Al-Quds, MINA — Hubungan Israel dan Inggris memasuki fase tegang setelah Israel mengumumkan penutupan konsulat Inggris di Yerusalem Timur sebagai respons terhadap kebijakan London yang melarang perdagangan barang dari permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengumumkan langkah tersebut pada Selasa (8/9), selain melarang sejumlah warga dan pejabat Inggris memasuki Israel. Media KAN melaporkan.
Israel juga akan menghentikan pelatihan Inggris terhadap pasukan keamanan Otoritas Palestina serta mengeluarkan perwakilan Inggris dari misi koordinasi untuk Gaza.
Saar menilai kebijakan Inggris sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri Israel. Pemerintah Israel menyatakan tindakan London tidak dapat diterima, sementara keputusan pembalasan tersebut telah dikoordinasikan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Sebelumnya, Inggris, Prancis dan Kanada menyatakan akan mengambil langkah nasional untuk melarang perdagangan barang yang berasal dari permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Kebijakan itu merupakan bagian dari pernyataan bersama 12 negara yang menilai perluasan permukiman dan kekerasan pemukim semakin mengancam prospek solusi dua negara.
Selain tiga negara tersebut, Denmark, Finlandia, Islandia, Irlandia, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol dan Swedia turut menyatakan niat untuk memperkenalkan atau mendukung pembatasan perdagangan terhadap barang dari permukiman yang dinilai ilegal menurut hukum internasional. Beberapa negara bahkan telah lebih dahulu mengambil langkah serupa.
Inggris juga memperluas tekanannya dengan menjatuhkan sanksi terhadap individu dan entitas yang dinilai terkait aktivitas permukiman. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyatakan pemerintahnya tidak ingin berhenti pada kecaman, terutama ketika perluasan permukiman dan kekerasan terhadap warga Palestina terus berlangsung.
Eskalasi tersebut menunjukkan semakin lebarnya jarak diplomatik antara London dan Tel Aviv terkait kebijakan Israel di Tepi Barat. Sementara Israel menilai sanksi sebagai tindakan campur tangan, Inggris dan sejumlah negara Eropa memandang tekanan ekonomi sebagai upaya mempertahankan peluang terbentuknya negara Palestina dan solusi dua negara. []
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic