Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Generasi yang Sibuk Scroll, Tapi Lupa Sujud

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Senin, 18 Mei 2026 - 08:18 WIB

Senin, 18 Mei 2026 - 08:18 WIB

64 Views ㅤ

KITA hidup di zaman yang aneh. Jari semakin aktif, tapi hati semakin pasif. Mata terus terbuka menatap layar, tetapi ruh justru tertidur lelap.(Foto: ig)

KITA hidup di zaman yang aneh. Jari semakin aktif, tapi hati semakin pasif. Mata terus terbuka menatap layar, tetapi ruh justru tertidur lelap. Setiap hari manusia sibuk menggulir layar demi layar, dari satu video ke video lain, dari satu hiburan ke hiburan berikutnya. Waktu habis tanpa terasa. Tiba-tiba adzan berkumandang, namun tangan masih enggan melepaskan gadget. Ironisnya, notifikasi media sosial lebih cepat direspons daripada panggilan Allah Azza wa Jalla.

Generasi hari ini sangat cepat mengetahui berita artis, hafal tren terbaru, tahu siapa yang viral, tetapi lupa berapa rakaat shalat terakhirnya. Lidah mudah menyebut nama idolanya, namun berat bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Hati terasa dekat dengan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya, tetapi terasa jauh dari Allah yang setiap saat memberinya kehidupan.

Media sosial sebenarnya hanyalah alat. Ia bisa menjadi jalan pahala, bisa pula menjadi pintu dosa. Namun masalah terbesar hari ini bukan sekadar teknologinya, melainkan manusia yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Banyak orang tidak lagi membuka HP karena kebutuhan, tetapi karena kecanduan. Bangun tidur yang dicari pertama kali adalah notifikasi, bukan doa. Sebelum tidur yang terakhir disentuh adalah layar, bukan mushaf Al-Qur’an.

Padahal hidup ini sangat singkat. Umur terus berjalan meski tubuh sedang rebahan. Waktu terus berkurang meski seseorang merasa santai. Banyak orang tertawa di depan layar, namun sebenarnya hatinya kosong dan lelah. Sebab hiburan tanpa iman tidak pernah benar-benar menenangkan. Ia hanya membuat lalai sesaat, lalu gelisah kembali.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Hari ini kita menyaksikan generasi yang mudah tersinggung, mudah marah, sulit fokus, malas berpikir mendalam, dan kehilangan arah hidup. Salah satu sebabnya karena hati terlalu penuh oleh dunia digital, tetapi miskin dzikir dan tadabbur. Scroll tanpa henti membuat manusia sulit menikmati keheningan. Bahkan sebagian orang tidak kuat beberapa menit tanpa memegang HP. Seolah dunia runtuh jika jauh dari internet.

Lebih menyedihkan lagi, banyak yang malu jika tertinggal tren, tetapi tidak malu meninggalkan shalat. Takut dianggap tidak gaul, tetapi tidak takut ketika namanya tercatat sebagai orang yang lalai dari sujud. Padahal sujud adalah kemuliaan seorang mukmin. Ketika dahi menempel ke tanah, justru di situlah derajat manusia diangkat oleh Allah.

Rasulullah ﷺ tidak mewariskan hiburan berlebihan kepada umatnya. Beliau mewariskan hati yang hidup, mata yang mudah menangis, dan jiwa yang dekat dengan Allah. Para sahabat dahulu menangis karena takut tidak diterima amalnya. Sedangkan manusia hari ini lebih sering menangis karena kuota habis, baterai lowbat, atau akun media sosialnya sepi perhatian.

Kita tidak sedang mengatakan bahwa semua teknologi itu haram. Tidak. Banyak dakwah tersebar lewat internet. Banyak ilmu sampai kepada manusia melalui media digital. Namun yang berbahaya adalah ketika gadget lebih menguasai hati daripada iman. Ketika scroll lebih panjang daripada sujud. Ketika waktu untuk konten jauh lebih banyak daripada waktu membaca Al-Qur’an.

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Coba renungkan. Berapa jam sehari kita menatap layar? Dan berapa menit kita benar-benar khusyuk menghadap Allah? Berapa banyak video yang sudah ditonton? Dan berapa ayat yang sudah direnungkan? Berapa kali kita tertawa karena hiburan? Dan berapa kali kita menangis karena dosa?

Inilah fitnah akhir zaman. Manusia dibuat sibuk dengan hal-hal yang tidak penting hingga lupa tujuan hidupnya. Syaitan tidak selalu menyuruh manusia menjadi kafir secara terang-terangan. Kadang cukup dibuat lalai, sibuk, dan tenggelam dalam dunia yang membuat hati keras perlahan-lahan.

Maka sebelum semuanya terlambat, kembalilah. Kurangi hal yang tidak bermanfaat. Gunakan media sosial seperlunya, bukan sepenuhnya. Jangan biarkan hidup habis hanya untuk menjadi penonton kehidupan orang lain. Bangun kembali hubungan dengan Allah. Biasakan shalat tepat waktu. Perbanyak membaca Al-Qur’an. Duduk bersama orang-orang shalih. Matikan HP beberapa saat agar hati bisa kembali mendengar suara nurani.

Sebab kelak di hari kiamat, yang ditanya bukan berapa banyak followers kita, tetapi bagaimana shalat kita. Bukan seberapa viral diri kita, tetapi seberapa ikhlas amal kita. Kuburan tidak peduli status sosial media seseorang. Yang menerangi alam kubur hanyalah iman dan amal shalih.

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

Jangan sampai kita menjadi generasi yang jarinya aktif, tetapi hatinya mati. Sibuk scroll setiap hari, namun lupa bersujud kepada Rabb semesta alam. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukan sinyal internet, melainkan hubungan yang kuat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menjaga hati kita di tengah derasnya fitnah dunia digital, menjadikan gadget sebagai alat kebaikan, bukan sumber kelalaian, dan menjadikan kita hamba-hamba yang lebih banyak sujud daripada sibuk mengejar dunia yang fana. Aamiin.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal

Rekomendasi untuk Anda

MINA Edu
Artikel
Artikel
Artikel
Mengapa Umat Islam Harus Peduli dengan Isu Fitrah?
Tausiyah
Waspada! Penyakit yang Tak Terlihat Namun Mematikan
Tausiyah