Gaza, MINA – Di tengah kehancuran akibat perang, laporan lapangan menunjukkan warga harus mengantre berjam-jam setiap hari demi mendapatkan air dari truk distribusi. Setiap truk hanya membawa sekitar 10.000 liter air untuk dibagi kepada dua kamp pengungsi yang masing-masing menampung lebih dari 800 orang.
Krisis air di Jalur Gaza kini berkembang menjadi bencana kemanusiaan yang mengancam kehidupan jutaan warga. Infrastruktur yang hancur dan lonjakan jumlah pengungsi membuat akses air bersih menurun drastis hingga ke tingkat yang membahayakan. Palinfo melaporkan, Selasa (21/4).
Akibatnya, setiap individu hanya memperoleh kurang dari 10 liter air per hari, jauh di bawah standar minimum internasional sebesar 50 hingga 100 liter.
“Air yang kami dapat tidak cukup bahkan untuk kebutuhan dasar,” kata Ismail Abu Awda, seorang pengungsi yang harus mencukupi kebutuhan tujuh anggota keluarganya.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Sebelum perang, Gaza memproduksi sekitar 100.000 meter kubik air per hari. Kini, jumlah itu merosot tajam menjadi hanya 35.000 meter kubik. Direktur Perencanaan Kota Gaza, Maher Salem, menyebut konsumsi air per kapita turun dari 80 liter menjadi kurang dari 10 liter, bahkan kadang hanya dua liter.
Kerusakan parah pada sumur dan pabrik desalinasi, termasuk penghancuran fasilitas di Gaza utara, memperburuk situasi. Pemerintah setempat kini hanya mampu mengoperasikan 35 sumur, dengan bantuan sekitar 1.300 pompa celup.
Di kamp-kamp pengungsian, warga menghadapi kondisi yang semakin berat. Um Ziad Abed (63) menceritakan perjuangannya mengangkut air untuk cucu-cucunya. Air yang tersedia tidak layak konsumsi dan menyebabkan penyakit, namun tetap digunakan karena tidak ada pilihan lain.
Bahaya juga mengintai para pekerja distribusi air. Ashraf al-Kafarna, seorang pengemudi truk, mengungkapkan bahwa proses pengisian air sering dilakukan di dekat posisi militer, membuat mereka rentan ditembak kapan saja. Bahkan, seorang pengemudi dan saudaranya dilaporkan tewas dalam insiden serupa pekan lalu.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Di wilayah seperti Tel al-Hawa dan Al-Mawasi, kondisi semakin kritis. Pompa air hanya beroperasi satu jam per hari untuk ribuan pengungsi. Di kamp Qadisiyah, satu keluarga hanya menerima sekitar 60 liter air per hari untuk semua kebutuhan.
Organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa krisis ini dapat memicu wabah penyakit dan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Banyak pihak menilai pembatasan akses air dan penghancuran infrastruktur sipil merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
















Mina Indonesia
Mina Arabic