Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

sri astuti Editor : Rudi Hendrik - Senin, 5 Oktober 2026 - 21:48 WIB

Senin, 5 Oktober 2026 - 21:48 WIB

27 Views ㅤ

Gadi Eisenkot, pemimpin partai oposisi Israel Yashar. (Foto: Begin-Sadat Center for Strategic Studies)

Tel Aviv, MINA – Gadi Eisenkot, pemimpin partai oposisi Israel Yashar, mengatakan pada hari Ahad (4/10) bahwa penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza bisa memakan waktu bertahun-tahun dan bergantung pada dipenuhinya tuntutan Israel.

Menanggapi pertanyaan dalam siniar “All In” mengenai kapan tentara Israel terakhir akan meninggalkan Gaza, Eisenkot berkata: “Penarikan penuh dari seluruh Jalur Gaza akan memakan waktu bertahun-tahun, dan hal itu hanya akan terjadi jika semua tuntutan kami dipenuhi.” Demikian dikutip dari MEMO.

Pandangannya berbeda dengan jadwal penarikan yang digariskan dalam rencana Presiden AS Donald Trump untuk Gaza.

Kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza yang didasarkan pada rencana Trump mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Tahap kedua rencana tersebut mencakup pengaturan pelucutan senjata faksi-faksi Palestina, pengerahan pasukan stabilisasi internasional, pengelolaan Gaza melalui komite teknokrat Palestina, dan dimulainya rekonstruksi, serta penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah-wilayah yang mereka kuasai di kawasan tersebut.

Menurut laporan tersebut, militer Israel saat ini menguasai sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza.

Pada 30 Juli, Dewan Perdamaian (Peace Council) mengumumkan peta jalan 15 poin untuk pelaksanaan tahap kedua. Rencana tersebut mencakup pelucutan senjata Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya, pengalihan administrasi Gaza kepada “Komite Nasional”, serta pelaksanaan penarikan pasukan Israel secara bertahap.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak peta jalan tersebut pada 9 Agustus, dengan bersikeras bahwa pelucutan senjata secara menyeluruh harus dilakukan sebelum penarikan pasukan Israel apa pun.

Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel

Hamas kemudian menyerukan tindakan internasional untuk mendesak Israel agar melaksanakan peta jalan tersebut dan menegaskan kembali komitmennya terhadap pengaturan yang menurut mereka telah disepakati bersama para mediator dan Dewan Perdamaian. []

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat

Rekomendasi untuk Anda