang tidak lagi diperjuangkan. Duduklah sejenak, renungkan, dan mulai kembali dari hal sederhana: mendengar tanpa menyela, memahami tanpa menghakimi, dan mencintai tanpa syarat berlebihan. Karena pada akhirnya, di dunia yang semakin bising ini, jiwa-jiwa tidak butuh sekadar ditemani—tetapi ingin benar-benar dipahami, wallahua’lam.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia