HARI ini, pelan-pelan, lembar-lembar di penanggalan usang bergulir menuju babak baru. Bulan Muharram, bulan yang suci, bulan yang Allah sendiri namai sebagai “Syahrullah,” Bulan Allah, telah tiba di ambang pintu.
Hari ini, umat Islam di seluruh dunia menapakkan kaki pada 1 Muharram 1448 Hijriah. Bukan sekadar angka yang berganti. Ia adalah napas kedua, kesempatan baru, dan panggilan untuk berhijrah. Bukan hijrah fisik dari satu kota ke kota lain, melainkan hijrah hakiki, perpindahan dari kegelapan menuju cahaya yang terang, hijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah meninggalkan larangan Allah berganti ke perintah Allah.
Hijrah Kemenangan Sejati
Hijrah bukan sekadar catatan sejarah tentang bagaimana prosesi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berpindah dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah kode Ilahi bahwa seorang mukmin sejati tidak boleh tinggal diam di tanah kehinaan, menyerah pada tekanan, atau larut dalam kemaksiatan.
Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas
Hijrah yang hakiki adalah meninggalkan apa yang dilarang Allah menuju apa yang diperintahkan-Nya. Hijrah adalah keberanian untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan mulia. Hijrah adalah tekad untuk memutus lingkaran perpecahan dan merajut kembali persatuan.
Di dalam hadits dikatakan:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangan (perbuatannya). Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang Allah”. (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).
Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi
Kalender Islam sebagai Identitas Ibadah
Tahukah kita mengapa Allah menciptakan pergantian bulan dan tahun? Salah satunya adalah agar kita mengenal waktu-waktu ibadah. Kalender Hijriah bukanlah warisan budaya Arab. Ia adalah sistem waktu yang di dalamnya mengalir denyut spiritual umat.
Ramadhan tiba, kita berpuasa. Syawal datang, kita berbahagia di hari fitri. Dzulhijjah menjelang, kita wukuf, berkurban, dan merayakan Idul Adha. Muharram menyapa, kita disunnahkan berpuasa Asyura dan memulai lembaran hidup baru. Rajab dan Sya’ban menjadi pengantar menuju bulan suci. Itu semua menggunakan Kalender Hijriyah.
Maka, alangkah ruginya jika sebagai Muslim, kita tidak akrab dengan kalender kita sendiri. Menggunakan kalender Hijriah dalam aktivitas sehari-hari, menempelkannya di dinding, mencantumkannya dalam catatan, atau mendahulukan penyebutan Hijriah sebelum Masehi dalam persuratan atau di spanduk background panggung, adalah bentuk kecintaan kepada syariat Islam itu sendiri dan upaya menghidupkan peradaban kejayaan Islam.
Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional
Hijrah Terbesar, Bebaskan Al-Aqsha dan Palestina
Puncak dari segala hijrah adalah ketika umat Islam benar-benar bersatu untuk tujuan yang lebih besar, yakni membebaskan Masjid Al-Aqsha dan memerdekakan Palestina yang terjajah. Selama Baitul Maqdis masih terjajah, noda kehinaan itu akan terus membekas di dahi setiap Muslim yang peduli.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa akan senantiasa ada kelompok umatnya yang berjuang membela Baitul Maqdis. Mereka tidak gentar menghadapi musuh, tidak takut dicela, karena mereka yakin pertolongan Allah akan datang.
Namun kebangkitan itu tidak akan terjadi secara instan. Ia dimulai dari hijrah dalam diri, hijrah dari ketakutan menjadi keberanian, dari kebekuan menjadi gerakan, dari kepedulian menjadi aksi nyata.
Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata
Kepemimpinan dunia saat ini masih dipegang oleh mereka yang menebar kezaliman, bukan rahmat. Lihatlah bagaimana penjajah Zionis dengan brutalnya membantai anak-anak dan kaum Perempuan di Jalur Gaza. Lihatlah bagaimana Masjid Al-Aqsa setiap hari dinodai oleh sepatu-sepatu kotor dan ritual-ritual Talmud Yahudi.
Kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang menebarkan rahmat, bukan ketakutan. Kepemimpinan yang memayungi yang lemah, bukan menindas. Kepemimpinan yang membangun peradaban, bukan menghancurkan. Dan kepemimpinan seperti itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman kepada Allah.
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 107).
Nabi tidak diutus untuk menghancurkan, tetapi untuk menyayangi. Maka kepemimpinan Islam yang hakiki adalah kepemimpinan yang menghidupkan nilai-nilai rahmat, keadilan, dan persaudaraan. Hanya dengan kepemimpinan seperti itulah Al-Aqsa akan bebas, Palestina Merdeka, dan dunia akan damai.
Dan kepemimpinan Islam itu berjalan dalam bingkai kehidupan berjama’ah.
Sebagaimana Allah mengingatkan di dalam Al-Quran:
Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 103).
Tali Allah itu adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Selama umat Islam masih berpegang teguh padanya, selama itu pula persatuan akan terjaga, kekuatan akan hadir, dan kehinaan akan sirna.
Begitulah, bulan Muharram mengajarkan satu hal, waktu terus berjalan. Setahun telah berlalu. Apakah kita berada di titik yang sama? Ataukah kita sudah melompat lebih jauh menuju perbaikan diri, keluarga, dan umat?
Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam
Mari jadikan tahun baru Hijriah ini sebagai titik balik. Berhijrahlah dari perpecahan menuju persatuan. Berhijrahlah dari kemalasan menuju kerja keras untuk tarbiyah, dakwah dan jihad. Berhijrahlah dari keterlenaan menuju kesadaran penuh bahwa Al-Aqsa menangis, dan kita bertanggung jawab untuk mengusap air matanya.
Jangan biarkan 1 Muharram berlalu begitu saja, tanpa perubahan berarti dalam diri. Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriah. Semoga kita menjadi hamba yang lebih baik, umat yang lebih kuat, dan pembela kebenaran yang lebih gigih.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic