Paris, MINA – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara Eropa mulai memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko kebakaran hutan dan tekanan terhadap pasokan energi di kawasan tersebut.
Suhu tinggi yang datang lebih awal dari biasanya bahkan menyebabkan beberapa wilayah mencatat rekor temperatur tertinggi untuk bulan Mei.
Badan meteorologi Eropa melaporkan suhu di sejumlah kota di Spanyol, Portugal, Italia, dan Prancis melampaui rata-rata normal musiman. Al-Jazeera melaporkan, Rabu (27/5).
Kondisi panas berkepanjangan membuat pemerintah setempat mengeluarkan peringatan kesehatan bagi masyarakat, terutama lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan yang rentan terdampak cuaca ekstrem.
Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon
Selain ancaman kesehatan, suhu tinggi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan di kawasan Eropa Selatan yang dalam beberapa tahun terakhir kerap mengalami musim panas ekstrem.
Otoritas pemadam kebakaran di beberapa negara telah meningkatkan status siaga karena cuaca panas dan angin kering dinilai dapat mempercepat penyebaran api di area hutan maupun lahan pertanian.
Gelombang panas turut memengaruhi sektor energi akibat lonjakan penggunaan pendingin udara di berbagai negara.
Permintaan listrik yang meningkat tajam dikhawatirkan membebani jaringan energi Eropa, terutama di tengah upaya sejumlah negara mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menghadapi tantangan pasokan energi pascakonflik geopolitik global.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Para ilmuwan iklim menilai fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di Eropa berkaitan erat dengan dampak perubahan iklim global.
Badan iklim Uni Eropa Copernicus sebelumnya menyebut beberapa tahun terakhir sebagai periode terpanas dalam sejarah pencatatan modern, ditandai dengan meningkatnya gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan di berbagai wilayah dunia.
Pengamat lingkungan memperingatkan bahwa gelombang panas yang datang lebih cepat dari pola normal dapat berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi.
Mereka menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa negara-negara dunia perlu mempercepat langkah mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim yang semakin nyata.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic