Teheran, MINA – Militer Iran menyatakan tujuh personelnya tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka setelah sebuah kompleks militer di Kota Bampur, Provinsi Sistan dan Baluchestan, dihantam serangan rudal yang disebut dilancarkan Amerika Serikat pada Rabu (15/7) dini hari.
Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang terus memanas antara Teheran dan Washington. Press TV melaporkan.
Menurut laporan media pemerintah Iran, IRIB, sebanyak 13 rudal menghantam kawasan permukiman dan fasilitas akomodasi milik salah satu barak pasukan darat Iran.
Militer Iran menyebut tujuh anggota Brigade 388 gugur dalam serangan tersebut, sementara sejumlah personel lainnya kini menjalani perawatan akibat luka-luka. Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai tingkat kerusakan fasilitas militer maupun kemungkinan adanya korban sipil.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Serangan tersebut terjadi sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran akan terus ditingkatkan.
Trump juga mengancam akan memperluas sasaran serangan ke berbagai infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan mengenai penyelesaian konflik.
Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan gelombang baru operasi militer yang menargetkan sejumlah instalasi pertahanan Iran di berbagai wilayah pesisir selatan.
Washington menyatakan serangan itu ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam keamanan pelayaran internasional, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Di pihak lain, Iran menegaskan akan memberikan respons terhadap setiap serangan yang mengancam kedaulatan negaranya.
Ketegangan kedua negara dalam beberapa pekan terakhir telah diwarnai aksi saling serang terhadap fasilitas militer dan infrastruktur strategis, sehingga meningkatkan kekhawatiran masyarakat internasional akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah serta terganggunya jalur distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz.
Sejumlah negara dan organisasi internasional terus menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi.
Eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat dinilai berpotensi memicu instabilitas regional yang lebih luas, tidak hanya dari sisi keamanan, tetapi juga terhadap perdagangan global dan pasokan energi internasional yang bergantung pada stabilitas kawasan Teluk. []
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya
















Mina Indonesia
Mina Arabic