Washington, MINA – Intelijen Amerika Serikat (AS) tengah menyelidiki dugaan penggunaan rudal pertahanan udara buatan China dalam insiden jatuhnya pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik AS di wilayah Iran.
Dugaan tersebut muncul setelah sejumlah sumber keamanan Amerika menyebut pesawat itu kemungkinan ditembak menggunakan rudal portabel yang dipasok Beijing kepada Teheran.
Al-Jazeera melaporkan, Senin (1/6), insiden itu menjadi perhatian besar karena merupakan salah satu kasus langka di mana jet tempur AS berhasil dijatuhkan oleh pihak lawan dalam beberapa dekade terakhir.
Selain rudal portabel atau MANPADS, pejabat AS juga menduga Iran memperoleh dukungan sistem radar peringatan dini yang mampu mendeteksi pesawat tempur canggih.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Washington masih berupaya memastikan asal-usul peralatan tersebut, termasuk apakah sistem itu merupakan pengiriman baru atau bagian dari persenjataan yang telah dimiliki Iran sejak beberapa tahun lalu.
Dalam insiden tersebut, dua awak F-15E berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar setelah pesawat mereka jatuh di wilayah Iran.
Militer AS kemudian melancarkan operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran yang berlangsung selama beberapa hari hingga kedua awak berhasil dievakuasi. Operasi tersebut disebut sebagai salah satu misi penyelamatan paling rumit yang pernah dilakukan pasukan AS di wilayah Iran.
Dugaan keterlibatan persenjataan China menambah dimensi baru dalam rivalitas geopolitik antara Washington dan Beijing. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan Presiden China Xi Jinping telah berjanji tidak mengirim senjata kepada Iran.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Namun, laporan investigasi terbaru memunculkan pertanyaan baru mengenai kemungkinan aliran teknologi dan peralatan militer yang digunakan Teheran selama konflik berlangsung.
Sementara itu, pemerintah China membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa ekspor produk militernya diawasi secara ketat sesuai hukum nasional dan kewajiban internasional.
Insiden jatuhnya F-15E dapat menjadi indikator perubahan keseimbangan militer di Timur Tengah. Selain memperlihatkan meningkatnya kemampuan pertahanan udara Iran.
Kasus itu juga berpotensi memperburuk hubungan AS-China yang saat ini telah dibayangi persaingan di bidang perdagangan, teknologi, dan keamanan global. []
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic