Doa 10 Hari Terakhir, Mengapa Fa’fuanni Bukan Faghfirli?

Oleh: Nurhadis, Kepala Biro Sumatera Kantor Berita Islam MINA

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1} وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ {2} لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ {3} تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ {4} سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ {5}‏

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Al-Qadr adalah surat Makiyyah yang diturunkan sebelum hijrah. Dinamakan Al-Qadr karena surat ini menerangkan keutamaan dan tingginya kedudukan Al-Qur’an yang diturunkan pada malam yang sangat mulia dan penuh keberkahan yang disebut dengan Lailatul Qadr.

Lailatul Qadr merupakan malam penuh berkah dan kemuliaan. Beribadah pada malam tersebut lebih baik ketimbang beribadah di bulan lain, sekalipun selama seribu bulan. Maka jika kita mendapatkan malam itu, selain diampuni dosa-dosa kita, ibadah yang satu malam tersebut mendapatkan balasan pahal setimpal dengan beribadah selama 1.000 bulan atau seperti beribadah 83 tahun 4 bulan. Begitulah cara Allah SWT mengistimewakan malam ini. Tetapi, tidak ada satupun yang mengetahui kapan waktu pasti kehadirannya.

Lailatul Qadr ada di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Dari ‘Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR. Al-Bukhari).

Itulah mengapa Nabi Muhammad saw melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau melakukannya sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat. (HR. Muslim).

Pada 10 hari terakhir Ramadhan ini, selain dianjurkan untuk memperbanyak ibadah tahajud, dzikir, membaca Al-Qur’an, juga berdoa kepada Allah, Rasulullah mengajarkan doa yang harus banyak dibaca, karena boleh jadi pada 10 hari terakhir ini kita mendapatkan Lailatul Qadr tersebut.

Diriwayatkan Aisyah Radhiallahu ‘anha ketika ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa apa yang sebaiknya dibaca ketika mengetahui malam Lailatul Qadar. Kemudian, Rasulullah SAW bersabda:

“Berdoalah,  Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku.” (H.R Tirmidzi, Ibnu Majah).

Pertanyaannya kemudian, “Mengapa doa yang dianjurkan adalah فَاعْفُ عَنِّى (maafkan aku) bukan فاغفر لي (ampunilah aku)?”.

‘Afwun memiliki tekanan makna yang sedikit berbeda dengan maghfirah‘Afwun lebih diartikan menghapus sedangkan maghfirah dimaknai sebagai menutup. Tentu berbeda antara menghapus dan menutup. Kita bisa analogikan saat menulis sebuah tulisan menggunakan tinta hitam di whiteboard. Menutup tulisan bertinta hitam tersebut tidak menghilangkan tulisannya. Namun menghapus akan sama sekali menghilangkan tulisan tersebut dari whiteboard.

Jadi, ketika kita meminta ‘afwun kepada Allah, artinya kita meminta penghapusan dosa sampai hilang tak berbekas sehingga Allah batal menghukumi dosa kita tersebut. Berbeda ketika kita meminta maghfirah kepada Allah, hal itu bermakna kita meminta agar ditutup dosa-dosa kita, sehingga selamat dari ditampakkannya aib kita di dunia, selamat dari dipermalukan di hari penghisaban, dan penggantian dosa dengan pahala dari Allah SWT.

Meminta ‘afwun pada Lailatul Qadr  lebih relevan jika dikaitkan dengan keistimewaan Lailatul Qadr sebagai malam penentuan takdir. Para ulama menjelaskan, malam Lailatul Qadr adalah malam ditentukannya takdir, rizki dan ajal sampai setahun ke depan.

An-Nawawi berkata,“Para ulama berkata, dikatakan Lailatul Qodar karena pada malam itu ditulis takdir-takdir, rezeki-rezeki dan ajal-ajal untuk dibawa para malaikat yang akan terjadi pada tahun tersebut (setahun yang akan datang) sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah ‘FIHA YUFROQU KULLU AMRIN HAKIM’ (pada Lailatul Qodar itu ditetapkan semua perkara yang sempurna), dan firman Allah, ‘TANAZZALUL MALAIKATU WARRUHU FIHA BI IDZNI ROBBIHIM MIN KULLI AMRIN (pada Lailatul Qadr itu para malaikat dan Jibril turun dengan izin Rabbnya untuk menjalankan setiap perintah), maknanya, Allah menampakkan kepada para malaikat di malam itu perkara yang akan terjadi dan memerintahkan mereka untuk melakukan apa yang menjadi tugas mereka.” (Al-Minhaj, Syarah An-Nawawi ‘Ala Muslim, juz 8 hlm 57).

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa musibah-musibah dan keburukan itu adalah disebabkan dosa dan maksiat yang dilakukan seorang hamba. Allah berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} [الشورى: 30

“Musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan tangan kalian (sendiri)-yakni dosa-dosa dan maksiat- dan Allah memaafkan banyak (dosa-sehingga tidak dihukum-)” (Q.S. Asy-Syuro; 30).

Karena itu, bisa jadi karena dosa kita yang banyak, kemudian Allah takdirkan kita sakit, kecelakaan, sulit punya anak, susah menikah, bangkrut usahanya, berat beribadah, disibukkan hanya dengan urusan dunia, dan lain sebagainya. Maka ketika kita meminta ‘afwun, Allah hapuskan dosa kita sampai hilang tak berbekas, sehingga Allah tidak menakdirkan musibah-musibah dan keburukan tersebut terjadi kepada diri kita.

Betapa luar biasanya doa ini, seolah-olah semua warna kehidupan, kejadian, anugerah, musibah, kebahagiaan, dan kesengsaraan hidup yang akan kita alami setahun ke depan, semuanya tergantung pada doa yang kita baca pada Lailatul Qadr  yang kita cari secara serius dengan beriktikaf pada 10 hari terakhir ini. (A/B03/P2)

Mi’raj News Agency (MINA).