Teheran, MINA – Iran menetapkan sejumlah syarat kepada Amerika Serikat (AS) sebelum bersedia membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional.
Tuntutan tersebut mencakup penghentian blokade laut AS, penarikan pasukan militer, pencabutan sanksi, hingga kompensasi atas kerugian akibat konflik. Press TV melaporkan, Ahad (9/8).
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr menyampaikan tuntutan tersebut melalui media pemerintah Iran. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama Washington belum mengubah kebijakannya terhadap Teheran.
Iran juga meminta AS mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan serta menghentikan ancaman dan serangan terhadap negara maupun kelompok yang menjadi sekutunya di kawasan.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Pernyataan itu muncul ketika Iran dan Oman tengah membahas kerangka pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Oman berlangsung positif dan hampir mencapai kesepakatan. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan dengan Oman saja belum cukup untuk memastikan pembukaan kembali selat tersebut.
Oman sebelumnya mengajukan gagasan pengelolaan regional terhadap jalur strategis tersebut. Perundingan ini menjadi salah satu bagian penting dalam upaya meredakan konflik Iran-AS yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Pemerintah Oman menyebut pembicaraan berlangsung positif dan konstruktif, sementara Iran masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan yang diajukannya kepada Washington.
Selat Hormuz memiliki posisi sangat penting bagi perdagangan energi dunia. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut pada paruh pertama 2025, setara sekitar 20 persen konsumsi petroleum cair dunia.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Gangguan berkepanjangan di jalur ini berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan tekanan terhadap harga energi global.
Situasi tersebut membuat pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam upaya penyelesaian konflik di kawasan.
Di satu sisi, pembicaraan Iran-Oman menunjukkan adanya ruang diplomasi, tetapi di sisi lain tuntutan Teheran terhadap Washington menunjukkan bahwa kesepakatan final masih menghadapi hambatan. Karena itu, jalur pelayaran strategis tersebut belum dapat dipastikan kembali normal dalam waktu dekat. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic