Tel Aviv, MINA – Israel bersiap menggelontorkan hampir tiga perempat miliar dolar untuk mesin propagandanya. Ini tanda kekhawatiran Tel Aviv atas runtuhnya citra globalnya pasca genosida di Gaza dan meluasnya perang di kawasan.
Menurut The Jerusalem Post, Rabu (6/5), anggaran hasbara atau diplomasi publik Israel naik menjadi 730 juta dolar AS atau sekitar Rp12,7 triliun. Jumlah ini lebih dari empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 150 juta dolar. Padahal, anggaran tahun lalu itu sendiri sudah sekitar 20 kali lebih tinggi dari pengeluaran Israel sebelum 2023 untuk propaganda.
Kenaikan besar ini dimasukkan dalam anggaran nasional Israel yang disahkan pada Maret lalu. Dana akan disalurkan melalui direktorat diplomasi publik nasional yang bertugas membentuk opini publik asing.
Melonjaknya anggaran propaganda ini terjadi saat Israel semakin dipandang oleh para kritikus dan organisasi hak asasi manusia sebagai negara paria.
Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera
Kenaikan anggaran ini mencerminkan ketakutan Israel bahwa kemampuannya untuk mengandalkan dukungan politik Barat mulai melemah. Terutama di AS, sekutu dan pemasok senjata terpenting Israel, di mana dukungan publik telah turun drastis.
Sebuah jajak pendapat Pew Research Center yang diterbitkan pada April menemukan bahwa 60 persen orang dewasa AS kini memiliki pandangan tidak baik terhadap Israel, naik dari 53 persen tahun lalu dan hampir 20 poin lebih tinggi daripada tahun 2022. Hanya 37 persen yang memandang Israel secara positif. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic